{"id":340269,"date":"2025-06-06T15:54:36","date_gmt":"2025-06-06T08:54:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=340269"},"modified":"2025-06-06T15:54:37","modified_gmt":"2025-06-06T08:54:37","slug":"barista-menyimpan-unek-unek-ke-pelanggan-nggak-peka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/barista-menyimpan-unek-unek-ke-pelanggan-nggak-peka\/","title":{"rendered":"Unek-unek Barista yang Tidak Tersampaikan ke Pelanggan Kafe yang Kurang Peka"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, menjadi barista itu menyenangkan. Setidaknya menurut saya begitu. Bagaimana tidak, saya bisa bertemu orang tiap hari, riset dan eksperimen menu baru, dan yang paling keren, dianggap sebagai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pasar-barongan-jombang-pasar-paling-kalcer-tujuan-muda-mudi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">manusia paling kalcer<\/a> oleh society. Namun, tak ada gading yang tak retak, menjadi barista artinya juga harus siap makan hati setiap hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini disebabkan oleh tuntutan untuk tetap ramah menghadapi pelanggan, semenyebalkan dan seaneh apa pun mereka. Memang, sih, ini bagian dari hospitality, tapi kadang ada aja pelanggan yang bikin barista pengin ngamuk dan ngantemi. Tapi, ya, nggak mungkin. Ujungnya cuma bisa ngomel-ngomel sendiri, sambil memaksakan diri agar tetap ramah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, saya ingin menuliskan sebagian unek-unek yang saya alami selama bekerja sebagai barista. Biar apa? Ya, biar puas aja, sih, soalnya nggak mungkin saya ngamuk di depan orangnya langsung. Selain takut dipecat, nanti rating<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/siasat-kafe-menghadapi-pelanggan-mahasiswa-yang-meresahkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> kafe<\/a> saya jadi jelek.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Jangan buang sampah sembarangan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pikir, masalah buang sampah sembarangan ini sudah layak diangkat menjadi isu nasional yang dibahas oleh presiden dan jajaran menterinya. Bagaimana tidak, nggak pernah satu hari pun kafe saya bekerja bersih dari sampah berserakan. Mulai dari puntung rokok, plastik, sedotan, struk pembelian, dan sampah-sampah lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, ya, kafe pasti sudah menyediakan tempat sampah di setiap sudutnya. Hanya perlu sangat sedikit usaha untuk membuang sampah biar nggak berantakan. Kalaupun malas, ada pilihan untuk menyimpan sampah untuk dibuang nanti, lho. Jangan hanya karena bayar beberapa ribu jadi merasa punya pesuruh yang rela bersih-bersih sampahmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan saya malas bersih-bersih, tapi bayangkan saja, bagaimana bisa sampah yang berserakan lebih banyak dibandingkan yang ada di tempat sampah? Kan aneh. Lagi pula, salah satu daya tarik kafe itu estetikanya, setiap tempat dibuat sedemikian rupa agar eye catching dan layak difoto.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Jangan buang abu dan puntung rokok di gelas minuman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih seputar sampah, tapi kali ini khusus perokok yang entah gimana cara otaknya bekerja sampai punya ide untuk buang abu dan puntung rokok di gelas minuman. Saya kira hal kayak gini nggak seumum itu terjadi, sampai kemarin saya nemu akun <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/TikTok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">TikTok<\/a> barista yang mengeluhkan permasalah serupa. Ternyata ini termasuk isu nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya gini, sahabatku, gelas itu yang pakai bukan cuma kamu dan circle-mu aja, tapi juga dipakai orang lain. Memang betul kalau gelasnya akan dicuci, tapi yang mencuci juga geli kalau gelasnya sekotor itu. Belum lagi baunya kadang nempel, jadi harus dicuci ulang biar benar-benar bersih. Lagi pula, ya, tindakan kayak gini itu nggak etis, tahu!<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Gunakan tisu dengan bijak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Unek-unek lainnya adalah soal penggunaan tisu oleh pelanggan. Saya paham kalau tisu itu fasilitas yang diberikan secara cuma-cuma, tapi mbok dipakainya tolong yang bijak. Jangan mentang-mentang gratis, lalu bisa diambil sebanyak mungkin. Apalagi sampai diambil sebagian untuk dibawa pulang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkali-kali saya ketemu orang yang bisa menghabiskan tisu hampir setengah kotak dalam sekali duduk. Saya sampai heran tisu sebanyak ini dipakai buat apa. Selain berkontribusi ke sampah, tisu itu juga jadi beban operasional untuk manajemen kafe, lho.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Pulanglah lebih awal sebelum jam tutup<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Unek-unek terakhir, yakni pulang lebih awal sebelum jam tutup kafe. Misal, kafe tutup jam 10 malam, maka saya sarankan kalian pulang 15\u201330 menit lebih awal. Bukan tanpa alasan, sebab closing itu makan waktu. Mulai dari nyuci gelas, nyapu, ngepel, dan aktivitas bersih-bersih lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin mepet kalian pulang dengan jam tutup, maka berpotensi besar barista dan pegawai kafe lain pulang lebih telat. Dan, asal kalian tahu, ya, overtime kami itu nggak dibayar. Makanya itu kami akan merasa sangat terbantu kalau kalian pulangnya nggak mepet-mepet jam tutup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu, sebagian dari kalian pasti nggak sadar kalau melakukan hal-hal yang bikin barista ngebatin. Itulah makanya saya buat artikel ini. Siapa tahu bisa jadi bahan refleksi diri. Sebab, ada pekerja di setiap <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kopi-tuku-nggak-enak-diminum-setiap-hari-karena-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">es kopi gula aren<\/a> yang tersaji. Jadi, akan lebih menyenangkan kalau bisa saling menghargai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Dito Yudhistira Iksandy<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-jadi-barista\/\"><b>Jangan Jadi Barista. Gajinya Kecil, Gengsinya Tinggi, Nggak ada Jenjang Karier pula!<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Barista pekerjaan yang terlihat &#8220;kalcer&#8221; dari luar, tapi aslinya menyimpan banyak unek-unek, terutama terkait pelanggan nggak peka. <\/p>\n","protected":false},"author":2368,"featured_media":340296,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[6855,635,6856,21579],"class_list":["post-340269","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-barista","tag-coffee-shop","tag-kafe","tag-pelanggan-kafe"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/340269","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2368"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=340269"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/340269\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/340296"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=340269"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=340269"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=340269"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}