{"id":334880,"date":"2025-05-19T14:46:22","date_gmt":"2025-05-19T07:46:22","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=334880"},"modified":"2025-05-19T14:46:22","modified_gmt":"2025-05-19T07:46:22","slug":"jalan-rusak-di-lamongan-itu-branding-makanya-dibiarkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-rusak-di-lamongan-itu-branding-makanya-dibiarkan\/","title":{"rendered":"Saya Menduga Branding Lamongan Adalah Jalan Rusak, karena Sampai Sekarang Tidak Diperbaiki, Seakan-akan &#8220;Dipelihara&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah jadi rahasia umum kalau jalanan di Lamongan itu ugal-ugalan. Aspal asal-asalan, bergelombang, lubang di mana-mana, dan tambalan jalan yang formalitas adalah pemandangan harian yang bisa dinikmati nyaris di tiap tikungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri sudah lelah untuk heran. Sejak kecil sampai sekarang menjelang kepala tiga, kondisi jalan di Lamongan begitu-begitu saja. Tidak pernah ada perbaikan yang benar-benar niat. Kalau kata orang-orang, mungkin yang berubah cuma anggaran perbaikannya, bukan jalannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dekat tempat saya tinggal ada kawasan pasar Blimbing yang cukup memprihatinkan. Pasar yang dulunya ramai kayak antrean bantuan sosial, sekarang makin sepi. Banyak yang bilang karena kalah bersaing sama penjual online. Tapi beberapa warga juga mengatakan, ya siapa yang mau ke pasar kalau jalannya kayak arena offroad? Apalagi kalau hujan, banyak jeglongan, bikin males. Saya sendiri juga sering malas kalau terpaksa harus ke sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di beberapa daerah juga demikian, bahkan akun Instagram <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/infolamongan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">@infolamongan<\/a> hampir tiap hari repost soal kondisi jalan yang busuk. Dan rasanya jalan tersebut tidak pernah berubah. Tetap rusak sejak dulu kala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari fenomena tersebut saya mulai berpikir: jangan-jangan ini memang disengaja. Jangan-jangan jalan rusak ini bukan hal negatif, tapi justru program dari pemerintah daerah untuk branding, untuk identitas. Ya, siapa tahu, branding utama Lamongan memang jalan rusak.<\/span><\/p>\n<h2><b>Branding \u201cMegilan\u201d yang bingung identitas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu googling, Lamongan punya tagline: \u201cLamongan Megilan\u201d. Katanya sih, ini diambil dari dialek khas Lamongan yang katanya akrab di berbagai daerah. Tapi jujur saja, banyak warga Lamongan sendiri yang baru tahu istilah itu sejak dipakai sebagai tagline resmi. Saya juga demikian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, \u201cmegilan\u201d ini terdengar agak canggung. Bukan tidak cinta daerah sendiri, tapi kalau dibuat sebagai tagline rasanya memang kurang \u201cnendang\u201d. Coba bandingkan dengan: Jogja Istimewa, Tuban Bumi Wali, atau Sleman Sembada. Sekilas dibaca saja sudah terasa aura promosinya. Lha ini, \u201cMegilan\u201d, terdengar agak kurang enak aja dilafalkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Branding soto Lamongan dan pecel lele itu sudah terlalu \u201cso yesterday\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu lagi yang sering dipakai sebagai \u201cbranding kultural\u201d Lamongan adalah soto dan pecel lele. Betul, dua makanan ini memang membumi, bahkan bisa ditemukan sampai ke pelosok Kalimantan. Tapi justru itu masalahnya. Karena terlalu tersebar, semua orang bisa mencicipinya tanpa mampir dulu ke Lamongan. Iya, tidak ada yang merasa perlu datang ke Lamongan hanya untuk mencicipi soto yang bisa ditemukan di warung depan kos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandingkan dengan angkringan Jogja. Cuma nasi kucing dan gorengan, tapi karena didukung narasi yang kuat, sehingga jadi romantis. Pecel lele dan soto belum sampai ke tahap itu. Jadinya branding ini pun ya sekadar makanan, belum bisa jadi daya tarik utama.<\/span><\/p>\n<h2><b>Branding jalan rusak adalah solusi paling realistis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking lamanya jalanan Lamongan dibiarkan rusak, saya kira ini bukan lagi keteledoran. Saya mulai kepikiran kalau ini adalah strategi branding yang tidak dideklarasikan. Selain itu, branding ini juga minim effort, gampang, dan murah. Tinggal dibiarkan saja kondisi jalan rusak seperti sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Duh, enak banget kerja tapi tidak ngapa-ngapain. Toh ujung-ujungnya, Lamongan jadi dikenal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu biarkan warga dan pengunjung mengeluh soal kondisi jalan, kemudian mereka promosi di sosial media secara gratis. Selain itu, sambatan warga di sosial media soal kondisi jalan yang rusak parah justru membuat Lamongan lebih dikenal. Sebab, tujuan branding kan memang agar dikenal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekali lagi, branding soal jalan rusak adalah pilihan logis bagi Lamongan. Pun, sebagai warga lokal, saya tidak bisa diam saja, saya harus membantu \u201cprogram\u201d tersebut dengan menyebarkan gagasan brilian ini. Iya, seluruh dunia harus tahu kalau Lamongan sedang melakukan strategi branding.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: M. Afiqul Adib<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tebakan-saya-yang-menyakiti-bernadya-adalah-orang-lamongan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tebakan Saya, yang Menyakiti Bernadya Adalah Orang Lamongan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jangan-jangan jalan rusak ini bukan hal negatif, tapi justru program dari pemerintah daerah Lamongan untuk branding, untuk identitas.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":336747,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10506,8961,27651,2250],"class_list":["post-334880","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-branding","tag-jalan-rusak","tag-jalan-rusak-di-lamongan","tag-lamongan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/334880","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=334880"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/334880\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/336747"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=334880"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=334880"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=334880"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}