{"id":338392,"date":"2025-05-27T13:44:08","date_gmt":"2025-05-27T06:44:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=338392"},"modified":"2025-05-27T13:45:14","modified_gmt":"2025-05-27T06:45:14","slug":"jurusan-bahasa-mandarin-uns-murah-tapi-kuliahnya-susah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jurusan-bahasa-mandarin-uns-murah-tapi-kuliahnya-susah\/","title":{"rendered":"Kuliah Jurusan Bahasa Mandarin UNS Murah, tapi Kepala Ingin Meledak karena Harus Menghafal Ribuan Kosakata Susah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah kurang lebih dua tahun saya menjadi mahasiswa jurusan Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok di Universitas Sebelas Maret (UNS). Selama 4 semester bertahan di jurusan ini, kepala saya rasanya ingin meledak karena menghafal begitu banyak kosakata bahasa Mandarin yang rumit. Kalau saya hitung, setidaknya ada 1.200 kosakata yang kini melekat di kepala saya. Dan, jumlah itu akan terus bertambah ke depan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat kenyataan ini, saya hanya bisa menghela nafas panjang. Dilihat dari mata kuliahnya, jurusan ini jauh dari kata mudah. Tapi, untung saja, UKT Prodi Sastra UNS (di mana jurusan Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok termasuk di dalamnya) tergolong murah dibanding prodi-prodi lain. Melansir <\/span><a href=\"https:\/\/cdnb.uns.ac.id\/spmb\/template\/biaya\/2024\/695_Sarjana_SNBP_SNBT.pdf\"><span style=\"font-weight: 400;\">data UNS<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, UKT paling tinggi dipatok sekitar Rp7 juta, berbeda dengan kebanyakan prodi yang bisa mencapai dua digit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biaya yang harus dibayar mahasiswa jurusan bahasa Mandarin UNS bukan hanya dalam bentuk uang, tapi juga waktu, energi, dan ingatan ketika kuliah. Sebab, tanpa upaya yang keras, saya rasa tidak mungkin bisa lepas dari jurusan yang susah. Dalam artikel ini saya akan menceritakan seberapa sulit kuliah jurusan Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok UNS.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Komponen bahasa Mandarin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya, Bahasa Mandarin memiliki tiga komponen utama yaitu Hanzi (\u6c49\u5b57) huruf atau karakter yang digunakan dalam penulisan Bahasa Mandarin, contoh gampangnya adalah seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/aksara-jawa-bukan-hal-kuno\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">aksara Jawa<\/a>. Lalu ada Pinyin (\u62fc\u97f3) sebagai huruf latin untuk membantu membaca Hanzi. Bersamaan dengan itu kegunaan Pinyin sebagai penunjuk cara pengucapan nadanya yang dikenal dengan Sh\u0113ngdi\u00e0o (\u58f0\u8c03).<\/span><\/p>\n<h2><b>Harus hafal Hanzi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belajar bahasa Mandarin harus hafal banyak Hanzi. Kalau kalian tidak hafal, otomatis tidak bisa membaca dan menulis, ini menjadi tantangan yang sangat besar bagi orang yang pelupa karena walaupun Hanzi ada banyak, tetapi bentuknya juga banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja saya lulus dari jurusan ini harus memiliki sertifikat HSK 5, HSK yang kepanjangannya dari (H\u00e0ny\u01d4 Shu\u01d0p\u00edng K\u01ceosh\u00ec \/ \u6c49\u8bed\u6c34\u5e73\u8003\u8bd5) ini adalah ujian kemampuan bahasa Mandarin resmi yang diakui secara internasional. HSK dibagi menjadi enam level, dari HSK 1 yang paling dasar sampai HSK 6 yang paling tinggi, dan HSK 5 harus menguasai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/bahasa-indonesia-miskin-kosakata\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kosakata<\/a> sebanyak 2.500, itu harus hafal semua hanzinya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hafal Hanzi belum tentu hafal Pinyin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, hafal Hanzi belum tentu bisa hafal pinyin, ini semua dikarenakan oleh banyak faktor. Salah satunya, satu Hanzi bisa punya beberapa Pinyin contohnya saja hanzi ini \u4e50 bisa dibaca l\u00e8 (senang) atau yu\u00e8 (musik). Jadi meskipun kalian tau hanzinya, kamu belum tentu tau cara bacanya dalam konteks tertentu dari suatu bacaan. Gimana udah mulai pusing? Lalu, apakah hafal Pinyin bisa hafal Hanzi? Tentu saja tidak, itu mengapa orang yang belajar bahasa Mandarin harus betul-betul hafal Hanzi dan Pinyin-nya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tidak hanya Hafal Hanzi dan Pinyin, harus hafal nada juga<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tantangannya tidak hanya berhenti sampai situ saja, seperti yang sudah saya singgung diawal, bahwa bahasa Mandarin memiliki nada. Oke, kalian hafal Hanzi dan Pinyin tetapi kalau tidak hafal nadanya artinya akan berbeda. Banyak orang yang sudah ngomong, ngoceh panjang lebar tetapi tidak bisa dipahami karena nadanya salah jadi pendengar akan mikir keras \u201cWong iki ngomong opo?\u201d<\/span><\/p>\n<h2><b>Bahasa Mandarin harus jeli memerhatikan ejaan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian sudah melewati step diatas tadi kalian juga harus memperhatikan yang Namanya ejaan karena dalam bahasa Mandarin ejaannya berbeda dengan Bahasa Indonesia, contohnya dalam bahasa Mandarin huruf B dibaca P, G dibaca K, dan masih banyak lagi, yang menurut saya menjadi sulit adalah ini \u201cc\u201d, \u201cch\u201d, \u201cz\u201d, \u201czh\u201d, \u201cr\u201d, dan \u201csh\u201d lalu \u201cz\u201d, \u201cc\u201d, dan \u201cs\u201d. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Semua itu perlu bermain lidah, bentuk bibir, dan bermain nafas. Ini keliatannya mudah, tetapi nyatanya susah. Banyak orang yang sudah belajar bahasa Mandarin 2-3 tahun saja masih salah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, kuliah jurusan bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok UNS itu \u201cmahal\u201d. Mungkin <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kampus\/lolos-snbp-uny-tapi-ukt-tinggi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">UKT<\/a>-nya tidak seberapa, tapi tetap saja perlu mencurahkan banyak energi dan waktu untuk menguasainya. Itu mengapa, untuk kalian yang hendak ambil jurusan ini, lebih baik pikirkan baik-baik. Jangan hanya tergiur akan akan biaya kuliahnya yang cenderung ramah di kantong.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Imanuel Joseph Phanata<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Edit: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tersesat-di-jurusan-sosiologi-universitas-andalas-nggak-menyesal\/\"><b>Pengalaman Kuliah Jurusan Sosiologi Universitas Andalas, Tidak Menyesal karena Merasa Tersesat di Jalan yang Benar<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jurusan bahasa Mandarin di UNS memang ramah di kantong, tapi kuliahnya susah, harus menghafal ribuan kosakata rumit. <\/p>\n","protected":false},"author":2053,"featured_media":338555,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[16268,28654,11552,6570],"class_list":["post-338392","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-bahasa-mandarin","tag-jurusan-bahasa-mandarin","tag-mandarin","tag-uns"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/338392","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2053"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=338392"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/338392\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/338555"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=338392"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=338392"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=338392"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}