{"id":337915,"date":"2025-05-24T12:40:08","date_gmt":"2025-05-24T05:40:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=337915"},"modified":"2025-05-24T12:40:08","modified_gmt":"2025-05-24T05:40:08","slug":"jogja-dan-masalah-banjir-yang-tak-kunjung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-dan-masalah-banjir-yang-tak-kunjung\/","title":{"rendered":"Jogja dan Masalah Banjir yang Tak Kunjung Usai: Diguyur Hujan Sekali, Banjirnya Berkali-kali"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir sebulan penuh Jogja dilanda hujan. Sungguh sebuah anomali cuaca karena seharusnya kini sudah memasuki musim kemarau. Kemarin pada Kamis, 22 Mei hujan tiada henti melanda sejak siang. Awalnya sempat menurun intensitasnya, tapi waktu saya harus berangkat pulang sehabis magrib malah deras lagi. Alhasil harus pakai jas hujan untuk bisa menerobos perjalanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hujan dan genangan air sudah menjadi teman akrab, ibarat kamu dan kenangan tentang mantan kekasihmu yang masih saja lekat. Setelah melaju sejauh 2 kilometer, saya tiba di perempatan, menunggu lampu merah di Simpang Wojo yang memisahkan Jl. Imogiri Barat dan Jl. Ringroad Selatan. Saat itu banyak kendaraan tak sabar dan kebut-kebutan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di saat yang sama, genangan air yang meluap mengalir di mana-mana dan bikin bahaya. Jalanan menjadi licin dan berkendara harus super hati-hati. Kemarin saja ada yang hampir tergelincir. Memaksa melibas genangan air padahal nggak tau di bawah genangan itu ada jalan berlubang yang begitu rusak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Banjir Jogja yang begitu parah mendekati lebaran<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengingat kejadian mbak-mbak yang nahas tapi juga beruntung karena berhasil mengendalikan diri saat hampir terjatuh, saya jadi teringat kembali sama banjir Jogja yang melanda saat bulan puasa lalu. Waktu itu lumayan dramatis, saya masih menunggu hujan di dekat kantor. Saat tiba jam 8 malam lewat, saya cukup terkejut karena berseliweran status WhatsApp orang-orang yang mengungsi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman-teman di masing-masing kosnya tampak berjibaku dengan banjir yang naik sampai ke kamar. Sandal dan barang-barang terapung. Ibu warung makan langganan saya juga rumahnya tergenang air cukup parah. Kami saling bertukar kabar, saya mencoba menenangkan beliau. Saya yang tinggal di selatan Jogja jadi lemas dan tidak berani pulang. Pasti kontrakan saya juga tenggelam. Tapi menyebalkannya bapak kos saya tidak menjawab saat saya tanya apakah keadaan baik-baik saja. Saya sempat bertelfon dengan orang tua di Bandung karena mereka khawatir saat melihat berita.<\/span><\/p>\n<h2><b>Sewon Bantul yang terendam<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkali-kali saya cek di X untuk memastikan keadaan. Banyak beredar kabar betapa parahnya banjir, sampai mobil terbawa air. Saya kira parahnya banjir cuma menyerang daerah Jl. Imogiri di bagian cukup selatan, ternyata tidak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di video yang terbagi di X, kampus ISI jogja juga jadi korban, begitu pun kawasan Tembi yang menjadi daerah tempat tinggal saya. <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/reel\/DHvjOx9y6bm\/?hl=en\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kali Celeng meluap<\/a> dan rumah warga terendam. Pokoknya habis mengetahui itu saya sudah ikhlas kalau buku-buku di kos tenggelam. Karena itu harta paling berharga selain ijazah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu itu hujan di Jogja tidak kunjung usai, baru jam 22.00 saya putuskan buat nekat pulang agar menyaksikan langsung apa yang terjadi. Saya sudah sempat tanya kabar teman-teman yang evakuasi di sekitar ISI, memastikan perkembangan situasi. Setelah melibas jalanan memakai jas hujan, ternyata genangan setinggi setengah roda motor masih bisa dialami saat melintas Jl. Parangtritis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melintasi Samsat Sewon, Kantor Kecamatan Sewon, hingga di depan ISI Jogja, seolah dunia yang saya lewati benar-benar tenggelam. Kampus saya juga tenggelam, seperti menjelma berada di tengah-tengah sungai. Saya melawan arus aliran air yang deras dan cukup tinggi merendam motor. Sungguh menyiksa dan mendebarkan waktu itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat melintasi jalanan kawasan Tembi juga kondisinya tergenang oleh air. Berkali-kali saya hampir terjatuh dan terseret air gara-gara kendaraan lain, terutama mobil yang menghajar dengan cipratan airnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Bagian selatan Jogja yang masih selamat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tiba di kediaman dengan syukur yang begitu besar. Kosan tempat saya mengontrak baik-baik saja dan tidak terendam sama sekali.\u00a0 Cukup aneh padahal di selatannya sejauh kurang dari 1 kilometer jalanan tenggelam. Di sekitar memang banyak sawah dan kebun jadi penyerapan airnya sangatlah baik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak jadi mengikhlaskan perabotan dan barang-barang saya basah. Saya juga baru sadar jarak ketinggian dari permukaan tanah ke kamar saya lumayan tinggi. Jadinya tidak perlu khawatir kalau ada banjir. Mungkin tidak adil bagi teman-teman lain yang tinggal di sekitar ISI, tapi saya tahu mereka sudah bangkit dan menjalani lagi hari-hari seperti biasa setelah itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang ini saya bercerita begitu detil tentang banjir, sebenarnya apa yang mau saya sampaikan? Antisipasi terhadap banjir yang begitu buruk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja sangat belum siap untuk menghadapi banjir. Tidak ada analisis dampak lingkungan yang dikaji secara serius setiap ada proyek pembangunan. Drainasenya kacau balau, saya harus mengakui. Semua tanah di kota hampir semuanya ditutup beton. Tidak ada akses untuk air bisa mengalir dan ditampung ketika curah hujan tinggi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masa iya setiap hujan yang dahsyat warga Jogja harus waswas seolah menghadapi akhir dunia. Kadang baru hujan deras sebentar saja jalanan sudah otomatis tergenang. Bukan hal aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, mana Jogja yang katanya istimewa itu? Di tengah air yang menyapu rumah dan kendaraan?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Lintang Pramudia Swara<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/jogja-berhenti-nyaman-karena-banjir-dan-jalan-berlubang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jogja Berhenti Nyaman karena Banjir dan Jalan Berlubang yang Menyebabkan Kecelakaan Lalu Lintas<\/a><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja sangat belum siap untuk menghadapi banjir. Tidak ada analisis dampak lingkungan yang dikaji secara serius setiap ada proyek pembangunan.<\/p>\n","protected":false},"author":2932,"featured_media":337980,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[28607,115],"class_list":["post-337915","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banjir-di-jogja","tag-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/337915","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2932"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=337915"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/337915\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/337980"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=337915"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=337915"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=337915"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}