{"id":341875,"date":"2025-06-17T10:26:56","date_gmt":"2025-06-17T03:26:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=341875"},"modified":"2025-06-17T10:26:56","modified_gmt":"2025-06-17T03:26:56","slug":"dosen-pembimbing-serba-acc-itu-menyebalkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosen-pembimbing-serba-acc-itu-menyebalkan\/","title":{"rendered":"Dosen Pembimbing Serba ACC Itu Menyebalkan: Skripsi Memang Jadi Lancar, tapi di Sidang Bakal Dihajar!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa bilang masa-masa skripsian itu menakutkan? Sebenarnya faktor utama ketakutan mahasiswa terhadap skripsi adalah jiwa mageran mahasiswa dan karakteristik dosen pembimbing. Biasanya mahasiswa menjadi ciut nyalinya ketika mendapatkan dosen pembimbing yang killer, perfeksionis, hingga yang ghaib, alias susah banget ditemui.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi percayalah, dosen yang baik, murah hati, dan serba ACC juga termasuk dosen red flag yang menyebalkan sekaligus membingungkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memasuki ajaran semester baru, fakultas saya melakukan pendataan terhadap mahasiswa semester 7 untuk menyetor judul skripsi, gambaran kasarnya, dan dosen pembimbing (dosbing). Sistemnya, mahasiswa bisa memilih dosbing sendiri atau mengikuti plotting dari Kepala Program Studi (Kaprodi). Karena telah menyiapkan topik beserta outline-nya, saya memilih untuk mencari dosbing yang juga menguasai topik saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Niatnya, ketika berdiskusi atau bimbingan, saya jadi punya arah yang jelas dan bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu. Tapi, ternyata saya salah besar. Bukannya terarah, saya malah hilang arah.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Kok gini ya&#8230;<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sifat dan karakter dosen pembimbing saya terkenal tegas dan disiplin, tapi di satu sisi penuh vibes positif dan baik hati. Oleh karena itu, saya makin optimis bahwa pengerjaan skripsi saya tidak akan di-ghosting dan tidak dituntut lebih. Namun kakak tingkat saya mewanti-wanti, karena dosbing saya tersebut biasanya meminta tiap mahasiswa untuk mencari referensi sendiri dan menjawab pertanyaannya sendiri. Awalnya saya ragu-ragu, tapi saya memilih tetap maju.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama kali bimbingan, saya langsung mengajukan outline skripsi dan tak disangka, dosbing menyetujui outline tersebut. Saat itu saya merasa sangat senang karena menandakan topik yang saya angkat juga disukai oleh dosbing. Kemudian beliau meminta saya untuk menyelesaikan bab 1 sampai 3, baru bimbingan lagi. Permintaan tersebut cukup membuat saya bertanya-tanya. Bab 1 saja belum dijamah, apa lagi hingga bab 3?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perasaan saya jadi tidak enak. Memang saat itu dosbing saya mempersilakan untuk menemuinya jika di tengah jalan saya merasa kesulitan mengerjakan skripsi. Tapi siapa sih yang nggak terkejut jika disuruh seperti itu?<\/span><\/p>\n<h2><strong>Dosen pembimbing bolak-balik skripsi, ACC<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pun mengambil keputusan untuk bimbingan setelah merampungkan bab 1-3. Ya, saya kerjakan sebisanya tapi tetap mengacu pada kaidah penyusunan skripsi, memperhatikan teori, <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-6126552\/apa-itu-hipotesis-ini-pengertian-ciri-ciri-jenis-dan-cara-menyusunnya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">hipotesis,<\/a> dan metode penelitian. Saya yakin pasti akan banyak revisi yang saya terima. Setelah tiba di ruangan beliau, skripsi saya hanya dibolak-balik sebentar dan dibaca sekilas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata apa yang terjadi di luar dugaan. Setelah beberapa menit dibaca, dosbing meng-acc bab 1-3 tanpa revisi mayor. Hanya penulisan sitasi saja yang kena revisi. Saya bangga bercampur bingung, ini tipe dosen yang sangat pintar sehingga membaca sekilas saja langsung paham seluruh isi penelitian, atau saya yang kelewat pintar?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun karena minim revisi, saya jadi banyak tanya, mode cerewet on. Semua pertanyaan dan kebimbangan, saya lontarkan dan dapat dijawab oleh dosen pembimbing.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pun melanjutkan mengerjakan bab 4 dan 5. Siklusnya mirip seperti sebelumnya. Bimbingan di akhir, langsung acc, revisi minor, dan diminta sidang sesegera mungkin. Jujur saja, saya cukup stres dan tidak terlalu pede karena merasa skripsi itu tidak memiliki andil dari dosen pembimbing yang seharusnya melengkapi kekurangan skripsi saya. Sebab itu, saya coba mengulur waktu untuk menunda sidang dan mendalami skripsi lagi. Saya takut jika ada hal-hal di luar pemahaman saya yang ditanyakan dosen penguji.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Dibantai pas sidang<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu sidang pun tiba, saya sudah pasrah dengan keadaan. Kalau dibantai pertanyaan, jawab sebisanya saja, begitu pikir saya. Presentasi berjalan lancar, kemudian tibalah sesi tanya jawab. Dan benar saja, dosen penguji melontarkan pertanyaan yang tidak saya ketahui dan tidak pernah disinggung oleh dosbing sebelumnya. Saya agak gugup, tapi prinsip \u201cdijawab sebisanya\u201d menolong saya. Walaupun dari raut wajah dosen penguji menandakan tidak puas dengan jawaban saya, setidaknya saya lega bisa menghadapinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga merasa aneh dan kesal, di tengah kebingungan saya karena dicerca pertanyaan, dosbing pun seolah tak acuh dengan mahasiswanya. Saya tidak dibantu menjawab sedikit pun. Sepertinya tidak ada kata \u201ctolong-menolong mahasiswa\u201d di kamusnya. Puncaknya, dosbing malah memberi saran untuk menambahkan sesuatu yang relate dengan skripsi saya. Terus apa tujuan bimbingan kalau memberi sarannya di momen sidang? Disitu saya menahan marah, tidak sampai meluap, takut nggak diluluskan. Untungnya saya bisa lulus dengan revisi minor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di hari-hari berikutnya, sifat murah hati dosbing saya kembali terlihat dengan menyetujui revisi tanpa direvisi lagi. Akhirnya, usai sudah petualangan skripsian saya yang enak tapi juga tidak enak. Bingung, kesal, senang, sedih semua terasa jadi satu. Tapi dari pengalaman ini saya jadi tahu dua hal, bahwa skripsi tidak sepenting itu serta dosen baik dan murah hati tidak sebaik itu.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Yessica Octa Fernanda<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/flyover-janti-tempat-terbaik-di-jogja\/\">Kolong Flyover Janti adalah Tempat Terbaik untuk Menikmati \u201cKehidupan Malam\u201d Jogja<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Percayalah, dosen pembimbing yang baik, murah hati, dan serba ACC juga termasuk dosen red flag yang menyebalkan sekaligus membingungkan.<\/p>\n","protected":false},"author":1850,"featured_media":277329,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[1116,22615,236],"class_list":["post-341875","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-dosen-pembimbing","tag-dosen-red-flag","tag-skripsi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341875","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1850"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=341875"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341875\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/277329"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=341875"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=341875"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=341875"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}