{"id":339194,"date":"2025-06-01T13:58:46","date_gmt":"2025-06-01T06:58:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=339194"},"modified":"2025-06-09T12:22:24","modified_gmt":"2025-06-09T05:22:24","slug":"kediri-kuno-kini-festival-rakyat-yang-cuma-bikin-warga-trauma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kediri-kuno-kini-festival-rakyat-yang-cuma-bikin-warga-trauma\/","title":{"rendered":"Kediri Kuno Kini, Festival Rakyat yang Cuma Bikin Warga Trauma dan Kecewa Tiap Tahun"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kediri Kuno Kini merupakan sebuah festival rakyat Kediri yang digelar setiap setahun sekali di Simpang Lima Gumul. Acaranya sih nggak jauh berbeda kayak pasar malem yang notabene di dalamnya ada penampilan seni, tari, lomba, workshop, serta penjaja makanan jadul (kuno) dan juga makanan kekinian yang lagi viral (kini).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat kalian warga Kediri yang pengen berkunjung ke SLG buat melihat keramaian <a href=\"https:\/\/malang.times.co.id\/news\/berita\/8sNdd49hO\/Kuno-Kini-Fest-2025-Simpang-Lima-Gumul-Kediri-Perpaduan-Nostalgia-dan-Modernitas\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">festival<\/a> ini mending urungkan niat kalian deh sebelum dikecewakan oleh harapan. Konsep acaranya dari tahun ke tahun hampir sama aja. Daripada buang-buang duit disini mending bawa uang kalian ke pasar tradisional aja. Udah jajanannya lengkap, murah-murah pula.<\/span><\/p>\n<h2><b>Harga makanan di Kediri Kuno Kini nggak ngotak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katanya sih ini festival rakyat, tapi harga makanan sesendok aja kok sekelas gaji pejabat?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak banget warga yang mengeluhkan kena scam alias penipuan di stand bazar Kediri Kuno Kini. Hampir semua tenant tidak mencantumkan daftar harga menunya. Apalagi banner yang ada di depan stand-stand makanan kalau dilihat dari kejauhan sih tulisannya harga mulai dari 5 ribu gede banget, kayak omon-omon pemerintah konoha. Eh lha kok ternyata pas pembeli pada merapat ternyata terselip kata &#8220;potongan&#8221; yang sangat kecil banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Parahnya lagi, pas pembeli di Kediri Kuno Kini nanya harganya berapaan. Bukannya dijawab malah langsung dibungkusin sama penjualnya. Giliran makanannya udah jadi baru bilang 24 ribu sambil menyodorkan makanannya. Kalau udah kayak gini kan pembeli jadi harus terpaksa membayar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau rasanya enak sih masih nggak terlalu mengecewakan banget. Lha ini udah mahal, rasanya nggak karuan, porsinya juga seuprit banget. Bayangin aja, katanya corndog (10 ribu) taunya cuma Sosis So Nice. Jagung tarik (20 ribu) jangan harap dapat mozarella enak, nyatanya cuma aci dikasih air mana cuma se-cup kopi lagi. Es jeruk (10 ribu), jus alpukat (24 ribu) rasanya hambar dan didominasi sama es batu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gongnya sih ada di cumi bakar, banyak warga yang ketipu sama penjual cumi bakar. Dikira cumi bakar 5 ribu, taunya diskon 5 ribu kalau beli 2, mana 1 aja harganya 30 ribu, asli gimmick banget bannernya. Tau gitu mending buat beli lapis kukus Joyoboyo, sedus cuma 24 ribu rasanya enak, ngenyangin lagi, orang serumah juga kebagian. Kediri Kuno Kini gini banget dah.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kediri-kuno-kini-festival-rakyat-yang-cuma-bikin-warga-trauma\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Nggak seimbang<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Nggak seimbang antara yang jadul sama kekiniannya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya sih dari namanya aja Kediri Kuno Kini, artinya jadul dan masa kini, tapi mbok ya yang imbang gitu lo. Masak proporsinya malah 80% kekinian sisanya kuno cuma 20%. Kesan kunonya malah hilang. Kebanyakan makanan yang dijual korea-korea-an, thrifting pula. Kunonya cuma di pakaian lurik-lurik yang dikenakan sebagian penjualnya aja kah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekspektasi warga Kediri sih banyak yang menjual jajanan tempo dulu, seperti gethuk, tiwul, sawut, blendung jagung dan kawanannya. Kalau konsepnya begini saya rasa bakalan banyak yang tertarik. Tapi nyatanya zonk, ya ada sih yang jual, cuma bisa dihitung jari aja. Eh, realitasnya malah jasuke, corn dog, kebab, burger, seblak. Kalau itu sih konsepnya sama aja kayak CFD, cuma pindah jam aja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari tahun kemarin sebenarnya hal ini udah ada dan bikin warga greget, cuma emang beritanya baru viral dan ramai diperbincangkan di media sosial baru-baru ini, maklumlah tinggal di negeri Konoha. Yah, semoga segera ada tindakan dari Masbup biar tahun berikutnya tidak semakin merusak citra Kediri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toh namanya festival rakyat harusnya semua kalangan bisa menikmatinya dengan enjoy. Ingat, tidak semua pengunjung Kediri Kuno Kini punya banyak uang. Terkadang mereka datang hanya untuk refreshing sederhana.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Salsa Bela<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sisi-gelap-hidup-di-pedesaan-kabupaten-kediri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sisi Gelap Hidup di Pedesaan Kabupaten Kediri: Suasananya Membosankan, Tiap Hari Jadi Bahan Gunjingan Tetangga, Plus Penuh Jamet!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2><strong>Hak Jawab dan Keberatan Atas Tulisan Salsa Bela Berjudul : Kediri Kuno Kini, Festival Rakyat yang Cuma Bikin Warga Trauma dan Kecewa Tiap Tahun<\/strong><\/h2>\n<h2><b>Ajakan Salsa Bela Dicueki, Warga Kediri Tetap Ramaikan Kuno Kini\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menanggapi tulisan Salsa Bela yang terbit di <\/span><a href=\"http:\/\/mojok.co\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok.co<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> pada 1 Juni 2025 berjudul, Kediri Kuno Kini, Festival Rakyat yang Cuma Bikin Warga Trauma dan Kecewa Tiap Tahun. Saat menulis ini, saya sedang mengkhawatirkan kesehatan Salsa Bela. Hatinya pasti hancur berkeping-keping. Ibarat orang sedang kasmaran, cintanya bertepuk bersebelah tangan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semangat Salsa mengajak warga tidak datang ke Festival Kuno Kini 2025 ditolak mentah-mentah. Penolakan itu tampak di malam penutupan pada Minggu (1\/5). Bukannya lesu, warga penuh semangat datang berbondong-bondong ke lokasi. Festival memperingati Hari Jadi ke 1.221 Kabupaten Kediri itu malah menjadi lautan manusia. Pengunjungnya meledak hingga 42.518 orang. Angka itu tertinggi sejak festival dimulai pada Jumat (23\/5) lalu. Total pengunjung selama sepuluh hari mencapai 253.180 orang.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_340668\" aria-describedby=\"caption-attachment-340668\" style=\"width: 1200px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-340668\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T122107.171.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"800\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T122107.171.jpg 1200w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T122107.171-300x200.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T122107.171-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T122107.171-768x512.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T122107.171-750x500.jpg 750w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T122107.171-1140x760.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-340668\" class=\"wp-caption-text\">Antusiasme warga pada gelaran seni.<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa bisa seramai itu? Ini yang luput dari pandangan Salsa Bela. Di festival itu ada 405 seniman yang tampil. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Jika satu seniman saja bawa keluarganya, sudah bisa dihitung berapa jumlah yang datang. Belum lagi jika mereka mengajak teman dan tetangganya, bisa semakin mumet Salsa Bela menghitung jumlahnya..\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan ini yang mungkin tidak terjangkau di pikirannya Salsa. Panggung yang disiapkan untuk ratusan seniman itu adalah bentuk apresiasi kepada mereka yang terus berusaha menjaga tradisi dan budaya. Dan semua pertunjukkan untuk rakyat itu bisa dinikmati secara cuma-cuma oleh pengunjung.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Salsa Bela Sudah Tak Adil sejak dalam Pikiran! Menihilkan Kejujuran Ratusan UMKM, Mengglorifikasikan Lima Stan Bermasalah\u00a0\u00a0\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salsa Bela menyebut, harga di Festival Kuno Kini tak masuk akal. Disampaikan dengan tanda tanya, dia bilang jika makanan sesendok (di Festival Kuno Kini) sekelas gaji pejabat. Terlalu lebay. Dianggap harganya sama dengan gaji pejabat pertamina yang angkanya mencapai miliaran rupiah. Hmm\u2026\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah yang disampaikan Salsa ada itu di stan penjual cumi panggang. Tulisan potongan harga Rp 5 ribu di banner membuat pembeli terkecoh. Orang mengira itu harga cuminya, karena tulisan Rp5 ribu sangat besar. Bagi penjual, semakin banyak yang berhenti maka strategi marketingnya berhasil. Tetapi si pembeli, merasa kena tipu. Karena harga aslinya adalah Rp 30 ribu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka yang akalnya sehat pasti tidak akan percaya harga cumi Rp 5 ribu. Kecuali, cumi yang dijual itu adalah anak cumi sebesar kelingking bayi. Karena dianggap sudah meresahkan pengunjung, panitia langsung meminta penjualnya untuk memasang sesuai harga aslinya. Selain cumi, ada beberapa menu lagi yang dianggap bermasalah.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Total ada lima menu yang bermasalah. Anggap saja kelima menu itu disajikan oleh\u00a0 lima stan berbeda. Selain cumi panggang, ada corndog, jagung tarik, es jeruk, dan jus alpukat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, lima stan bermasalah itu baru masuk ke panitia di hari kedua. Sebenarnya panitia tidak hanya diam, mereka langsung memberi tindakan. Bukan hanya meminta penjualnya pasang daftar harga, tapi juga membuka posko layanan pengaduan.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_340667\" aria-describedby=\"caption-attachment-340667\" style=\"width: 1200px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-340667\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T121722.240.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"800\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T121722.240.jpg 1200w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T121722.240-300x200.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T121722.240-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T121722.240-768x512.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T121722.240-750x500.jpg 750w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Untitled-design-2025-06-09T121722.240-1140x760.jpg 1140w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-340667\" class=\"wp-caption-text\">Harga cumi setelah ditegur panitia<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hebatnya lagi, panitia juga menyampaikan permohonan maaf ke pengunjung. Upaya panitia untuk terus berbenah itu agaknya tidak mendapat tempat di tulisan Salsa Bela. Dan nampaknya panitia menyadari jika niat baik tak selalu mendapat respons yang baik. Di sinilah waktunya falsafah Jawa itu dipakai: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nrimo ing pandum<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itulah, saya mendakwa ulasan Salsa Bela terkait Festival Kuno Kini itu sangat berlebihan dan tendensius. Hanya karena lima stan bermasalah, ratusan pelaku UMKM yang jujur harus kena imbasnya. Untuk diketahui, ada 257 stan yang dibuka untuk produk UMKM. .\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ulasan Salsa Bela tak ada niat baiknya. Jika ada, pasti dia akan memberi masukan dan saran ke panitia. Bukan malah mengagitasi warga agar tidak datang ke festival. Sangat naif. Salsa sepertinya sengaja mematikan upaya ratusan pelaku UMKM yang sedang mengais rezeki dan berjuang menjual produknya ke pengunjung Festival Kuno Kini. Keterlaluan!\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang tidak fair dari tulisan Salsa Bela adalah dia terus mendengungkan lima stan bermasalah dan menihilkan kejujuran ratusan pelaku UMKM yang juga buka stan di Festival Kuno Kini. Karena itulah, tidak berlebihan jika saya sebut, tulisan Salsa yang mengklaim warga Kediri trauma dan kecewa adalah sesat dan menyesatkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi pengobat lara ratusan pelaku usaha mikro yang menjadi peserta Festival Kuno Kini. Jangan lelah untuk terus berbuat baik. Salam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Penulis<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Rekian.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Panitia Festival Kuno Kini dan\u00a0 wartawan Jawa Pos Radar Kediri.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Buat kalian yang pengen berkunjung ke SLG untuk menikmati Kediri Kuno Kini, mending urungkan niat kalian deh sebelum dikecewakan oleh harapan<\/p>\n","protected":false},"author":2733,"featured_media":280673,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6,1],"tags":[9480,6470,28706],"class_list":["post-339194","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-nusantara","tag-festival","tag-kediri","tag-kediri-kuno-kini"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/339194","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2733"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=339194"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/339194\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/280673"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=339194"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=339194"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=339194"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}