{"id":341206,"date":"2025-06-12T13:16:48","date_gmt":"2025-06-12T06:16:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=341206"},"modified":"2025-06-12T13:16:48","modified_gmt":"2025-06-12T06:16:48","slug":"orang-kampung-pertama-kali-jajan-starbucks-bingung-lalu-kapok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-kampung-pertama-kali-jajan-starbucks-bingung-lalu-kapok\/","title":{"rendered":"Kebingungan Orang Kampung Pertama Kali Jajan Starbucks, Kebanyakan Penawaran dan Istilah Aneh"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang menganggap Starbucks perlu dicicipi setidaknya sekali seumur hidup. Walau bukan suatu keharusan, saya merasa tidak ada salahnya sebagai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-benar-kopi-dapat-menentukan-kasta-seseorang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">penggemar kopi<\/a> mencicipi kopi dari salah satu jaringan gerai kopi terbesar di dunia itu. Setidaknya bisa sebagai pengalaman dan pembanding ketika mencicipi kopi-kopi lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang kampung seperti saya, Starbucks jelas sebuah kemewahan. Bagaimana tidak, gerainya terletak di mal atau titik-titik strategis didesain sedemikian rupa hingga tampak elegan dan nyaman. Tidak hanya itu, menu yang ditawarkan jauh melampaui kemampuan kantong ini. Bahkan, untuk sekadar beli es teh yang tergolong murah dibanding menu lain. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sekali lagi, kembali ke niat awal, tidak ada salahnya mencicipi kopi \u201cmewah\u201d satu ini, apalagi kalau dompet sedang lumayan tebal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitulah hubungan saya dengan kopi Starbucks, sebatas minuman yang dibeli di tanggal muda atau pas punya uang. Itupun sebelum gerakan Boycott, Divestment, and Sanction (BDS) terhadap Starbucks menyeruak karena dianggap ikut andil dalam genosida rakyat Palestina. Walau Starbucks sudah melakukan <\/span><a href=\"https:\/\/www.starbucks.co.id\/ethical-sourcing\/tanggapan-starbucks-mengenai-konflik-di-gaza\"><span style=\"font-weight: 400;\">klarifikasi <\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">bahwa tuduhan itu, hati kecil saya masih belum bisa menerimanya. Itu mengapa, setelah isu boikot menyebar, saya memilih aman dengan tidak pernah mencicipi waralaba kopi yang satu ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alhasil pengalaman jajan ke Starbucks sebelum boikot menjadi pertama dan terakhir kali. Tapi, sebenarnya tanpa ada isu boikot pun, orang kampung seperti saya sebenarnya lumayan kapok jajan di waralaba kopi yang satu ini. Sudah harganya nggak ramah di kantong, beli kopi ini ribet dan membingungkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Starbucks terlalu banyak tawaran <\/b><b><i>adds-on<\/i><\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat orang kampung seperti saya, kopi itu nggak boleh ribet. Kopi hitam atau kopi susu panas\/es. Kalau mau yang agak moderen, ya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/minuman-coffee-shop-yang-sebaiknya-nggak-dipesan-jika-nggak-ingin-menyesal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cappuccino<\/a>, ice latte, atau americano. Di kedai kopi langganan saya, pilihan saya untuk kopi ya sebatas ini aja. Dan itu sempurna buat saya. Nggak yang aneh-aneh, nggak yang ekstra ini itu. Karena itu, ketika saya pertama kali coba beli kopi di Starbucks, saya sudah bingung, bahkan sejak kaki saya pertama kali menginjak Starbucks.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya masuk di Starbucks yang berada di salah satu mal di Malang, saya sudah dihadapkan dengan beberapa kebingungan. Pertama, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">vibes-<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">nya \u201cnggak saya banget\u201d. Starbucks ini terlalu mewah, terlalu fancy<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan orang-orangnya terlalu rapi. Kayak bukan tempat yang bakal asik kalau dipakai nongkrong. Starbucks ini asing bagi saya, mungkin karena ini adalah pengalaman pertama saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu saya ikut antre yang untungnya nggak terlalu panjang. Sambil antre, saya dihadapkan dengan kebingungan kedua, yaitu soal tampilan menu yang banyak banget, dengan beberapa istilah yang nggak saya pahami, serta harga yang nggak murah. Untungnya, saya nggak terlalu lama tenggelam dalam kebingungan. Sebelum antrean usai, saya sudah memutuskan, saya mau pesan iced caffe latte<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai di kasih, saya langsung bilang kalau saya mau beli Iced Caffe Latte<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Lalu muncul lagi kebingungan lainnya. Petugas kasih langsung menanyakan apakah saya mau ekstra espresso atau tidak? Apakah saya mau ganti susunya dengan jenis susu lain atau tidak? Apakah saya mau ekstra vanila, cokelat, dsb. Pokokonya segala macam tawaran adds-on dan upaya upselling digelontorkan di depan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya saya bukan tipikal orang yang gampang nurut kalau lagi bingung. Ditawarkan segala macam adds-on dan upaya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/upselling-strategi-yang-tercoreng-karena-penjual-tidak-terbuka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">upselling<\/a>, saya menolak dan tetap dengan pesanan saya Iced Caffe Latte yang biasa aja, tanpa tambahan apapun.<\/span><\/p>\n<h2><b>Istilah ukuran <\/b><b>short, tall, grande, venti yang membingungkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu yang bikin saya mangkel dengan Starbucks adalah banyak istilah yang asing di kuping. Salah satunya, istilah yang mereka gunakan untuk menyebut ukuran kopi. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Starbucks punya berbagai ukuran kopi yang istilahnya aneh, dan ini ditanyakan juga ke saya oleh pelayan kasir<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u201cIced caffe latte-nya mau yang short, tall, grande, atau venti?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penamaan istilah ukuran kopi ini bikin saya jengkel. Maksudnya, kenapa nggak pakai istilah normal seperti small, medium, large, dan extra-large<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">aja, sih? Yang gampang-gampang aja, yang orang-orang langsung paham apa maksudnya nggak perlu tanya-tanya lagi gitu. Istilah short, tall, grande, dan venti<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">itu lumayan asing di kuping.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya saya sudah tahu sedikit soal penamaan istilah ukuran kopi yang aneh dan sok asik di Starbucks. Jadinya, saya langsung bilang mau yang tall saja. Setelahnya, pelayannya mengulangi pesanan saya, saya iyakan, dan keluarlah harga hampir Rp50 ribu itu. Saya agak kaget dikit, Iced Caffe Latte gini doang kok bisa sampai hampir Rp50 ribu. Tapi nggak papa, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">cek tau<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> kalau kata orang Jawa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak lama kemudian, iced caffe latte saya jadi yang ternyata cukup besar ukurannya, tahu gitu saya pesan ukuran yang lebih kecil. Saya kemudian pergi, sambil menyeruput Iced Caffe Latte yang rasanya nggak spesial itu. Rasanya bahkan nggak jauh beda dengan Iced Caffe Latte di kedai kopi langganan saya yang harganya cuma Rp18 ribu. Nggak papa dan sekali lagi, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">cek tau <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kalau kata <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/histori\/mitos-orang-jawa-itu-pemalas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">orang Jawa<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah pengalaman saya pertama kali beli kopi di Starbucks. Apakah saya kapok? Iya. Beli kopi di Starbucks ini ribet, membingungkan, dan kebanyakan fafifu. Udah gitu, harganya mahal pula. Apakah saya mau beli kopi lagi di Starbucks? Tentu tidak. Apalagi setelah beredar boikot Starbucks. Niat saya makin bulat untuk tidak membelinya lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Iqbal AR<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menu-solaria-tidak-semuanya-enak-ada-juga-yang-gagal\/\"><b>4 Menu Solaria yang Gagal, Sebaiknya Dihindari Pembeli daripada Menyesal<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beli kopi di Starbuck bikin bingung dan kapok, apalagi yang baru pertama kali jajan di sana. Ada banyak tawaran tambahan dan penamaan aneh.    <\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":341211,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[140,22075,4164],"class_list":["post-341206","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-kopi","tag-kopi-starbucks","tag-starbucks"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341206","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=341206"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341206\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/341211"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=341206"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=341206"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=341206"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}