{"id":337984,"date":"2025-05-25T11:36:19","date_gmt":"2025-05-25T04:36:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=337984"},"modified":"2025-05-25T11:36:19","modified_gmt":"2025-05-25T04:36:19","slug":"umr-bukan-upah-layak-untuk-sarjana-fresh-graduate-itu-penghinaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/umr-bukan-upah-layak-untuk-sarjana-fresh-graduate-itu-penghinaan\/","title":{"rendered":"Kuliah Mahal, Gaji Minimal: UMR Bukan Upah Layak untuk Sarjana Fresh Graduate, Itu Penghinaan!"},"content":{"rendered":"<div class=\"x_elementToProof\" data-olk-copy-source=\"MessageBody\">\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa minggu yang lalu, saya melihat sebuah reels singkat di Instagram. Dalam <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/DFppwuQhuoV\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">video tersebut<\/a>, orang Afrika Selatan berkulit putih yang tinggal di Indonesia ini mempertanyakan: mengapa lulusan S1 di Indonesia digaji setara UMR? Baginya, ini adalah culture shock terbesar selama tinggal di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di negaranya yang bahkan belum tergolong negara maju, upah minimum hanya berlaku bagi pekerja yang tidak kuliah. Sementara di sini? Empat tahun kuliah, puluhan SKS, skripsi berdarah-darah, dan yang ditawarkan adalah gaji minimum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasannya klasik dan terdengar masuk akal: \u201cBelum punya pengalaman.\u201d Tapi di balik kalimat itu tersembunyi satu ironi besar: pendidikan empat tahun dianggap belum cukup sebagai modal kerja. Lalu, gelar sarjana itu apa? Sertifikat? Dekorasi LinkedIn? Atau cuma penanda bahwa kamu siap kerja keras dengan upah pas-pasan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saatnya kita pertanyakan logika ini. Bukan karena kita manja, tapi karena ada tradisi korporasi yang terlalu nyaman membayar murah sambil menyuruh kita diam.<\/span><\/p>\n<h2><b>UMR itu pendapatan minimum untuk hidup<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari luruskan satu hal dulu: UMR itu batas gaji paling bawah, bukan harga mati. Itu semacam \u201cjangan dibayar lebih rendah dari ini ya, karena itu nggak manusiawi.\u201d UMR sejatinya dibuat sebagai jaring pengaman agar pekerja bisa hidup. Cukup buat bayar kos, makan sederhana, dan nebeng WiFi tetangga. Itu pun seringnya masih ngos-ngosan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi kalau fresh grad dikasih gaji UMR, itu artinya dia pas-pasan buat hidup. Padahal, dia datang dengan titel sarjana, IPK, dan kemampuan presentasi yang dulu mungkin aja pernah bikin pernah bikin dosen manggut-manggut sebelum akhirnya bilang: revisi, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gawatnya, UMR dijadikan semacam preset default buat semua entry-level job, seolah-olah sistemnya bilang: \u201cKamu belum layak dihargai lebih tinggi sampai kamu membuktikan diri dulu.\u201d Padahal pekerjaan yang ditawarkan seringkali nggak entry-entry amat: deadline-nya ketat, ekspektasinya tinggi, kadang disuruh multitasking sampai mirip karyawan lima divisi dijadikan satu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, kalau lulusan S1 dengan gaji UMR aja banyak dijustifikasi, maka lulusan SMA\/K atau di bawahnya akan dengan mudah digaji di bawah UMR. Kecurigaan saya ini pun terkonfirmasi dengan kenyataan pahit di lapangan: 54,3% pekerja digaji di bawah upah minimum provinsi di awal tahun 2024 (<\/span><a href=\"https:\/\/databoks.katadata.co.id\/teknologi-telekomunikasi\/statistik\/c197c372d751f66\/28-juta-karyawan-terima-gaji-di-bawah-ump-awal-2024\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sumber: BPS, dilansir dari Databoks<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">). Apalah artinya UMR kalo lebih dari setengah tenaga kerja aja diberi upah di bawah level minimum?<\/span><\/p>\n<h2><b>Lulusan sarjana tidak kosong, tak layak digaji UMR<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada anggapan aneh yang berkembang: \u201cFresh grad itu belum punya value, karena belum punya pengalaman.\u201d Well, let\u2019s talk value.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama kuliah, kita dilatih mikir sistematis, kritis, dan logis. Kita belajar nulis laporan, bikin presentasi, baca jurnal dan buku tebal yang bikin kepala nyeri dan mata buram. Kita juga dituntut kerja bareng kelompok yang kadang isinya makhluk-makhluk tak bertanggung jawab, dan dari situ, kita belajar problem solving level dewa. Itu semua skill yang terpakai banget di dunia kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jelas, itu semua bukan cuma teori di atas kertas. Itu modal. Modal untuk bekerja, untuk beradaptasi, untuk terus belajar di tempat kerja nantinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita nggak akan naif. Tentu saja pengalaman itu penting. Masalahnya, banyak perusahaan di Indonesia suka bilang, \u201cKami butuh orang yang berpengalaman.\u201d Tapi\u2026 posisi yang dibuka judulnya entry level. Lho, entry level tapi harus berpengalaman? Ini logikanya aneh. Kayak buka lowongan untuk menjadi bayi tapi syaratnya: \u201cMinimal pernah sekolah PAUD\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka memang belum tahu segalanya, tapi bukan berarti mereka nggak tahu apa-apa. Justru di masa-masa awal itulah mereka lebih adaptif, lebih gesit, dan nggak terlalu terjebak zona nyaman. Jadi kalau ada perusahaan yang ngomong, \u201cKami nggak bisa kasih gaji tinggi karena kamu belum pengalaman,\u201d mungkin yang sebenarnya mereka maksud adalah:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami pengin kamu kerja banyak, dibayar sedikit, dan nggak banyak nanya.\u201d<\/span><\/p><\/blockquote>\n<h2><b>Stigma Gen Z: manja tapi maunya gaji tinggi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu ada fresh grad yang bilang, \u201cSaya berharap digaji lebih dari UMR,\u201d langsung keluar komentar-komentar sarkas:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAnak zaman sekarang maunya instan.\u201d<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> \u201cBaru lulus aja udah banyak maunya.\u201d<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> \u201cBelum kerja udah ngeluh.\u201d<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> \u201cGue mah dapet kerja aja udah bersyukur.\u201d<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, pekerja sekarang sebenarnya lebih sadar realitas aja. Mereka cuma ingin hidup layak. Mereka sadar bahwa hidup di kota besar dengan gaji UMR itu ya, susah. Bayar kos? Mahal. Transportasi? Boros. Belum lagi kalau disuruh bantu biaya keluarga. Mereka nggak minta digaji kayak manajer, cuma minta diakui bahwa pendidikan mereka punya nilai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seolah-olah minta upah layak adalah bentuk arogansi. Menuntut wajar bukan berarti manja. Menginginkan upah pantas bukan berarti arogan. Ini soal martabat tenaga kerja. Yang luput dilihat adalah: Gen Z ini justru lebih terbuka, lebih kritis, dan lebih berani menolak eksploitasi. Dan bukankah itu ciri generasi yang sehat? Yang sadar haknya, dan tahu cara memperjuangkannya? Yang seharusnya dikritik bukan anak muda yang bersuara, tapi sistem yang senang memanfaatkan mereka dalam keadaan diam.<\/span><\/p>\n<h2><b>Saatnya revisi standar gaji entry level<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita perlu jujur: standar gaji entry-level di Indonesia masih terlalu rendah untuk ukuran tenaga kerja yang terdidik. Idealnya, fresh grad sarjana layak mendapatkan gaji minimal 20\u201330% di atas UMR. Bukan karena mereka sok hebat, tapi karena mereka datang dengan modal: pemahaman teoritis, kemampuan berpikir analitis, dan potensi berkembang yang harus dihargai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan tolong, perusahaan juga jangan berlindung di balik dalih \u201cmasih belajar\u201d. Kalau pekerja baru disuruh menyerap banyak hal sambil menjalankan jobdesc yang kompleks, itu bukan masa belajar\u200a\u2014\u200aitu masa kerja. Dan kerja harus dibayar setimpal. Pemerintah, kampus, dan bahkan media pun perlu ikut menyuarakan pentingnya revisi standar gaji ini. Bukan hanya untuk kesejahteraan generasi muda, tapi untuk menciptakan ekosistem kerja yang sehat dan kompetitif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menggaji fresh graduate lebih dari UMR bukan tindakan filantropi. Itu adalah bentuk penghargaan terhadap proses belajar, waktu, dan energi yang sudah diinvestasikan. Kita perlu berhenti menyalahkan generasi muda yang berani bersuara. Justru, kita harus curiga sama sistem yang menganggap \u201ckerja keras di awal harus dibayar murah dulu.\u201d Kalau semua pekerja dibayar murah saat masih belajar, siapa yang akan tumbuh jadi profesional?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Faqih<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/begini-cara-agar-hidup-selamat-di-jogja-dengan-gaji-umr-jogja-2025\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Begini Cara agar Hidup Selamat di Jogja dengan Gaji UMR Jogja 2025: Harus Siap Menderita karena Itu Satu-satunya Pilihan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mari luruskan satu hal dulu: UMR itu batas gaji paling bawah, bukan harga mati. Jadi sudah tidak selayaknya fresh graduate digaji segitu.<\/p>\n","protected":false},"author":2917,"featured_media":338128,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[604,4102,2064,4602],"class_list":["post-337984","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-fresh-graduate","tag-gaji-umr","tag-sarjana","tag-umr"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/337984","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2917"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=337984"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/337984\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/338128"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=337984"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=337984"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=337984"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}