{"id":337502,"date":"2025-05-21T11:52:46","date_gmt":"2025-05-21T04:52:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=337502"},"modified":"2025-05-22T09:46:39","modified_gmt":"2025-05-22T02:46:39","slug":"solo-baru-lokasi-di-sukoharjo-tapi-gaya-hidup-mirip-solo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/solo-baru-lokasi-di-sukoharjo-tapi-gaya-hidup-mirip-solo\/","title":{"rendered":"Solo Baru: Lokasi di Sukoharjo, tapi Gaya Hidup Mirip Solo, Bikin Sukoharjo Krisis Identitas dan Hilang Arah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba deh, kamu iseng nanya ke temenmu yang habis cuci mata di The Park Mall atau yang lagi duduk di coffee shop estetik di sepanjang Jalan Ir. Soekarno, tanyakan satu hal sederhana: \u201cLagi di mana?\u201d pasti jawabnya lagi di Solo. Padahal, tepatnya mereka di Solo Baru. Dan lebih konyolnya lagi, Solo Baru bahkan bukan bagian dari Kota Solo, tapi Sukoharjo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kok bisa mereka bilang begitu? Untuk menjawabnya, Anda harus baca artikel ini hingga selesai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin, orang lebih familiar dengan Solo. Tapi Solo Baru? Beda urusan. Meski Solo Baru menjanjikan citra modern, kekinian, nyatanya Solo Baru adalah kawasan yang berdiri megah dan mentereng di atas tanah milik Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah ironisnya. Sukoharjo seperti dilupakan dari percakapan. Ia hanya hadir sebagai tempat, tapi tidak sebagai identitas. Bahkan para pemilik ruko dan properti di sepanjang koridor Solo Baru pun tampaknya lebih senang menulis \u201cSolo\u201d di iklan mereka. Seperti contoh<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDekat pusat Kota Solo.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHunian eksklusif di jantung Kota Solo\u201d<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini mungkin yang disebut sebagai krisis eksistensi administratif. Saya pernah mengalaminya sendiri. Beberapa tahun lalu, naik ojek online dari <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Stasiun_Solo_Balapan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Stasiun Solo Balapan<\/a> ke arah Solo Baru. Di tengah jalan drivernya nyeletuk, \u201cIni kita mau ke Sukoharjo ya, Mbak?\u201d Saya jawab, \u201cLho bukan ke Solo Baru, Pak?\u201d Dia langsung ketawa, \u201cYa sama aja, Mbak. Orang-orang ngiranya pasti Solo Baru itu Solo ya? Padahal aslinya Sukoharjo, Cuma biar lebih gampang aja mereka biasa nyebutnya ya Solo.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Momen itu bikin saya sadar: bahkan warga lokal pun kadang memilih kenyamanan narasi daripada akurasi peta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan puncaknya, ketika saya cerita ke temen luar kota soal lokasi tempat tinggal saya yang technically ada di Sukoharjo, dia langsung bilang, \u201cOh, pinggiran Solo, ya?\u201d Rasanya seperti tinggal di perbatasan dua dunia, secara administratif di Sukoharjo, tapi secara sosial dan citra publik, terisap ke dalam gravitasi Solo.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lebih Solo dari Solo<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama ini seperti plesetan yang terlalu serius, seolah-olah Sukoharjo malu mengakui bahwa kawasan elite ini sebenarnya miliknya. Seolah-olah nama \u201cSolo\u201d lebih menjual, lebih meyakinkan investor, lebih keren ditaruh di iklan perumahan. Coba saja buka Google Maps. Ketik: perumahan elit di Solo. Lihat hasilnya, arah panah digital tak segan-segan menuding ke selatan, ke Solo Baru. Kawasan yang mungkin secara administratif kalah pamor, tapi secara gaya hidup, sudah mendahului Solo itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Solo Baru, semua ada mulai dari pusat perbelanjaan yang super komplit, bioskop, kafe kekinian dengan Wi-Fi kencang, sushi murah meriah sampai hotel dengan wedding hall seluas lapangan bola. Maka tak heran jika Sukoharjo seperti rela minggir dari panggung, memberi spotlight pada nama \u201cSolo.\u201d Bukan karena rendah diri, mungkin. Tapi karena sadar, dalam dunia kapitalisme dan citra-citra yang dikemas manis, nama adalah tiket emas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Solo Baru lahir dari nafsu, bukan dari perencanaan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu pernah melewati Solo Baru pas jam pulang kerja atau akhir pekan, kamu mungkin pernah merasakan sensasi macet, klakson bersahut-sahutan dan orang-orang mulai memikirkan hidup sambil terjebak di depan ruko-ruko yang desainnya itu-itu saja. Ternyata kawasan ini dulunya bukan bagian dari strategi besar pemerintah membangun kota masa depan. Solo Baru bukan hasil dari mimpi urban planner, ini adalah buah dari ambisi sektor swasta, yang kalau diibaratkan manusia semacam anak muda yang nekat buka bisnis tanpa business plan, tapi kebetulan laku keras.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik kilau lampu neon dan brosur properti full color, ada cerita lain yang jarang dibahas. Solo Baru tumbuh dengan cepat, nyaris tanpa kendali. Tanpa blueprint kota, tanpa skema transportasi publik dan tanpa cinta pada ruang terbuka hijau. Yang penting dibangun dulu soal macet belakangan, yang penting laku dulu soal banjir urusan nanti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan tata letaknya terasa absurd. Jalanan sempit mendadak bertemu persimpangan besar. Perumahan eksklusif berdempetan dengan ruko-ruko serba ada. Trotoar? Apa itu? Ruang terbuka hijau? Ah, lebih baik jadi parkiran. Akhirnya, kita punya kota dalam kota yang padat. Dan ketika hujan deras datang, air tak tahu harus mengalir ke mana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi bukan berarti Solo Baru sepenuhnya gagal. Banyak orang hidup, bekerja dan membesarkan keluarga di sini.<\/span><\/p>\n<p><strong>Baca halaman selanjutnya<\/strong><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/solo-baru-lokasi-di-sukoharjo-tapi-gaya-hidup-mirip-solo\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Krisis identitas<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Tidak tahu tinggal di mana<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warga Solo Baru kalau ditanya, \u201cMas, ini masuk kelurahan apa ya?\u201d akan menjawab, \u201cOh, ini deket Pakuwon, Mbak.\u201d Bukan \u201cdi Langenharjo\u201d, bukan \u201cdi Telukan\u201d. Pokoknya, patokannya Mall. Ya gimana, wong batas administrasinya aja udah kabur kayak mantan yang ghosting. Bahkan, papan nama RT-nya kadang tulisannya ambigu, pakai nama perumahan bukan dusun. Negara kayaknya udah nyerah di sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini bagian yang kadang bikin warga Solo mangkel tapi nggak tahu mau marah ke siapa. Karena banyak yang ngira Solo Baru itu bagian dari kota Solo. Geliat ekonomi, bisnis dan pariwisata, dikira bakal masuk ke Surakarta. Padahal, semua uang pajak dari bisnis dan properti di Solo Baru itu larinya ke Sukoharjo. Ya jelas, wong memang secara administratif itu memang milik Kabupaten Sukoharjo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, Solo Baru ini sebenarnya siapa? Solo Baru adalah zona abu-abu yang unik, secara resmi dia Sukoharjo, secara gaya hidup dia Solo. Dia hidup di perbatasan, tapi tidak punya batasan identitas yang jelas. Orang luar pun banyak yang tidak tahu bedanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu pertanyaannya: apakah ini semata kekhilafan branding? Atau jangan-jangan, ini bagian dari rencana diam-diam, strategi pemasaran halus, atau semacam bentuk kepasrahan massal? Apakah pemerintah Kabupaten Sukoharjo sudah cukup berusaha menggaungkan namanya sendiri? Atau justru nyaman duduk di belakang layar, membiarkan nama \u201cSolo\u201d mengundang investor, lalu pelan-pelan memungut rezeki yang jatuh dari langit?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin saatnya Sukoharjo bangkit. Bukan dengan marah-marah atau bikin baliho besar bertuliskan \u201cINI SUKOHARJO, BUKAN SOLO\u201d. Tapi dengan menata kawasan, mengembangkan branding, memberikan fasilitas transportasi yang memadai dan yang paling penting: menyematkan identitasnya sendiri dengan bangga.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Alifah Ayuthia Gondayu<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/solo-baru-wilayah-sukoharjo-yang-lebih-modern-ketimbang-daerah-pusatnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Solo Baru, Wilayah Pinggiran Sukoharjo yang Jauh Lebih Modern ketimbang Daerah Pusatnya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jadi, Solo Baru ini sebenarnya siapa? Solo Baru adalah zona abu-abu yang unik, secara resmi dia Sukoharjo, secara gaya hidup dia Solo.<\/p>\n","protected":false},"author":2947,"featured_media":337523,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2284,9974,14030],"class_list":["post-337502","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-solo","tag-solo-baru","tag-sukoharjo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/337502","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2947"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=337502"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/337502\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/337523"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=337502"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=337502"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=337502"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}