{"id":339832,"date":"2025-06-05T11:05:20","date_gmt":"2025-06-05T04:05:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=339832"},"modified":"2025-06-05T11:19:23","modified_gmt":"2025-06-05T04:19:23","slug":"4-pertanyaan-yang-dibenci-orang-blora","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-pertanyaan-yang-dibenci-orang-blora\/","title":{"rendered":"Jangan Ajukan Pertanyaan Ini ke Orang Blora, Mereka Sudah Malas Menjawabnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi orang Blora itu unik. Bukan hanya karena nama kabupaten yang jarang disebut-sebut di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/sisi-suram-kerja-tv-di-surabaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">TV nasional<\/a> kecuali ada ulah ormas yang sempat bentrok secara ugal-ugalan, tapi juga karena ada semacam \u201cpengalaman kolektif\u201d yang dialami orang Blora saat berkenalan dengan orang dari luar kota: ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang bikin kepala pengin nyundul tembok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya lucu, tapi kalau terus-terusan? Ya bisa jadi bahan rasan-rasan pas nongkrong di angkringan. Ini adalah empat pertanyaan klasik yang sering mampir ke kuping saya sebagai warga Blora dan pengalaman teman-teman saya yang sering bikin kami menghela napas panjang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Orang Blora pasti jadi pengelola tambang minyak ya?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Blora, khususnya wilayah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cepu-kecamatan-paling-ramai-di-tengah-blora-yang-sepi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cepu<\/a>, memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil minyak bumi. Tapi bukan berarti semua warga Blora otomatis kerja di tambang atau minimal punya saham di ExxonMobil. Pertanyaan semacam ini sering banget mampir ke saya sejak merantau di Semarang. Mulai dari teman kuliah, dosen, sampai orang baru yang kenalan di stasiun, nada pertanyaannya hampir sama: &#8220;Wah, keluargamu pasti ada yang kerja di pertambangan ya?&#8221; Seolah-olah jadi orang Blora pasti identik dekat dengan dunia tambang minyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kenyataannya, saya lahir dan besar di keluarga yang jauh dari hiruk pikuk aktivitas sumur minyak. Bapak saya adalah seorang pekerja swasta dan merantau ke luar kota. Ibu jualan warung kelontong. Terkait minyak mentah atau lantung, paling banter kami cuma bisa beli literan di penjual keliling. Bahkan, pada Maret lalu, menurut <\/span><a href=\"https:\/\/radarpati.jawapos.com\/blora\/2245761530\/700-pekerja-menganggur-izin-tambang-minyak-blora-mandek-bupati-dprd-gercep-ke-jakarta\"><span style=\"font-weight: 400;\">Siswanto selaku anggota DPRD Blora<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> mengungkapkan jika sekitar 700 penambang di Ledok dan Sambong terpaksa menganggur karena terkendala perizinan. Jadi memang nggak semua dan nggak seharusnya semua warga Blora bergulat di tambang minyak ya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Orang Blora punya lahan jati berapa hektar?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan ini biasanya muncul dari orang-orang yang baru dengar kalau Blora terkenal dengan hutan jati. Sekilas terdengar kagum, tapi lama-lama nadanya mengarah ke asumsi bahwa semua orang Blora itu bisa otomatis menjadi pewaris hutan Perhutani. Saya sendiri sampai hafal ekspresi wajah orang ketika mereka nanya, \u201cPunya lahan jati berapa hektare, tuh?\u201d seolah menganggap warga Blora sebagai konglomerat kayu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal lahan di rumah saya bahkan nggak cukup buat bikin kebun cabe. Yang saya punya cuma beberapa pot tanaman kamboja itupun sering lupa disiram. Dulu pernah ketika ditanya tentang luas hutan jati yang saya miliki, dengan mengatakan kalau keluarga saya nggak punya lahan jati berhektar-hektar seperti yang dibayangkan. Malah dibalas dengan, \u201cAh, kamu mah merendah.\u201d Sejak saat itu, tiap ditanya begitu, saya jawab dengan gaya nyantai, \u201cAda, di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenal-realita-kehidupan-bareng-harvest-moon-back-to-nature\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">game Harvest Moon<\/a>.\u201d Biar sekalian aja absurdnya.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Berarti kamu orang Samin, ya?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ajaran Samin atau yang lebih dikenal dengan Sedulur Sikep, memang berasal dari Blora dan daerah sekitarnya. Gerakan ini jadi simbol penting perlawanan rakyat kecil terhadap penjajahan dan sistem pajak kolonial yang menindas kala itu. Tapi, sayangnya, banyak orang luar yang cuma tahu sepenggal informasi dan langsung bikin kesimpulan instan: kalau dari Blora, ya pasti orang Samin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan semacam itu kadang muncul dalam bentuk guyonan receh yang justru terkesan menyepelekan. Ada yang sampai nyeletuk, \u201cBerarti kamu anti pemerintah dong?\u201d Lah, saya mah paling banter cuma anti Senin pagi, bukan anti negara juga. Terlebih orang samin saat ini juga tetap patuh pada kewajiban bernegara karena sudah tidak dijajah lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat kami yang asli Blora menghargai adat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/samin-gagal-daftar-haji-rp50-juta-uang-tabungannya-hancur-dimakan-rayap\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Samin<\/a> adalah sebuah kewajiban. Tapi, menyamaratakan semua warga Blora sebagai penganutnya justru bisa melenceng dari nilai-nilai luhur gerakan itu sendiri yang filosofis, tenang, dan sarat makna. Takutnya\u00a0 warisan budaya yang agung tersebut malah disempitkan jadi bahan candaan yang amat dangkal.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Pernah jadi blandong kayu?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini dia pertanyaan yang paling sering bikin saya gemas. Blandong\u2014sebutan untuk penebang kayu di hutan\u2014 dahulu memang profesi yang cukup umum di Blora, terutama ketika akses pekerjaan lain masih terbatas dan ekonomi masyarakat banyak bergantung pada hasil hutan. Bahkan profesi ini sempat jadi bagian dari identitas kultural warga Blora. Tapi zaman sudah berubah. Hutan jati yang dulu lebat juga kini makin menyempit, baik karena eksploitasi maupun alih fungsi lahan. Otomatis, pekerjaan sebagai blandong pun tidak lagi sepopuler dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini, warga Blora sudah banyak yang bekerja di sektor lain: mulai dari bekerja di bidang pendidikan, perdagangan, industri kreatif, sampai dunia digital. Banyak anak muda Blora yang jadi guru, konten kreator, barista, bahkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/programmer-makin-tidak-laku\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">software developer<\/a>. Tapi entah kenapa, cap \u201cblandong\u201d ini masih sering dilabelkan kepada warga Blora, seolah-olah kami semua baru turun dari hutan belantara yang menolak modernisasi. Kadang lucu, tapi lama-lama capek juga harus menjelaskan. Bukannya malu pada sejarah, tapi Blora yang sekarang sudah jauh lebih beragam dan maju. Jadi ya, mungkin sudah waktunya memperbarui template pertanyaan tentang Blora.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa pertanyaan yang kerap menyasar warga Blora, khususnya saat sedang merantau ke kota lain. Bukan soal malu atau merasa rendah diri, karena jadi orang Blora bukan sesuatu yang perlu disembunyikan\u2014kami justru bangga. Tapi, mbok ya, kalau mau tanya atau basa-basi, jangan selalu pakai template yang itu-itu saja, yang kadang malah menyinggung tanpa disadari. Niat bercanda boleh saja, asal jangan sampai bikin orang yang diajak bercanda harus pura-pura senyum sambil ngelus dada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Penulis: Dimas Junian Fadillah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/blora-bukan-cuma-cepu-daerah-lain-juga-butuh-perhatian\/\"><b>Blora Bukan Cuma Cepu, Sudah Sewajarnya Kecamatan Lain Diperhatikan agar Tak Merasa Jadi Anak Tiri!<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada beberapa pertanyaan yang terdengar sepele, tapi orang Blora tidak menyukainya karena telalu sering ditanyakan pada mereka.<\/p>\n","protected":false},"author":2710,"featured_media":340119,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8781,2501,28400],"class_list":["post-339832","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-blora","tag-jawa-timur","tag-warga-blora"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/339832","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2710"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=339832"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/339832\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/340119"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=339832"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=339832"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=339832"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}