{"id":34173,"date":"2020-04-05T15:52:04","date_gmt":"2020-04-05T08:52:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=34173"},"modified":"2021-10-25T00:28:11","modified_gmt":"2021-10-24T17:28:11","slug":"yang-kejam-kapitalisme-tapi-yang-ditolak-malah-kesetaraan-gender-ukhti-sehat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-kejam-kapitalisme-tapi-yang-ditolak-malah-kesetaraan-gender-ukhti-sehat\/","title":{"rendered":"Yang Kejam Kapitalisme, yang Ditolak Malah Kesetaraan Gender, Ukhti Sehat?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><em>Kalau emang nggak pengin perempuan jadi sasaran ekspolitasi, ukhti malah harus ikut gerakan kesetaraan gender, khususnya yang menolak kuasa kapitalis.<\/em><\/p>\n<p>Buka Twitter malam-malam saya syok sekali. Bukan karena <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menebak-karakter-siskaeee-dari-caranya-membalas-mention-followers\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">postingan Siskaeee<\/a>. Tapi trending yang membuat saya jengah. Mengatasnamakan muslimah, beramai-ramai menaikan <a href=\"https:\/\/twitter.com\/hashtag\/MuslimahTolakGenderEquality?src=tren\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">#MuslimahTolakGenderEquality<\/a>. Terakhir kali saya lihat, sudah ada 200 ribuan <i>tweet.<\/i> Hanya kalah pamor dibanding <i>nakedchallenge<\/i>.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usut punya usut, muslimah-muslimah itu menolak kesetaraan gender karena dianggap sebagai kedok memperkaya golongan kapitalis.\u00a0<\/span>Gerakan kesetaraan gender juga mereka anggap sebagai ilusi yang ditawarkan golongan sekuler dan kapitalis untuk <span style=\"font-weight: 400;\">merusak tatanan keluarga dan perempuan dalam &#8220;Islam&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka yang mengkampanyekan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hastags<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tersebut, menilai bahwa perempuan terancam eksploitasi karena menuntut kesetaraan gender. Dasar pemikirannya adalah kalau perempuan setara dengan laki-laki, misalnya dalam pekerjaan, maka pekerja wanita semakin banyak. Risikonya meningkatkan eksploitasi perempuan.\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka juga takut kalau laki-laki dan perempuan sudah setara, perempuan akan meninggalkan kodratnya mengurus pekerjaan domestik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Hmm. Kalau dilihat dari argumen mereka, yang dibenci ini sebenarnya kapitalisme, tapi kok yang diserangnya malah kesetaraan gender? Ini logika dari mana toh, <em>Ukhtii<\/em>.<\/p>\n<p>Padahal kalau yang diserang secara langsung adalah kapitalisme saya pasti bakal dukung hastag ini karena kapitalisme memang musuh bersama. Dia menindas kaum proletar secara keseluruhan. Dan mengeksploitasi semua orang&#8212;bukan hanya perempuan tapi laki-laki juga. Kalau gini kan pasti lebih banyak pendukungnya.<\/p>\n<p>Tapi kalau membenci kapitalisme eh yang diserang kesetaraan gender ya ramashoook. Itu dua hal yang berbeda. Nggak bisa dicocoklogikan.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mana data yang diberikan untuk mendukung argumen mereka juga <em>cherry picking<\/em> alias cuma nyantumin data yang mendukung gerakan mereka doang lagi.\u00a0<\/span><a href=\"https:\/\/databoks.katadata.co.id\/datapublish\/2019\/05\/07\/tingkat-partisipasi-tenaga-kerja-masih-didominasi-laki-laki\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Data BPS soal jumlah pekerja perempuan yang meningkat<\/a> misal&#8212;yang mereka bilang jadi alasan banyak suami dan anak terlantar&#8212;dibahas secara parsial. Data yang sebenarnya menunjukan kalau partisipasi tenaga kerja masih didominasi laki-laki kok.<\/p>\n<p>Lha iya jumlah perempuan meningkat dalam pasar tenaga kerja. Tapi jumlah pekerja laki-laki tetap jauh lebih banyak. Kenaikan pekerja perempuan per tahun hanya 0,06% saja, bandingkan dengan laki-laki yang hampir 3 kali lipatnya di angka 0,17%.<\/p>\n<p>Lagian gerakan kesetaraan gender itu tujuannya mau melindungi perempuan meningat perempuan rentan mengalami kekerasan. Normalisasi perempuan di ruang publik juga membuat mereka lebih berdaya. Berkat gerakan ini lebih banyak perempuan menjadi ekonom, politikus, penulis.<\/p>\n<p>Ya nggak salah sih kalau ukhti-ukhti yang menolak kesetaraan gender menggambarkan tempat kerja sebagai ruang yang menakutkan bagi perempuan. Kenyataannya memang demikian. Buruh Pabrik AICE yang hamil tapi tetap dapat pekerjaan kasar hanya contoh kecil saja. Tapi justru keadilan dalam ruang kerja untuk perempuan adalah hal yang sedang berusaha dicapai oleh gerakan kesetaraan gender. Makanya aneh kalau mereka malah nolak. Ini sama kayak ada orang lagi nolongin kita, terus kita benci sama orang itu.<\/p>\n<p>Kalau emang ukhti-ukhti ini nggak suka kesetaraan gender karena dalam bayangan ukhti perempuan akan terus bekerja lalu meninggalkan pekerjaan domestik, mungkin ukhti ini kurang membaca. Tujuan perempuan pengin setara bukan cuma karena sudah &#8220;malas&#8221; atau &#8220;muak&#8221; dengan pekerjaan domestik lantas pengin berkarier seperti laki-laki. Ingin setara juga bukan soal mengejar materi seperti yang ukhti sangkakan.<\/p>\n<p>Seperti halnya laki-laki, perempuan juga kan pengin dilihat sebagai manusia yang bisa melakukan apa saja. Bahkan di Al-Quran saja sudah jelas kalau perempuan juga punya peran yang sama di bumi yaitu, jadi\u00a0<i><span style=\"font-weight: 400;\">khalifah fil ardh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau khalifah di muka bumi.<\/span><\/p>\n<p>Kalau emang nggak pengin perempuan jadi sasaran ekspolitasi, ukhti malah harus ikut gerakan kesetaraan gender, khususnya yang menolak kuasa kapitalis. Karena para pemilik modal yang culas ini lah banyak perempuan akhirnya mau tidak mau pergi bekerja karena terus tertekan oleh kemiskinan.<\/p>\n<p>Kalau ukhti nggak mau kesetaraan gender dan konsep perempuan yang bekerja ya sebenernya nggak apa-apa juga sih, asal ukhti siap berkomitmen menanggung kebutuhan perempuan-perempuan yang tertindas karena tidak punya kapital.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesetaraan gender bukan topeng untuk mengeksploitasi perempuan seperti yang ukhti pikirkan. Tetapi justru melindunginya dari ekploitasi. Bayangkan kalau sampai tak ada ide dan gerakan kesetaraan gender, ukhti kalau punya suami nganggur, padahal punya anak banyak, kalau ukhti tidak bisa bekerja, darimana coba bisa dapat uang untuk ngasih makan mereka?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><em>BTW<\/em>, setelah saya telisik, ternyata gerakan muslimah yang menolak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">gender equality<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berawal dari sebuah tulisan oleh Arum Harjanti yang dimuat di <\/span><a href=\"https:\/\/www.muslimahnews.com\/2020\/04\/01\/kesetaraan-gender-eksploitasi-perempuan-tersamar-ala-kapitalis\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">muslimahnews<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Di akhir tulisan, si penulis menjabarkan solusi praktis. Ketimbang kesetaraan gender lebih baik mengikuti Daulah Khilafah Islamiyyah. Elahdalah<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8230; jebul khilafah maneh\u2026 khilafah maneh\u2026 hadehh~<\/span><\/i><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perempuan-harusnya-nggak-benci-laki-laki-karena-kesetaraan-itu-saling-melengkapi\/\">Perempuan Harusnya Nggak Benci Laki-Laki Karena Kesetaraan Itu Saling Melengkapi<\/a><\/strong> <strong>atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-arsyad\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Arsyad<\/a>\u00a0lainnya<\/strong>.<\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n<h5><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau emang nggak pengin perempuan jadi sasaran ekspolitasi, ukhti malah harus ikut gerakan kesetaraan gender, khususnya yang menolak kuasa kapitalis.<\/p>\n","protected":false},"author":448,"featured_media":34319,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[324,612,4793],"class_list":["post-34173","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-feminisme","tag-kesetaraan-gender","tag-khilafah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34173","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/448"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34173"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34173\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34319"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34173"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34173"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34173"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}