{"id":341351,"date":"2025-06-13T12:26:27","date_gmt":"2025-06-13T05:26:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=341351"},"modified":"2025-06-13T12:26:27","modified_gmt":"2025-06-13T05:26:27","slug":"banjarnegara-tenggelam-oleh-ketenaran-dieng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/banjarnegara-tenggelam-oleh-ketenaran-dieng\/","title":{"rendered":"Banjarnegara, Daerah \u201cPendiam\u201d yang Saking Diamnya Tenggelam oleh Ketenaran Dieng"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah melakukan survei kecil-kecilan dengan beberapa teman, baik dari Jawa dan luar Jawa. Saya menanyakan ke mereka, lebih familiar mana bagi telinga mereka antara Dieng dan Banjarnegara? Kebanyakan otomatis langsung menjawab Dieng. Lalu Banjarnegara? Di mana itu? Kata salah satu dari mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian saya melanjutkan dengan bertanya, mereka tahu tidak Dieng itu letaknya di mana? Mendengar pertanyaan itu, beberapa di antara mereka hanya tahu kalau Dieng terletak di Jawa Tengah. Sementara itu, sebagian lainnya menjawab ada di daerah Wonosobo. Lagi-lagi, mereka nggak tahu soal Banjarnegera dan nggak tahu kalau sebagian wisata di Dieng itu ada di Banjarnegara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pun yakin, banyak para wisatawan pasti tahu dengan event seperti &#8220;Dieng Culture Festival&#8221;, Bukit Sikunir, <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Candi_Arjuna\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Candi Arjuna<\/a>, tapi begitu ditanya itu masuk kabupaten mana, kebanyakan jawabnya ya Wonosobo. Padahal faktanya, yang punya lahan dan wisata utamanya ya Banjarnegara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat kondisi Banjarnegara yang selalu terpinggirkan dengan keberadaan Dieng dan Wonosobo, saya jadi merasa seperti diperlihatkan sosok keluarga utuh tapi eksistensinya timpang. Di mana Wonosobo ini seorang ayah, Banjarnegara adalah seorang Ibu, dan Dieng adalah anak dari keduanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi dengan segala ketenaran dan prestasi Dieng sebagai sang anak, yang disorot terus menerus justru sang ayah, yaitu Wonosobo. Sementara Banjarnegara sebagai sosok Ibu, ya nggak dianggap. Ada tapi kayak nggak ada. Ditambah mungkin Pemda setempat yang nggak agresif brandingnya, warganya yang terlalu nrimo ing pandum, sampai potensi wisatanya, yang berasal dari rahim daerahnya sendiri, dieksploitasi pamornya oleh Wonosobo. Related nggak sih?<\/span><\/p>\n<h2><strong>Apa sih penyebabnya?<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya coba menganalisis dari aspek geografis dan implikasinya terhadap branding kedaerahan. Kawasan Dieng yang terkenal memang sebagian besar terletak di Banjarnegara. Tapi kalau diperhatikan, akses utama untuk menuju ke beberapa lokasi wisata di dieng harus melalui Wonosobo. Hal itu membuat Wonosobo jadi gerbang masuk wisatawan sehingga menciptakan pusat keramaian di sana. Implikasinya tentu membuat Banjarnegara seperti daerah isolasi atau bahkan pinggiran yang hanya kebagian \u201cbuntut\u201d wisatawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi ini jadi sesuatu yang nggak terlihat secara langsung tapi terasa implikasi ekonomi dan sosialnya bagi Banjarnegara. Fasilitas wisatawan seperti hotel atau penginapan dan restoran, mewah semuanya ditempatkan di Wonosobo karena jadi gerbang masuk wisatawan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Keterlibatan anak muda lokal yang minim dan nggak kreatif<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian perhatikan, Banjarnegara ini benar-benar hanya berpangku tangan pada konsep branding konservatif dari orang-orang dulu. Kelihatan sekali ketika event budaya seperti Dieng Festival yang dikonsep ala kadarnya, paling ditambah dengan balon-balonnya yang diterbangkan ke langit, yang semua itu sifatnya nggak berkelanjutan dan hanya berpusat di Dieng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak ada usaha yang inovatif agar membuat wisatawan itu mau untuk mengeksplorasi lebih jauh soal daerah unik lain di Banjarnegara dan nggak hanya berhenti di Dieng semata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah acara festival selesai, wisatawan ya hanya bergerombol di Dieng atau turun ke Wonosobo. Sementara Banjarnegara ya ditinggalkan dan dilupakan. Padahal, masih banyak aspek budaya dan wisata di luar Dieng di Banjarnegara yang bisa dimaksimalkan, terutama dengan pemikiran inovatif anak-anak muda di dalamnya. Sayangnya, anak-anak mudanya mungkin pada merantau atau lebih sibuk ngopi.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Padahal Banjarnegara punya banyak potensi<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Potensi Banjarnegara di bidang pertanian padahal cukup besar. Misalnya dari pertanian kentang, sayur-sayuran, carica, dawet ayu, tapi sayangnya ya hanya diperjualbelikan secara konvensional. Nggak ada upaya semacam membuat sebuah pusat ekonomi berbasis pertanian atau mengembangkan sentra wisata lainnya di luar Dieng dengan memanfaatkan kekayaan alamnya, supaya Banjarnegara nggak melulu dianggap hanya sebagai daerah \u201cpenyangga\u201d Dieng semata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kembali lagi, semuanya soal mindset Pemda dan masyarakat. Apakah ingin bertumbuh atau sudah nyaman menjadi daerah pendiam yang hanya melihat kesuksesan daerah-daerah tetangganya sambil menormalisasi predikat sebagai Kabupaten termiskin di Jawa Tengah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lah mau bagaimana lagi, masyarakat bahkan mungkin pejabat daerahnya boleh jadi lebih nyaman \u201cnumpang tenar\u201d lewat nama Dieng, tanpa benar-benar membangun branding Banjarnegara-nya sendiri. Kalau perilaku seperti itu terus dipelihara, ya ada baiknya Banjarnegara mending diganti nama aja sekalian jadi Kabupaten Dieng.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/banjarnegara-wisatanya-sulit-berkembang-kepentok-hal-hal-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pariwisata Banjarnegara: Punya Potensi, tapi Kepentok Hal-hal Ini<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banjarnegara padahal punya banyak potensi, tapi branding yang ala kadarnya bikin namanya digilas Wonosobo dan Dieng.<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":341356,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8107,5619,8615],"class_list":["post-341351","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banjarnegara","tag-dieng","tag-wonosobo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341351","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=341351"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341351\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/341356"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=341351"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=341351"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=341351"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}