{"id":341740,"date":"2025-06-17T10:36:07","date_gmt":"2025-06-17T03:36:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=341740"},"modified":"2025-06-17T10:36:07","modified_gmt":"2025-06-17T03:36:07","slug":"4-ciri-nyentrik-mahasiswa-jurusan-hukum-jadi-mudah-dikenali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-ciri-nyentrik-mahasiswa-jurusan-hukum-jadi-mudah-dikenali\/","title":{"rendered":"4 Ciri Nyentrik Mahasiswa Jurusan Hukum yang Membuat Mereka Begitu Mudah Dikenali"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSecara normatif yuridis ini melanggar konstitusi,\u201d sayup-sayup saya pernah mendengar kalimat itu ketika nongkrong di kantin. Saya yakin betul, mereka bukanlah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kampus\/lulusan-s3-buka-suara-sisi-gelap-pendidikan-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">dosen<\/a>, melainkan mahasiswa jurusan hukum yang masih duduk di semester-semester awal.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mahasiswa jurusan hukum memang suka gitu. Obrolan biasa bisa langsung dibawa ke ranah pasal-pasal, terutama mereka yang masih baru. Nggak salah sih, cuma bikin mereka begitu mudah dikenali tanpa harus saya bertanya terlebih dahulu asal jurusan mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Sebenarnya, mahasiswa jurusan hukum begitu mudah dikenali, <span style=\"font-weight: 400;\">bahkan sebelum mereka buka suara atau diskusi. Bisa dari cara duduknya yang tegap, cara ngomongnya yang terstruktur, hingga gaya bajunya yang sering terlalu necis buat kelas jam tujuh pagi. Belum lagi kebiasaan mereka mengutarakan pendapat seperti lagi pleidoi di sidang skripsi. Padahal yang dibahas cuma harga nasi goreng di kantin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, hal paling lucu adalah meski mereka belum ngenalin diri, kita sering langsung tahu, \u201cIni sih pasti anak hukum.\u201d Dan, biasanya tebakan itu nggak pernah meleset. Lho kok bisa? Nah, di bawah ini kita bahas bareng-bareng, apa saja sih ciri-ciri khas mahasiswa hukum yang bikin mereka gampang banget dikenali:<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Mahasiswa jurusan Hukum suka debat, baik di dunia nyata maupun dunia maya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mahasiswa jurusan<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">hukum<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> itu kalau diajak ngobrol biasa, ujung-ujungnya bisa jadi forum diskusi terbuka. Lagi ngobrol santai soal tukang parkir pun bisa berubah jadi debat soal hak atas ruang publik. Lagi nongkrong makan mi ayam, eh malah bahas legalitas perda miras. Bahkan kalau kamu cuma nyeletuk, \u201cWaduh, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/cara-kerja-tilang-elektronik-yang-akan-menggantikan-tilang-manual\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tilang elektronik<\/a> ribet ya,\u201d mereka bisa jawab, \u201cItu bentuk transformasi hukum pidana dalam konteks era digital.\u201d Lha?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di WhatsApp keluarga, mereka nggak kalah garang. Ada kiriman hoaks dikit, langsung disanggah pakai UU ITE dan pendapat ahli hukum dari podcast semalam. Di Instagram, kolom komentar jadi tempat latihan argumentasi, pun story Instagram bisa berisi pandangan hukum dan teori-teori plus<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">adagium hukum. Mereka pun bisa bikin klarifikasi panjang cuma buat ngebantah caption selebgram yang katanya toxic positivity. Kalau ada yang nyindir \u201canak hukum tuh suka sok tahu,\u201d mereka biasanya jawab, \u201cItu namanya legal reasoning, bukan sok tahu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara di X (Twitter), itu medan perang mereka. Dari debat soal pasal kontroversial sampai hukum pidana internasional, semua dibahas. Bahkan, twit receh kayak \u201cCinta nggak butuh logika\u201d bisa dijawab, \u201cJustru butuh, karena kontrak sosial juga bagian dari logika hukum.\u201d Serius, debat sama mereka itu bukan sekadar adu pendapat, tapi bisa jadi sidang pleno. Dan anehnya, meskipun suka debat terus, mereka selalu bilang, \u201cSaya sih open discussion, ya.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Biasanya punya gaya rapi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu lihat ada mahasiswa yang datang ke kelas pagi-pagi pakai kemeja, celana bahan, sepatu pantofel, dan aroma parfumnya nyaris setajam argumennya, kemungkinan besar dia anak hukum. Mereka tampil rapi, bahkan saat orang lain masih ngantuk dan pakai hoodie. Ada yang bilang itu bagian dari budaya &#8220;look like a lawyer&#8221;, walau skripsi belum rampung dan toga masih jauh di depan mata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di luar kampus pun sama. Mahasiswa hukum cenderung tampil profesional, entah karena kebanyakan ikut seminar, magang di kantor hukum, atau sekadar takut ketemu dosen di minimarket. Bahkan, buat ngopi di kafe pinggir kampus pun mereka tetap tampil on point. Kadang malah dikira staf ahli DPR kalau lagi serius-seriusnya buka laptop.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan jangan salah, atributnya juga khas: tas selempang kulit, binder tebal penuh coretan pasal, dan kalau musim hujan suka bawa payung lipat warna hitam. Mahasiswa jurusan Hukum seolah selalu siap sidang, meski kenyataannya cuma siap nongkrong sambil debat RKUHP. Penampilan bagi mereka bukan sekadar gaya, tapi bagian dari branding, biar kalau ngomong \u201cnegara hukum,\u201d orang langsung percaya sebelum dia buka argumen.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Cara ngomong mahasiswa jurusan Hukum terstruktur seperti lagi pleidoi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mahasiswa lain ngomong, \u201cMenurut gue sih,\u201d mahasiswa jurusan Hukum akan bilang, \u201cKalau kita lihat dari perspektif hukum tata negara, sebenarnya ini bisa dianalisis dari tiga poin.\u201d Ngomong sama mereka tuh rasanya seperti mendengarkan sidang Mahkamah Konstitusi, runut, sistematis, dan sering banget pakai kata sambung kayak \u201cpertama\u201d, \u201cselanjutnya\u201d, \u201cnamun demikian\u201d, dan \u201cdalam konteks ini\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, kalau ditanya hal simpel kayak, \u201cBesok ikut rapat nggak?\u201d, mereka bisa jawab, \u201cTerkait itu, saya mempertimbangkan dua hal. Pertama, ada benturan jadwal dengan kelas hukum pidana. Kedua, secara prinsip, saya mendukung forum diskusi.\u201d Lah? Nggak ikut ya nggak ikut, kenapa harus kayak nota keberatan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini belum ngomongin diksi mereka yang kadang terlalu \u201cdewasa\u201d. Kata-kata seperti yuridis, legitimasi, konstitusionalitas, atau substansi normatif bisa keluar kapan aja\u2014termasuk saat mereka nanya, \u201cEh, kamu udah makan belum?\u201d Tapi ya itu tadi, meskipun kadang bikin geli, gaya bicara mereka bikin orang sekitar angguk-angguk, walaupun nggak paham sepenuhnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Biasanya bawa aksesoris yang berbau hukum<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ciri lain yang bikin mahasiswa juursan Hukum gampang ditebak adalah \u201cperalatan tempurnya\u201d. Mereka nggak cuma bawa buku, mereka bawa kitab. <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kitab_Undang-Undang_Hukum_Pidana_Indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)<\/a> yang tebalnya bisa jadi bantalan duduk, atau fotokopian Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 yang sudah dicoret-coret pakai stabilo semua warna. Kadang ada juga yang nenteng Black\u2019s Law Dictionary versi mini, seperti siap perang di moot court tiap saat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu lihat orang bawa binder tebal berisi draft RUU, notulansi rapat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/mahasiswa-uny-dibully-gara-gara-pemilu-bem\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">BEM<\/a>, dan print out jurnal hukum dari HeinOnline, itu 99% anak hukum. Mereka juga suka pakai tote bag bertuliskan \u201cFiat Justitia Ruat Caelum\u201d atau stiker laptop-nya penuh adagium latin yang bikin temennya dari jurusan lain ngira itu kutipan mantra di film Harry Potter. Dan, yang paling khas, mereka bangga banget nunjukin pasal favorit, bahkan ada yang nempelin Pasal 28 UUD 1945 di back cover HP-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak berhenti di situ, urusan fashion pun mereka sering mengarah ke hal-hal yang legal vibes<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">banget. Coba perhatikan kaus atau jaket yang mereka pakai, pasti pernah lihat yang bertuliskan \u201cI am a future lawyer\u201d, \u201cIndonesia adalah Negara Hukum\u201d, atau yang ada logo tim debat konstitusi kampus. Ada juga jaket komunitas yang bagian belakangnya full tulisan kayak taplak meja: nama organisasi, slogan hukum, dan daftar kegiatan seakan-akan jaket itu adalah bukti keikutsertaan mereka dalam 17 simposium nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tulisan ini tentu saja nggak mewakili semua mahasiswa jurusan hukum. Nggak semua anak hukum suka debat, dandan rapi, atau punya tote bag bertuliskan adagium latin. Ada juga yang datang ke kelas cuma pakai outfit biasa dan ngetik makalah sambil makan cilok. Tapi, kalau kamu ngerasa beberapa ciri di atas kok <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">relate banget<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, ya nggak usah marah karena bisa jadi kamu memang anak hukum sejati: yang serius belajar hukum, tapi nggak lupa juga caranya ngelawak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Raihan Muhammad<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/fakultas-peternakan-unsoed-terdiskriminasi-di-kampus-sendiri\/\">Mahasiswa Fakultas Peternakan Unsoed Terdiskriminasi karena Dianggap Nggak Punya Masa Depan dan Bau<\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mahasiswa jurusan Hukum punya gaya dan penampilan nyentrik yang membuat mereka begitu mudah dibedakan daripada mahasiswa jurusan lain. <\/p>\n","protected":false},"author":2215,"featured_media":341896,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[28870,436,34,22154,28904],"class_list":["post-341740","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-jurusan-hukum","tag-kuliah","tag-mahasiswa","tag-mahasiswa-hukum","tag-mahasiswa-jurusan-hukum"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341740","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2215"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=341740"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341740\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/341896"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=341740"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=341740"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=341740"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}