{"id":341117,"date":"2025-06-12T10:43:15","date_gmt":"2025-06-12T03:43:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=341117"},"modified":"2025-06-12T11:29:57","modified_gmt":"2025-06-12T04:29:57","slug":"sekolah-tumbuh-meluruskan-miskonsepsi-sekolah-inklusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sekolah-tumbuh-meluruskan-miskonsepsi-sekolah-inklusi\/","title":{"rendered":"Sekolah Tumbuh: Meluruskan Miskonsepsi Sekolah Inklusi, Menumbuhkan Harapan"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah tahu belum kalau ada sekolah inklusi bernama Sekolah Tumbuh yang berkomitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keberagaman dan kearifan lokal?<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon katanya, pendidikan adalah hak segala bangsa. Tetapi, kita sering kali lupa bahwa yang namanya \u201csegala bangsa\u201d itu termasuk mereka yang cara belajarnya tidak standar, berbeda, alias tidak seperti mayoritas. Sederhananya, mereka yang istimewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan jika adikmu termasuk dalam golongan orang yang istimewa itu. Bukan nakal, ya. Hanya melihat dunia dengan cara yang berbeda saja. Misalnya, adikmu ini lebih sering diam daripada bergabung dalam keramaian, menulis lebih lambat daripada yang lain, dan butuh waktu lebih lama untuk memahami perintah. Kadang, kesulitan juga untuk menjaga kontak mata saat berbicara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, muncul saran dari saudara untuk menyekolahkan adik tersayangmu itu ke sekolah inklusi. Saat itu juga, dunia seakan mengecil. Kata \u201cinklusi\u201d entah kenapa terdengar seperti vonis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa iya?<\/span><\/p>\n<h2><b>Sekolah inklusi bukan sekolah khusus<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam benak masyarakat umum yang dibentuk oleh bias sosial bertahun-tahun, istilah sekolah inklusi sering disamakan dengan sekolah khusus, atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-kuliah-di-jurusan-pendidikan-khusus-dan-bagaimana-rasanya-dilatih-jadi-guru-slb\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sekolah Luar Biasa (SLB)<\/a>. Padahal keduanya jelas berbeda, baik dari tujuan, pendekatan, maupun semangat yang melatarinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">SLB dirancang untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) seperti tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan sebagainya dengan metode pembelajaran yang individual dan terfokus. Tujuannya membantu peserta didik untuk berkembang sesuai keterbatasan yang mereka miliki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, sekolah inklusi menggabungkan anak dengan berbagai macam perbedaan dalam satu ruang belajar, dengan pendekatan yang adaptif dan nilai-nilai kesetaraan, keberagaman, serta penerimaan. Sederhananya, SLB memisahkan untuk memfokuskan, sedangkan sekolah inklusi menyatukan agar semua anak bisa tumbuh bersama.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenapa harus ada sekolah inklusi?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang gini. Kalau kita mau jujur, hidup ini sudah terlalu sering dikotak-kotakkan. Ya nggak, sih? Dari kecil kita sudah diajarin: pintar vs bodoh, rajin vs nakal, dsb. Padahal jauh di dalam lubuk hati, kita sebenarnya sadar bahwa hidup itu bukanlah dua sisi koin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih seperti dua sisi koin, hidup malah seperti sebungkus nasi Padang yang isinya campur-campur dan penuh kejutan. Inget nggak kita kadang kecele dengan potongan dadu yang dikira daging ternyata lengkuas? Ya begitulah sejatinya hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ujian-nasional-dikembalikan-kualitas-pendidikan-bakal-meningkat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pendidikan<\/a> juga seperti itu. Kompleks dan penuh kejutan. Itu sebabnya, perlu ada sekolah inklusi yang bisa menjadi piring besar tempat semua lauk numpuk bareng. Ada rendang, ada sayur nangka, ada sambal ijo, dan yah\u2026 kadang ada lengkuas nyempil juga. Tetapi semuanya ada dalam satu wadah untuk saling melengkapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa mudahnya, jangan sampai ada sekolah yang memaksa bibit tomat tumbuh jadi mawar dan bibit alpukat tumbuh jadi anggrek. Tetapi, jadilah sekolah yang tumbuh, sekolah yang menghidupkan. Sehingga, semua jenis \u201cbibit\u201d bisa berkembang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang ada sekolah yang demikian? Begitu mungkin kalian bertanya-tanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawabannya adalah\u2026 Ada, Gaes. Namanya Sekolah Tumbuh.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sekolah Tumbuh menjadi norma baru dunia pendidikan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Didirikan sejak tahun 2005, sekolah yang ada di Yogyakarta dan Jakarta ini berkomitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keberagaman dan kearifan lokal. Hal tersebut, sesuai dengan<a href=\"https:\/\/sekolahtumbuh.sch.id\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> 3 pilar ketumbuhan<\/a> yang mereka usung, yaitu inclusive, multicultural dan Jogja Educational Spirit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahasa bayinya, sekolah inklusi satu ini menyambut semua murid dengan berbagai macam latar belakang. Lalu, murid-murid tersebut tumbuh bersama dengan mengedepankan toleransi, sesuai dengan semangat pendidikan Yogyakarta.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_341131\" aria-describedby=\"caption-attachment-341131\" style=\"width: 1200px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-341131 size-full\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Desain-tanpa-judul-2025-06-12T102855.242.jpg\" alt=\"Sekolah Tumbuh, sekolah inklusi yang menjunjung tinggi keberagaman (Dokumentasi Sekolah Tumbuh)\" width=\"1200\" height=\"800\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Desain-tanpa-judul-2025-06-12T102855.242.jpg 1200w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Desain-tanpa-judul-2025-06-12T102855.242-300x200.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Desain-tanpa-judul-2025-06-12T102855.242-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Desain-tanpa-judul-2025-06-12T102855.242-768x512.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Desain-tanpa-judul-2025-06-12T102855.242-750x500.jpg 750w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Desain-tanpa-judul-2025-06-12T102855.242-1140x760.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-341131\" class=\"wp-caption-text\">Sekolah Tumbuh, sekolah inklusi yang menjunjung tinggi keberagaman (Dokumentasi Sekolah Tumbuh)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang bayangkan jika ciri khas yang ada pada Sekolah Tumbuh, yaitu pendekatan inklusif yang memungkinkan anak-anak dengan kebutuhan khusus belajar bersama dengan anak-anak lainnya dalam satu lingkungan yang suportif, menjadi norma baru di dunia pendidikan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Niscaya, anak-anak dapat belajar sedari dini bahwa dunia memang tidak seragam. Mereka juga belajar bahwa perbedaan bukan sesuatu yang harus dihilangkan, tapi dirayakan. Menariknya, mereka belajar bukan lewat buku teks, tapi lewat pengalaman satu kelas bersama teman yang istimewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari sanalah empati mereka pelan-pelan akan berkembang, sehingga mereka akan tumbuh jadi orang dewasa yang lebih mengerti cara menyikapi perbedaan. Mereka tidak akan mudah men-judge ataupun memberikan label saat dibenturkan dengan suatu perbedaan. Indah sekali, bukan?<\/span><\/p>\n<h2><b>Menyemai harapan bersama Sekolah Tumbuh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal sekolah inklusi ini, kalian tahu nggak apa yang membuat Sekolah Tumbuh semakin relevan\u2014bahkan terasa \u201cmaju\u201d dalam arti yang sebenarnya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan cuma karena Sekolah Tumbuh menciptakan ruang aman untuk murid dengan berbagai karakteristik, ya. Tapi, ini juga karena ia berhasil membuktikan bahwa pendekatan yang humanis dan inklusif bisa berdampingan dengan capaian akademik yang membanggakan. Buktinya, Sekolah Tumbuh bisa mengantarkan murid-muridnya untuk<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-di-turki-perlu-mempersiapkan-hal-hal-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> melanjutkan kuliah ke luar negeri<\/a>. Ada yang ke Belanda, ada yang ke Australia, bahkan ada juga yang lanjut ke Cina.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabar baiknya, meski melanjutkan belajar di luar negeri, alumni Sekolah Tumbuh tetap dapat beradaptasi dengan baik karena di sekolah asal mereka, murid-murid sekolah inklusi ini sudah dibiasakan untuk berpikir terbuka, percaya diri, punya empati dan berjiwa kolaboratif. The real definisi membawa nilai-nilai keberagaman dari Sekolah Tumbuh, ke mana pun mereka pergi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pada akhirnya\u2026<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian pasti setuju kan kalau saya bilang masa depan yang manusiawi dimulai dari kelas yang tidak diskriminatif? Setuju juga dong jika pendidikan bukan semata bisa mengerjakan soal trigonometri sambil merem atau hafal deret kimia?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi pendidikan seyogyanya jadi proses tumbuh menjadi manusia yang utuh. Yaitu, manusia yang tahu caranya menghargai, berempati, dan hidup berdampingan dengan orang yang berbeda. Seperti prinsip yang selama ini dipegang teguh oleh Sekolah Tumbuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan semua dedikasi yang telah diberikan, rasanya tak berlebihan jika kita beri apresiasi setinggi-tingginya untuk Sekolah Tumbuh.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/permendikbud-no-70-2009-tidak-usah-bawa-embel-embel-pendidikan-inklusif\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sebaiknya Permendikbud No. 70\/2009 Tidak Usah Bawa Embel-embel Pendidikan Inklusif kalau Masih Meleset<\/a>.<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini\u00a0<\/i><\/a><i>ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sekolah inklusi kerap dilabeli sebagai sekolah khusus dan terdengar seperti &#8220;vonis&#8221;. Sekolah Tumbuh berusaha meluruskan miskonsepsi tersebut.<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":341130,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[13098,28823,28824],"class_list":["post-341117","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-pilihan-redaksi","tag-sekolah-inklusi","tag-sekolah-tumbuh"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341117","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=341117"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/341117\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/341130"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=341117"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=341117"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=341117"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}