{"id":338867,"date":"2025-06-01T15:44:52","date_gmt":"2025-06-01T08:44:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=338867"},"modified":"2025-06-01T23:33:52","modified_gmt":"2025-06-01T16:33:52","slug":"jogja-kian-bebas-maba-muslim-mending-mondok-daripada-kos","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-kian-bebas-maba-muslim-mending-mondok-daripada-kos\/","title":{"rendered":"Jogja Makin Bebas, Mahasiswa Baru Muslim Lebih Baik Tinggal di Pondok daripada Ngekos"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kampus\/lulus-utbk-snbt-tapi-salah-jurusan-alhasil-nyaris-do\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">SNBT<\/a> sudah diumumkan beberapa waktu lalu. Ribuan calon mahasiswa baru (maba) mengincar Jogja sebagai salah satu daerah untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Maklum saja, di daerah ini terdapat banyak universitas negeri dan swasta berkualitas. Terlebih, ada Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu universitas negeri terbaik di indonesia yang peminatnya mencapai puluhan ribu camaba tiap tahun. Bahkan, di SNBT ini saja, ada sekitar 80.000 peserta SNBT\u00a0 yang mendaftar ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kampus\/ugm-telah-berubah-dan-kehilangan-jari-diri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UGM<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Angka puluhan ribu itu baru catatan satu universitas. Padahal, perguruan tinggi populer di Yogyakarta ada banyak. Artinya, jumlah orang-orang yang berminat lanjut studi di Jogja nggak main-main.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ribuan mahasiswa yang datang untuk menuntut ilmu itu berasal dari berbagai daerah dan beragam latar belakang. Itu mengapa hidup sebagai perantauan baru di Kota Pelajar bisa agak menantang. Bukan sekadar menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru, bahasa, hingga makanan yang punya cita rasa manis. Bersosialisasi dengan teman-teman kampus, teman kos, maupun tetangga sekitar tempat tinggal bisa jadi proses penyesuaian yang tidak mudah.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Nyantri sambil kuliah bisa jadi pilihan tepat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di proses penyesuaian ini kalau tidak hati-hati mahasiswa yang baru merantau bisa terseret arus yang kurang baik. Bukannya menakut-nakuti, tapi itu benar bisa terjadi apalagi kalau perantau tidak memiliki pertahanan diri yang kuat. Itu mengapa, saya menyarankan teman-teman mahasiswa memilih lingkungan yang familiar atau dikenal terlebih dahulu sebagai awalan merantau. Tinggal di pondok atau mondok (nyantri) bagi calon maba Muslim bisa jadi pilihan,\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa begitu? Hampir lima tahun saya menjalani hidup sebagai mahasiswa sekaligus santri. Meski saya tak punya latar belakang mondok sebelumnya, tetapi saya mampu bertahan. Bukan sebab saya tangguh. Namun, iklim Jogja hari ini rasa-rasanya akan lebih aman bila aktivitas akademik bersanding dengan kegiatan religius.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-kian-bebas-maba-muslim-mending-mondok-daripada-kos\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Jogja yang &#8230;<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Jogja yang semakin bebas jadi tantangan perantau pemula<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang sudah lama merantau di Jogja pasti sudah tidak asing dengan istilah kos-kosan LV. Tempat ini menandakan betapa rumit dan dinamis kehidupan ngekos di Yogyakarta. Banyak tulisan di Terminal Mojok yang sudah membahas soal kos LV. Salah satu yang menarik adalah bagaiamana kos-kosan ini mulai menjamur di tempat-tempat yang tidak pernah diduga atau dibayangkan sebelumnya. <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kos-lv-di-gamping-sleman-diminati-mahasiswa-warga-resah\/2\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kos LV di Gamping Sleman Banyak Diminati Mahasiswa Membuat Warga Sekitar Resah<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain soal kos-kosan, perantau Jogja juga perlu waspada dengan tindakan-tindakan kriminal yang terus membayangi. Mereka yang sudah lama di Jogja pasti tidak asing dengan aksi klitih, persoalan miras, hingga begal payudara yang meresahkan warga. Melihat berbagai aksi kriminal yang meresahkan, terkadang Jogja terasa seperti daerah yang begitu bebas, daerah tanpa aturan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Mondok bisa jadi gerbang awal penyesuaian<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat banyaknya peristiwa\u00a0 itu, mondok bagi calon maba muslim bisa jadi gerbang awal mengenal Jogja secara lebih aman. Dengan tinggal di pondok, calon maba bisa tetap belajar dan memperkuat nilai-nilai agama, sambil perlahan mengenal sekitarnya. Mengenal dinamika sosial hidup Jogja yang tidak banyak ditemui di daerah-daerah.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin banyak dari kalian berkomentar, mondok bikin calon maba nggak produktif, terutama di organisasi-organisasi kampus. Jujur, dulu saya juga sempat begitu. Tapi, waktu dan pengalaman membuat saya bisa menyeimbangkan kehidupan di kampus dan pondok. Saya tetap bisa aktif di kampus, bahkan bisa mengikuti lomba tingkat regional hingga nasional. Menjelang akhir studi, saya bahkan berkesempatan ikut <a href=\"https:\/\/partnership.kemdikbud.go.id\/academic\/read\/indonesian-international-student-mobility-awards-iisma\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">IISMA<\/a> ke Eropa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Puncaknya, saya bisa lulus tepat waktu dengan IPK yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sementara, teman-teman lain yang kuliah saja nyatanya banyak yang mesti ambil semester tambahan. Sebagai orang yang biasa-biasa saja, saya bersyukur atas pilihan mondok sekaligus kuliah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana kalian para calon maba Jogja, tertarik menjalani mondok sambil kuliah?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: M. Khoirul Imamil Mutaqin<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/warung-madura-punya-aturan-tidak-tertulis-yang-baiknya-dipatuhi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Aturan Tidak Tertulis Belanja di Warung Madura yang Beda Jauh dengan Indomaret dan Alfamart<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tinggal di pondok bisa jadi pilihan ketika awal merantau di Jogja, apalagi daerah ini terasa semakin bebas dan banyak aksi meresahkan. <\/p>\n","protected":false},"author":2966,"featured_media":339361,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[115,5591,2743,1387,6245],"class_list":["post-338867","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-jogja","tag-kos","tag-maba","tag-mahasiswa-baru","tag-pondok"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/338867","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2966"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=338867"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/338867\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/339361"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=338867"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=338867"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=338867"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}