{"id":340398,"date":"2025-06-07T12:30:33","date_gmt":"2025-06-07T05:30:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=340398"},"modified":"2025-06-07T12:08:03","modified_gmt":"2025-06-07T05:08:03","slug":"anggapan-nongkrong-itu-tabu-bikin-kafe-kafe-sragen-kian-suram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/anggapan-nongkrong-itu-tabu-bikin-kafe-kafe-sragen-kian-suram\/","title":{"rendered":"Nongkrong Masih Dianggap Tabu di Sragen, Nasib Kafe di Sana Kian Suram\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membaca tulisan <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sragen-kota-yang-hidup-cuma-sampai-maghrib\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sragen, Kota yang Hidup Cuma Sampai Maghrib, Setelah Itu, Seakan Jadi Kota Mati<\/span><\/i><\/a> <span style=\"font-weight: 400;\">membuat saya penasaran dengan Sragen. Sebagai seseorang yang hidup di perkotaan, saya sulit relate dengan kenyataan-kenyataan yang tertulis dalam artikel tersebut. Saya kemudian menanyakan hal itu kepada salah seorang teman asli Sragen yang kini tinggal di Jogja. Kata dia, memang begitulah daerah dengan julukan Bumi Sukowati itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kawan saya bahkan menggarisbawahi kalimat \u201cN<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ongkrong jam 7 malam itu udah kaya tindakan subversif.\u201d Dia sangat relate dengan hal itu. Katanya, anak muda nongkrong hingga malam terlihat tabu di Sragen. Sebagai seseorang yang selama ini tinggal di Jogja (dan beberapa tahun di Jakarta), saya sama sekali tidak bisa memahami hal itu. Di dalam benak saya, anak muda dan nongkrong adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, apalagi nongkrong di kafe. Itu mengapa semakin banyak anak muda di suatu daerah, semakin menjamur pula kafe atau coffee shop di daerah tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Anak muda yang nongkrong dianggap \u201cnakal\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Sragen, anak muda yang nongkrong hingga malam hari dianggap tidak baik-baik dan lekat dengan konotasi negatif seperti pemabuk hingga \u201canak nakal\u201d. Kesan ini memang mulai luntur belakangan (setelah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/kepsuk\/pandemi-dan-wajah-sesungguhnya-para-pemimpin-kita\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pandemi<\/a>) dengan kemunculan kafe-kafe di daerah kota. Namun, sebelum itu, jangan harap kalian bisa melihat anak muda keliaran di atas jam 18.00 WIB malam. Kata teman saya, selepas jam 18.00 WIB malam, anak muda Sragen \u201cno life\u201d alias tanpa kehidupan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa alasan anak muda Sragen jarang keluar malam, selain dianggap bukan anak baik-baik, lingkungan di sana memang kurang mendukung untuk nongkrong. Sekalipun saat ini sudah ada beberapa kafe yang menjadi jujukan, jalanan dan penerangan di Sragen masih jauh dari kata baik, apalagi Sragen sisi pinggiran. Terlebih, hal-hal mistis di sana masih cukup kental. Alasan-alasan itulah yang menjadikan kebiasaan nongkrong di Sragen tidak mudah diterima.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Budaya nongkrong anak Sragen saat ini<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah pandemi, kafe mulai bermunculan di Sragen, apalagi di Sragen kota. Sebagai catatan, kafe yang dimaksud di sini bukan warung kopi yang hanya menyajikan kopi tubruk ya, tapi kafe ala-ala seperti di kota besar. Sejak saat itu, budaya nongkrong perlahan mulai populer.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga saat ini, budaya nongkrong di kafe Sragen masih berlanjut, walau memang hype-nya tidak seperti dahulu ketika tren ini pertama kali muncul. Itu mengapa, beberapa kafe yang muncul setelah pandemi mulai gulung tikar. Selain budaya nongkrong sebenarnya belum bisa sepenuhnya diterima, ada banyak alasan lain yang membuat tren ini berat untuk dilanjutkan. Seperti yang sudah disebut dalam tulisan sebelumnya, kondisi ekonomi dan daya beli jadi salah satu alasan kuat. Lebih dari itu, teman saya bilang, orang Sragen itu \u201ckagetan\u201d atau <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/FOMO\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">FOMO<\/a>, apa yang viral di media sosial atau populer di daerah lain ingin segera ditiru di daerahnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak ada pasarnya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengikuti tren daerah lain, hanya saja tren itu tetap perlu dilihat atau disaring lagi. Apakah benar-benar cocok untuk Sragen? Kata teman saya, tren kafe tidak begitu cocok di Sragen karena tidak ada pasarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti di daerah-daerah lain, pasar kafe ala-ala di Sragen adalah anak muda. Sementara, kebanyakan anak muda Sragen merantau ke luar daerah untuk studi atau mengadu nasib. Adapun orang dewasa seperti bapak-bapak dan pekerja lebih senang nongkrong di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/3-pusat-angkringan-di-jogja-yang-sepi-dan-nyaman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">angkringan<\/a> atau pos kamling sambil menyesap kopi sachet. Sebenarnya ada sih pasar anak-anak SMA dan SMP (dan pergeseran pelanggan itu mulai terjadi), tapi sekali lagi, pasar ini tidak kuat karena sering terbentur dengan anggapan \u201canak nakal\u201d. Jadi pemilik atau pengelola kafe di Sragen serba susah memang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Komentar kawan saya, Sragen memang kurang cocok untuk budaya nongkrong, terlebih nongkrong di kafe. Jauh berbeda dengan Jogja. Selain pasarnya yang sulit, nongkrong di kafe hanya sekadar jadi area bersosialisasi yang sebenarnya bisa dilakukan di mana saja. Ditambah lagi, ada persepsi negatif terhadap orang yang nongkrong. Pokoknya terlalu banyak halangan untuk kebiasaan nongkrong bisa diterima sepenuhnya. Itu mengapa kalian yang hobi nongkrong di kafe dan punya rencana pindah ke sana untuk slow living atau apapun itu, sebaiknya pikir-pikir ulang.\u00a0 \u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis : Kenia Intan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor : Intan Ekapratiwi<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/derita-tinggal-di-perbatasan-ngawi-sragen\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Derita yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Perbatasan Ngawi-Sragen: Mau Pesan Ojol, Malah Disarankan Bertapa<\/span><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anak muda nongkrong masih jadi budaya yang tabu di Sragen, dianggap bukan anak baik-baik. Itu mengapa usaha kafe di sana semakin suram. <\/p>\n","protected":false},"author":2401,"featured_media":340403,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[28761,1385,14450],"class_list":["post-340398","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kafe-sragen","tag-nongkrong","tag-sragen"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/340398","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2401"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=340398"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/340398\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/340403"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=340398"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=340398"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=340398"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}