{"id":342222,"date":"2025-06-19T10:17:44","date_gmt":"2025-06-19T03:17:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=342222"},"modified":"2025-06-19T10:17:44","modified_gmt":"2025-06-19T03:17:44","slug":"ketika-pendidikan-layak-harus-dibayar-dengan-luka-yang-dalam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketika-pendidikan-layak-harus-dibayar-dengan-luka-yang-dalam\/","title":{"rendered":"Ketika Pendidikan \u201cLayak\u201d Harus Dibayar dengan Luka yang Dalam"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Narasi tentang pendidikan yang merata dan berkualitas adalah mimpi lama negeri ini. Ia sering didengungkan dalam pidato, spanduk, hingga visi-misi pejabat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bagi banyak anak di daerah, terutama di wilayah terluar seperti saya, pendidikan yang &#8220;layak&#8221; masih terasa seperti sebuah kemewahan yang perlu dikejar jauh-jauh. Bahkan dengan luka yang tidak kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya lahir dan besar di <a href=\"https:\/\/halmaherapost.com\/2024\/10\/24\/sekolah-unggulan-di-morotai-tidak-maksimal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Morotai<\/a>, Maluku Utara, dari keluarga 2 budaya. Ayah saya orang Jawa tulen yang merantau, sementara ibu adalah Morotai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski telah menetap dan menjadi warga Maluku Utara, ayah tak pernah benar-benar meninggalkan identitas Jawanya. Termasuk dalam hal pendidikan. Baginya, sekolah di Jawa lebih bermutu, lebih menjanjikan masa depan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mengungsi ke Jawa demi pendidikan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, ketika saya berusia 12 tahun dan baru saja menamatkan SD dengan prestasi baik, ayah \u201cmengungsikan\u201d saya ke Jawa. Katanya, pendidikan di tempat saya tumbuh tidak cukup.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ranking 3 besar yang saya raih di Morotai dianggap tak ada nilainya di hadapan persaingan anak-anak di Jawa. Sejak saat itu, saya mulai memahami bahwa dalam kepala sebagian orang tua, pendidikan hanya dilihat dari sejauh mana anak bisa berkompetisi secara akademik. Bukan dari seberapa utuh anak dibentuk sebagai manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dikirim ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kekerasan-di-pondok-pesantren-ditutupi-lagi-saatnya-feodalisme-dibasmi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pesantren<\/a>, tempat yang bahkan saya tidak tahu persis bentuknya. Saya kira ini sekolah biasa yang ada asramanya. Ternyata, ini adalah kehidupan yang benar-benar baru. Hidup yang keras bagi saya, penuh aturan, dan minim pendampingan emosional. Dalam hitungan hari, saya kehilangan rasa percaya diri.<\/span><\/p>\n<h2><b>Takut, bingung, kesepian<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling menyakitkan bukan hanya jauh dari orang tua, tapi merasa tak ada yang benar-benar peduli. Saya masih terlalu kecil untuk memahami bahwa kadang cinta orang tua datang dalam bentuk keputusan yang menyakitkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, tetap saja, anak-anak bukan hanya butuh memahami angka dan teori. Kami juga butuh ditemani dalam rasa takut, bingung, dan kesepian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua tahun masa pendidikan di pesantren saya jalani dengan banyak luka. Saya di-bully, depresi, sengaja malas belajar sebagai bentuk protes yang tak bisa saya ucapkan. Saya ingin membuktikan bahwa memaksa anak sekolah di tempat yang dirasa \u201cbagus\u201d tidak otomatis membuat anak itu bahagia atau berhasil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah akhirnya keluar dari pesantren, saya dipindah ke sekolah swasta di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bangga-masuk-ptn-top-hanya-sesaat-yang-penting-bisa-lulus\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Tengah<\/a> tempat asal ayah. Saya tinggal bersama saudara ayah. Tapi sekali lagi, saya hanya dipindahkan tempat untuk mencari pendidikan, bukan dipulihkan sebagai pribadi. Saya tetap merasa asing, diatur dengan berlebihan, dibatasi. Saya tetap merasa tidak didampingi secara emosional.<\/span><\/p>\n<h2><b>Ketika saya memberontak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya bertahan, namun kemudian memberontak akibat amarah yang lama saya pendam. Saya meminta keluar dari rumah itu juga. Hingga akhirnya, saya hidup sendirian di rumah ayah yang tidak dihuni. Masih terletak di daerah yang sama dengan sekolah baru saya. Di usia 15 tahun, saya mengurus hidup saya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang tua saya mengira, selama mengirimi uang, kebutuhan hidup saya terpenuhi. Tapi yang sebenarnya terjadi, saya tumbuh dengan luka yang dalam. Saya belajar segala hal sendiri, menangis sendirian, memikul beban yang tidak seharusnya saya tanggung. Saya tidak punya ruang untuk remaja yang normal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika pendidikan adalah hak, mengapa saya harus membayar mahal untuk mendapatkannya? Mengapa negara tidak bisa menjamin bahwa anak di pulau seperti Morotai bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang setara, tanpa harus hijrah ratusan mil dari rumah? Mengapa orang tua harus percaya bahwa hanya sekolah di kota besar yang bisa menyelamatkan masa depan anak-anak mereka?<\/span><\/p>\n<h2><b>Apakah pendidikan layak akan selalu sepadan?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari ini saya bisa bilang bahwa saya bertahan. Saya belajar banyak. Tapi jujur, semua usaha mencari pendidikan yang layak ini lebih banyak menyisakan trauma. Luka yang bahkan belum sembuh meski sudah bertahun-tahun berlalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak menyalahkan orang tua saya. Mereka hanya ingin saya berhasil. Tapi keberhasilan apa yang sepadan dengan kehilangan masa kecil? Siapa yang akan mengganti potongan diri saya yang hilang selama proses ini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita harus bicara lebih serius tentang makna pendidikan yang sesungguhnya. Bukan hanya soal nilai, ataupun ijazah. Tapi juga tentang pendampingan, rasa aman, dan perhatian emosional. Pendidikan yang baik tidak boleh membuat anak kehilangan arah, apalagi kehilangan dirinya sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Kinanti Fitrahning Asih<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sistem-pendidikan-finlandia-bikin-iri-orang-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Buku Sistem Pendidikan Finlandia; Belajar Cara Belajar, Menyadarkan Saya Betapa Bobrok dan Tertinggal Sistem Pendidikan Indonesia<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendidikan yang baik tidak boleh membuat anak kehilangan arah, apalagi kehilangan dirinya sendiri dan tinggalkan luka yang dalam.<\/p>\n","protected":false},"author":2997,"featured_media":342279,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[623,10004,17490,175,52,28924],"class_list":["post-342222","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-jawa","tag-jawa-tengah","tag-morotai","tag-pendidikan","tag-pesantren","tag-sekolah-di-jawa"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/342222","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2997"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=342222"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/342222\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/342279"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=342222"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=342222"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=342222"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}