{"id":33944,"date":"2020-04-06T15:13:24","date_gmt":"2020-04-06T08:13:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=33944"},"modified":"2020-04-06T15:14:23","modified_gmt":"2020-04-06T08:14:23","slug":"surat-protes-untuk-para-penjual-gorengan-pinggir-jalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surat-protes-untuk-para-penjual-gorengan-pinggir-jalan\/","title":{"rendered":"Surat Protes untuk Para Penjual Gorengan Pinggir Jalan"},"content":{"rendered":"<p>Meskipun tidak semua, saya sering menjumpai beberapa model penjual gorengan yang menyebalkan. Karena saya merasa sebagai penikmat setia gorengan, hal-hal ini harus saya sorot dan kritik demi menjaga hak saya sebagai konsumen, serta menjaga kelangsungan gorengan di masa depan.<\/p>\n<h4><strong>Protes untuk penjual gorengan #1 Nggak pake pembungkus tangan<\/strong><\/h4>\n<p>Iya, tangan. Banyak saya temukan penjual yang dengan santainya mengambil gorengannya menggunakan tangan telanjang. Nah ini nih, mbok ya pake plastik bening dibungkuskan ke tangan atau pake penjepit kan bisa. Gerak-gerik tangan kan kita nggak pernah tahu, kadang megang ini, megang itu, garuk-garuk ini, garuk-garuk itu. Otomatis tangan-tangan ini membawa berbagai macam kehidupan mikroskopis. Kasihan loh konsumenmu ini, tertulari bakteri yang ada di tangan kalian.<\/p>\n<h4><strong>Protes untuk penjual gorengan #<\/strong><strong>2 Pakai kantong plastik hitam<\/strong><\/h4>\n<p>Sangat sering saya temukan penjual yang dengan enaknya nyemplungin gorengan panas begitu saja ke dalam kantong plastik (kresek) hitam. Padahal tahu sendiri kalau kresek hitam tidak boleh dibuat membungkus bahan makanan jadi atau makanan yang panas. Bahaya, sumber kanker. Dan memang plastik secara umum (bukan cuma plastik hitam) tuh tidak boleh bersentuhan langsung dengan barang-barang panas.<\/p>\n<p>Saya kok yakin ya, para penjual gorengan tahu soal ini. Karena nyatanya mereka tetap menyediakan koran juga untuk membungkus. Paling tidak, kalau memang mau menggunakan kresek, gorengannya dibungkus koran dulu, biar sama-sama enak.<\/p>\n<h4><strong>Protes untuk penjual gorengan #<\/strong><strong>3 Tukang gorengan suka nge-<em>prank<\/em><\/strong><\/h4>\n<p>Iya, saya kali kena prank dari gorengan yang saya beli. Terutama gorengan jenis tahu isi tuh. Di gerobaknya tertulis \u201ctahu isi\u201d, wajar kan imajinasi saya bayangin isinya nggak jauh-jauh dari irisan wortel, kol, dan daun seledri yang bikin tahunya kelihatan gemuk. Eeeh, pas digigit, isinya angin.<\/p>\n<p>Lebih parah lagi, tahu yang digunakan pun tahu pong, tahu yang kalau digoreng, dalemnya bakal berongga. Pas deh tuh, digigit, maknyeees, ibarat ban bocor, udara panas di dalamnya keluar. Jika ada isinya pun, kadang bikin saya yang makan prihatin, kadang cuma bihun seuprit. Sungguh tega betul kalian, para penjual gorengan.<\/p>\n<h4><strong>Protes untuk penjual gorengan #<\/strong><strong>4 <\/strong><strong>P<\/strong><strong>elit ngasih cabe<\/strong><\/h4>\n<p>Ini tanpa sadar, mungkin naluriah ya: mereka ini ngasih cabe sekadarnya aja. Tapi, mbok ya dikira-kira, masak kita beli gorengan sampe sepuluh biji cuma dikasih cabe lima. Kan kebangetan.<\/p>\n<h4><strong>Protes untuk penjual gorengan #<\/strong><strong>5 Pilih kasih<\/strong><\/h4>\n<p>Entahlah apa kriteria yang kalian prioritaskan, wahai penjual gorengan, sampai-sampai saya bukan sekali dua kali kalian kacangin. Baik sangka saya, ah mungkin karena rame. Tapi kok berkali-kali? Apakah ada masalah sama wajah saya sehingga diskriminasi konsumen itu pantas saya alami? Jawab woy. Sudah begitu, wajah penjualnya itu loh, kadang merengut tidak ramah. Hadeeeh, yang beli jadi takut.<\/p>\n<p>Terlepas dari semua protes itu, saya tetap menghormati para pelestari gorengan ini. Bagaimanapun masih ada pedagang gorengan yang pelayanannya prima: masih mau ngasih bungkus kertas koran, tahu isinya benar-benar tahu isi, menggunakan penjepit saat mengambil, dan masih banyak lagi. Ya Allah, perkara gorengan gini doang sampe terharu.<\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Sakurai Midori, &#8220;Penjual gorengan, Jakarta&#8221;, <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/wiki\/File:Penjual_gorengan_Jakarta.JPG\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-undip-atau-unnes-kampus-paling-unggul-di-semarang-adalah-uin-walisongo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bukan Undip atau Unnes, Kampus Paling Unggul di Semarang Adalah UIN Walisongo<\/a> dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhamad-iqbal-haqiqi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhamad Iqbal Haqiqi<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gorengan adalah makanan yang disukai banyak orang. Mungkin gara-gara gorengan selalu laku, penjual gorengan jadi semena-mena. Ini tidak bisa dibiarkan.<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":34547,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1407,6005,6004],"class_list":["post-33944","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-gorengan","tag-kaki-lima","tag-penjual-gorengan"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33944","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33944"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33944\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34547"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33944"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33944"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33944"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}