{"id":339824,"date":"2025-06-04T13:11:43","date_gmt":"2025-06-04T06:11:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=339824"},"modified":"2025-06-04T13:11:43","modified_gmt":"2025-06-04T06:11:43","slug":"jurusan-sastra-bisa-kerja-di-mana-saja-dan-tersesat-kerja-di-mana-saja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-sastra-bisa-kerja-di-mana-saja-dan-tersesat-kerja-di-mana-saja\/","title":{"rendered":"Jurusan Sastra Bisa Kerja di Mana Saja, dan Tersesat Kerja di Mana Saja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu saya bilang ke ibu kalau saya masuk jurusan Sastra, ekspresinya langsung kayak liat kucing buang air di atas sajadah. Campur aduk antara bingung, kecewa, dan mungkin sedikit rasa jijik. \u201cItu nanti kerjanya jadi apa?\u201d tanya beliau sambil lirih, seperti sedang menyampaikan kabar duka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga nggak tahu jawabannya. Tapi, waktu itu saya percaya sama kata-kata senior di kampus: \u201cAnak sastra bisa kerja di mana aja.\u201d Kalimat ini rasanya keren banget. Saya sampai ngebayangin bisa kerja di penerbitan, media, jadi penulis naskah film, bahkan kalau rezeki dan semesta mengizinkan jadi editor novel yang suka pakai baju hitam-hitam sambil baca naskah di kafe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi sekarang, setelah lulus, kalimat itu saya sadari cuma beda tipis sama ucapan, \u201cAnak sastra bisa tersesat di mana aja.\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Kata-kata adalah perjuangan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu kuliah, saya belajar banyak hal. Dari semiotika puisi, dekonstruksi Derrida, sampai membedah makna mitologis dari cerita rakyat Minangkabau. Semuanya menarik, sampai saya sadar: nggak ada satu pun lowongan kerja yang nyari kualifikasi \u201cbisa menganalisis makna simbolik dari kalimat sapardi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah iseng ngetik \u201clowongan kerja anak sastra\u201d di mesin pencari. Yang muncul: \u201cDicari admin media sosial. Harus kreatif, bisa bikin caption menarik.\u201d Waduh, jauh banget sama ekspektasi saya yang waktu kuliah nulis esai 15 halaman tentang dinamika tokoh dalam cerpen Pramoedya. Caption yang dimaksud, ternyata cuma kayak: mood kamu hari ini kayak kopi, pahit tapi bikin nagih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata hidup anak jurusan sastra lebih banyak diwarnai perjuangan untuk tetap waras di tengah lautan ekspektasi dan kenyataan. Yang satu mengawang-awang, yang satu nyeret ke kenyataan dengan brutalisme harga sewa kos yang tiap tahun naik tapi gaji tetap UMR.<\/span><\/p>\n<h2><b>Literasi, tapi estetik dulu aja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin saya makin bingung, negara ini katanya sedang giat membangun budaya literasi. Tapi bentuk nyatanya apa? Rak buku estetik di ruang tamu yang isinya cuma novel <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Paulo_Coelho\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Paulo Coelho<\/a> sama buku motivasi 30 Hari Jadi Crazy Rich. Sisanya cuma dipajang doang, biar pas difoto buat Instagram kelihatan berwawasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Acara literasi juga banyak, tapi sering kali cuma acara seremonial. Ada duta baca, seminar menulis, dan festival sastra&#8230; yang isinya peserta-peserta dengan niat mulia, tapi kadang lebih sibuk cari angle selfie daripada nyatet materi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, bedah buku, diselenggarakan di pojokan kafe yang nyempil, dengan peserta cuma delapan orang, tiga di antaranya panitia, 3 peserta beneran, dan dua sisanya nggak sengaja nyasar karena nyari toilet.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jurusan sastra dan nasibnya yang kayak novel gagal diterbitin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya nggak bilang belajar sastra itu nggak penting. Justru penting banget. Tapi pentingnya itu bukan buat \u201cpasar kerja,\u201d tapi buat tetap waras di tengah dunia yang makin absurd. Biar kita bisa memahami manusia, menangkap nuansa, dan punya empati. Sayangnya, empati belum bisa dipakai buat bayar tagihan listrik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan yang lebih lucu lagi, kadang orang-orang yang dulu ngeledek jurusan sastra karena \u201cnggak jelas kerjanya apa\u201d malah sekarang nyari jasa nulis konten, ghostwriter, atau minta tolong bikinin kata-kata undangan nikah yang \u201cpuitis tapi jangan alay ya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata mereka, \u201cLo kan anak sastra, pasti bisa nulis kalimat indah.\u201d Iya, bisa. Tapi apakah kamu bisa bayar dengan harga indah juga?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang saya sadar, jadi anak jurusan sastra itu bukan soal \u201cmau kerja di mana\u201d, tapi lebih ke \u201cmau bertahan sampai kapan.\u201d Kita hidup di tengah masyarakat yang mengagungkan estetika kutipan sastra, tapi ogah baca bukunya. Yang suka bilang \u201cliterasi itu penting\u201d, tapi kalau baca caption panjang dikit langsung komentar \u201cskip ah, kepanjangan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya sudahlah. Mungkin hidup anak jurusan sastra memang bukan buat sukses finansial. Mungkin kita ada untuk menjaga kewarasan peradaban, jadi pengingat bahwa kata-kata punya kuasa, dan sesekali, untuk membantu teman bikin caption ulang tahun yang nyentuh tapi nggak norak.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Arif Rahman Hakim<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-sastra-indonesia-disepelekan-masa-depan-dinilai-suram\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Derita Mahasiswa yang Masuk Jurusan Sastra Indonesia sebagai Pilihan Kedua, Selalu Dipandang Sebelah Mata<\/a><\/strong><\/p>\n<div class=\"jeg_ad jeg_ad_article jnews_content_inline_2_ads \">\n<div class=\"ads-wrapper align-center \">\n<div class=\"ads_code\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mungkin hidup anak jurusan sastra memang bukan buat sukses finansial. Mungkin kita ada untuk menjaga kewarasan peradaban<\/p>\n","protected":false},"author":2974,"featured_media":339955,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[25617,28741,34],"class_list":["post-339824","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-jurusan-sastra","tag-lowongan-kerja-jurusan-sastra","tag-mahasiswa"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/339824","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2974"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=339824"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/339824\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/339955"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=339824"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=339824"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=339824"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}