{"id":334721,"date":"2025-05-17T12:03:00","date_gmt":"2025-05-17T05:03:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=334721"},"modified":"2025-05-17T12:03:00","modified_gmt":"2025-05-17T05:03:00","slug":"5-tipe-orang-yang-kurang-cocok-berwisata-ke-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-tipe-orang-yang-kurang-cocok-berwisata-ke-semarang\/","title":{"rendered":"5 Tipe Orang yang Kurang Cocok Berwisata ke Semarang, Bukannya Healing, Malah Jadi Sinting!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semarang, dengan geliat kulinernya yang menggoda, seringkali menjadi tujuan piknik yang menarik. Namun, daya pikat Kota Atlas ini ternyata tidak serta-merta menjerat setiap pelancong. Akan tetapi, ini bukan lantas artinya Semarang kekurangan pesona.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibarat menemukan jodoh, ada koneksi yang perlu dijalin antara turis dan kota yang disambangi. Terkadang, kepribadian wisatawan menjadi sebuah halangan. Selain itu, preferensi rekreasi tertentu juga mungkin tak sesuai dengan ekspektasi liburan impian mereka. Setidaknya, sederet tipe wisatawan berikut harus berpikir ulang.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Pecinta hawa sejuk yang anti udara lembap jangan pernah ke Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi para pemuja suasana adem dan segar, berkunjung ke Semarang mungkin akan terasa seperti rangkaian siksaan tanpa henti. Bagaimana tidak, suhu rata-rata tahunan berkisar antara 28 hingga 32 derajat Celsius. Ditambah lagi, tingkat kelembapan udara bisa mencapai 85%, yang mana kisaran idealnya adalah 40-60%.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi ini tentu akan terasa kurang nyaman bagi yang kurang terbiasa hidup di Semarang. Bahkan, di daerah pesisir seperti <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Pelabuhan_Tanjung_Emas\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tanjung Mas<\/a>, fenomena heatwave bisa terasa lebih ekstrem. Alih-alih menikmati angina pantai sepoi-sepoi, wisatawan justru terhempas oleh atmosfer pengap yang tak bersahabat.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Kurang nyaman kuliner di pinggir jalan atau gang sempit di Semarang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi sebagian pelancong yang mengutamakan kenyamanan, petualangan kuliner di Semarang bisa jadi sebuah ujian. Pasalnya, banyak hidden gem jajanan legendaris kota ini justru bersembunyi di balik gerobak kaki lima atau warung sederhana yang terselip di gang sempit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal semacam ini mungkin tidak pernah muncul di benak beberapa individu. Jika bayangan kuliner adalah tempat instagramable dengan pendingin ruangan dan pelayan berseragam, maka pengalaman mencicipi kelezatan sejati panganan ala Kota Lumpia boleh jadi berujung pada penyesalan.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Penyuka gemerlap malam yang ramai<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semarang mungkin terasa sedikit membosankan bagi mereka yang menggandrungi keceriaan malam hari. Kendati berstatus sebagai ibu kota provinsi dan pusat perdagangan yang cukup sibuk, denyut kehidupan 24 jam seperti kota sebelah, Yogyakarta, belum sepenuhnya mendarah daging di Semarang. Jumlah kafe, warung makan, apalagi minimarket yang buka tanpa kenal waktu masih terbilang minim.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih jauh, sialnya, beberapa sudut kota justru memiliki catatan kurang baik terkait keamanan di malam hari. Tentunya, situasi demikian membatasi ruang gerak dan kenyamanan bagi mereka yang terbiasa menikmati suasana kota hingga dini hari. Alhasil, ekspektasi akan nightlife yang vibrant dan serba ada mungkin akan sedikit menemui kenyataan pahit.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Tidak terlalu nyaman dengan makanan berminyak<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkait soal perut, di luar restoran kelas atas, banyak warung makan dan pedagang kaki lima di Semarang masih menggunakan minyak curah dalam proses penggorengan. Fakta ini menjadi pertimbangan penting bagi wisatawan dengan prioritas makanan lebih ringan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, tak dapat ditampik, juara kuliner dengan cita rasa khas Semarang cenderung didominasi perpaduan manis dan gurih yang kuat. Misalnya saja seperti yang ditemukan pada kelezatan lumpia, legitnya wingko babat, atau gurihnya tahu gimbal.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Sering lupa membawa tas belanja sendiri<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi wisatawan yang terbiasa impulsif dalam berbelanja oleh-oleh tanpa pernah ingat membawa tas belanja sendiri, Semarang bisa jadi menimbulkan sedikit pembengkakan anggaran. Kebijakan tegas Kota Semarang melarang penyediaan kantong plastik di seluruh toko, termasuk gerai oleh-oleh. Implikasinya, kebiasaan sederhana melupakan tas belanja mandiri mengakibatkan pengeluaran kecil tetapi berulang yang berpotensi menghamburkan uang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota Atlas dengan segala dinamikanya menawarkan keunikan tersendiri. Namun memang tidak dirancang untuk memuaskan imajinasi setiap orang yang datang. Oleh sebab itu, ada baiknya melakukan riset kecil-kecilan atau mempertimbangkan destinasi lain yang lebih sesuai dengan gaya travelling seseorang. Sebab, waktu tamasya seharusnya menjadi momen bersantai, bukan ajang untuk beradaptasi.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Paula Gianita Primasari<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-wisata-semarang-yang-tidak-semua-orang-bisa-menikmatinya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">4 Wisata Semarang yang Tidak Semua Orang Bisa Menikmatinya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semarang memang indah, dan jadi tujuan wisata yang menyenangkan. Tapi, saya yakin tidak semua orang cocok dengan Kota ini. <\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":332463,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4652,28532],"class_list":["post-334721","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-semarang","tag-wisata-di-semarang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/334721","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=334721"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/334721\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/332463"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=334721"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=334721"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=334721"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}