{"id":342470,"date":"2025-06-21T12:02:41","date_gmt":"2025-06-21T05:02:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=342470"},"modified":"2025-06-21T12:02:41","modified_gmt":"2025-06-21T05:02:41","slug":"betapa-jahatnya-orang-yang-ngatain-anak-daerah-gara-gara-ppkb-ui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/betapa-jahatnya-orang-yang-ngatain-anak-daerah-gara-gara-ppkb-ui\/","title":{"rendered":"Betapa Jahatnya Orang yang Ngatain Anak Daerah Gara-gara PPKB UI, Orang Luar Jakarta Juga Berhak Masuk UI!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cukup senang melihat linimasa media sosial X belakangan ini. Banyak anak-anak SMA, utamanya dari daerah, yang menyebarkan berita kelolosan mereka masuk UI melalui jalur PPKB (Prestasi dan Pemerataan Kesempatan Belajar) yang merupakan salah satu jalur tanpa tes yang diselenggarakan oleh PTN tujuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">FYI, sistem PPKB UI di tahun ini kabarnya lebih merata untuk anak-anak SMA lulusan luar Jakarta, agar penerimaannya <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/berita-terkini\/apa-itu-ppkb-ui-non-reguler-ini-penjelasan-lengkapnya-20jAGLW6IIt\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">lebih merata<\/a> bagi anak-anak sekolah di seluruh Indonesia. Saya ikut senang, karena pernah berada di posisi mereka. Saya pernah ingin masuk UI, tapi karena saya bersekolah dari luar Jakarta, tidak negeri pula, saya jadi (mungkin) tidak dilirik oleh UI.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, di balik kebahagiaan mereka, banyak sekali orang-orang yang salty. Banyak siswa-siswa yang berasal dari Jakarta tidak terima anak-anak luar Jakarta diterima di UI. Jahat sekali, sampai menyumpahi tidak dapat beasiswa segala. Lagi pula, penerimaan para mahasiswa baru dari PPKB ini sudah masuk akal dan tidak semestinya orang-orang merongrong sampai segitunya.<\/span><\/p>\n<h2><b>PPKB UI itu pemerataan pendidikan, jadi nggak mungkin hanya Jakarta aja yang diterima<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian mungkin lupa kalau ada kata \u201cpemerataan\u201d dalam PPKB itu sendiri. Kalau yang namanya pemerataan, justru sangat wajar kalau banyak siswa di luar Jakarta yang diterima dalam sistem ini. Kalau hanya siswa dari Jakarta yang diterima, namanya nggak jadi PPKB dong, kocak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seharusnya, sebagai orang yang dapat privilege bersekolah di daerah yang lebih baik, ikut senang karena banyak siswa asal daerah lain yang diterima masuk UI. Artinya, mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk berkuliah di tempat yang lebih baik. Kalian pikir, kalau kuliah itu pakai sistem zonasi?<\/span><\/p>\n<h2><b>Anak pintar dan berprestasi nggak hanya ada di Jakarta doang kali<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siswa yang pintar dan berprestasi itu nggak hanya ada di Jakarta aja, kali. Banyak daerah di luar Jakarta yang memiliki siswa berprestasi dan pintar. Lagian, mereka ini lebih hebat, loh. Banyak yang berasal dari daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), tapi masih bisa pintar dan berprestasi. Itulah kenapa PPKB UI itu penting, biar semua orang bisa setara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harusnya justru malu, sudah kalah dengan orang yang berasal dari daerah yang nggak maju, tapi malah ngatain nggak pantes. Mereka berjuang dengan peralatan perang seadanya, siswa-siswi di Jakarta punya peralatan perang yang lebih mutakhir. Kalau masih kalah, namanya mah skill issue.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jalur masuk PTN masih banyak, mending fokus belajar kalau merasa nggak kalah pintar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jalur masuk PTN masih banyak, nggak hanya PPKB saja. Kalau memang merasa pintar dan berprestasi, semestinya dari kemarin-kemarin juga sudah lulus di SNBP dan SNBT. Kalau hanya mengandalkan PPKB saja, namanya sembrono. Sekarang masih tersisa jalur mandiri dari masing-masing PTN, termasuk UI sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang masih merasa pintar, persiapkan diri untuk belajar dan buktikan bisa masuk UI dengan keringat sendiri. Bukannya malah ngatain orang lain yang lolos. Kalau masih tidak lolos juga dan masih ngatain orang-orang yang lolos, mungkin memang cocok untuk nggak masuk UI. Nggak keterima saja sombongnya minta ampun, apalagi sampai lolos?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Nasrulloh Alif Suherman<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/status-alumni-ui-itu-bener-bener-beban\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jadi Alumni UI Itu Nggak Ada Beban? Sesekali Cobalah Menapak Tanah, Bebannya Ada dan Nyata!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sistem PPKB UI di tahun ini kabarnya lebih merata untuk anak-anak SMA lulusan luar Jakarta, agar penerimaannya lebih merata. Tapi, kok pada nggak terima?<\/p>\n","protected":false},"author":321,"featured_media":342631,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[28952,196],"class_list":["post-342470","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-ppkb-ui","tag-ui"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/342470","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/321"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=342470"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/342470\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/342631"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=342470"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=342470"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=342470"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}