{"id":334437,"date":"2025-05-16T10:25:49","date_gmt":"2025-05-16T03:25:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=334437"},"modified":"2025-05-16T10:25:49","modified_gmt":"2025-05-16T03:25:49","slug":"jogja-bukan-hanya-milik-warga-lokal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-bukan-hanya-milik-warga-lokal\/","title":{"rendered":"Jogja Bukan Hanya Milik Warga Lokal, Suara Perantau Juga Penting untuk Kemajuan Kota"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja sering dielu-elukan sebagai kota pelajar, kota budaya, hingga kota impian para wisatawan. Namun, di balik narasi manis itu, banyak keresahan yang dirasakan oleh para perantau yang tinggal dan berkontribusi di kota ini. Sering kali, ketika seorang perantau menyuarakan kritik atau pendapat untuk kemajuan Jogja, tanggapan yang diterima justru bernada sinis seperti, \u201cKTP-mu mana?\u201d atau \u201cKalau nggak suka, pulang saja!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya, apakah kemajuan sebuah kota hanya boleh diperjuangkan oleh mereka yang ber-KTP setempat? Apakah suara perantau, yang setiap hari menghidupi Jogja lewat ekonomi, pendidikan, hingga sosial budaya, tak layak didengar?<\/span><\/p>\n<h2><b>Fenomena eksklusivitas Jogja: antara tradisi dan ketertutupan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak bisa dimungkiri, Jogja adalah salah satu kota di Indonesia yang begitu kuat mempertahankan tradisi dan identitas lokal. Ini adalah hal yang patut diapresiasi. Namun, terlalu eksklusif terhadap kritik dari luar, bahkan dari warganya yang merantau, justru bisa menjadi penghambat perubahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja, banyak mahasiswa dari luar daerah yang menetap di Jogja selama 4-5 tahun, bahkan lebih. Mereka tinggal, menyewa kos, membeli makanan, menggunakan transportasi umum, dan menghidupi ekosistem ekonomi lokal. Ada pula para pekerja dari luar daerah yang berdomisili di Jogja demi mencari penghidupan yang lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun ketika mereka mencoba mengkritik kondisi jalan yang rusak, minimnya lampu penerangan, atau buruknya pengelolaan sampah, responsnya sering kali tidak solutif.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kritik seharusnya jadi bahan evaluasi, bukan dipandang sebagai ancaman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengkritik bukan berarti membenci. Justru bentuk cinta dan kepedulian sejati terhadap sebuah kota ditunjukkan dengan keberanian menyuarakan ketimpangan. Kritik yang membangun mestinya jadi bahan evaluasi pemerintah kota dan masyarakat, bukan malah dimusuhi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai masalah nyata yang sering diabaikan di Jogja antara lain:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Minimnya Penerangan Jalan<\/b><b><br \/>\n<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">Banyak wilayah di Jogja, terutama di area pinggiran dan jalan alternatif, masih minim penerangan. Ini berisiko tinggi terhadap kecelakaan, tindak kriminal, dan rasa aman warga, baik lokal maupun pendatang.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Sampah yang Tak Terkelola dengan Baik<\/b><b><br \/>\n<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">Tumpukan sampah di pinggir jalan, pasar, hingga sungai masih menjadi pemandangan umum. Edukasi lingkungan dan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi perlu diperkuat.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Kemacetan dan Parkir Sembarangan<\/b><b><br \/>\n<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">Kota yang dulu terkenal tenang kini semakin padat. Tak hanya karena meningkatnya jumlah kendaraan, tapi juga karena manajemen lalu lintas yang belum optimal.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Fasilitas Umum Kurang Ramah untuk Semua Kalangan<\/b><b><br \/>\n<\/b> <span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa halte bus, trotoar, hingga taman kota tidak ramah disabilitas dan masih jauh dari kata inklusif.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua masalah ini bukan hanya dikeluhkan oleh para perantau, tapi juga dirasakan oleh warga lokal. Perbedaannya hanya pada siapa yang boleh bersuara tanpa dihakimi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Peran perantau dalam pembangunan kota<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perantau bukan hanya tamu sementara yang datang dan pergi. Banyak dari mereka yang memutuskan menetap, bekerja, berwirausaha, bahkan membangun keluarga di Jogja. Mereka menjadi bagian dari denyut nadi kota ini. Menutup telinga terhadap suara mereka adalah bentuk ketidakadilan sosial dalam ruang publik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih dari itu, perantau membawa perspektif baru dari luar yang bisa menjadi input berharga untuk perkembangan kota. Kota yang inklusif adalah kota yang terbuka pada ide-ide segar, bukan yang membangun tembok tinggi atas nama identitas lokal.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jogja bisa maju jika semua dilibatkan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemajuan kota tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah atau warga lokal saja. Semua pihak, termasuk perantau, pelajar, pekerja luar daerah, hingga wisatawan, memiliki kontribusi dalam membentuk wajah Jogja ke depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak kota di dunia maju karena mampu memadukan identitas lokal dengan keterbukaan terhadap perubahan. Jogja bisa seperti itu, kota budaya yang tetap hangat, namun adaptif terhadap kritik dan inovasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah Jogja siap menjadi <a href=\"https:\/\/www.unesco.or.id\/download\/05_AssessmentTool_InclusiveCities_Bahasa_Rev281017B.pdf\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kota inklusif<\/a>? Atau akan terus terjebak dalam narasi \u201ckami vs mereka\u201d yang justru memecah potensi kolaborasi?<\/span><\/p>\n<h2><b>Kritik adalah hak semua penghuni kota<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai perantau, tentu ada batasan dalam menentukan kebijakan atau arah pembangunan. Namun satu hal yang pasti, semua orang yang tinggal di Jogja, apapun status domisilinya, berhak atas layanan publik yang layak dan aman. Berhak untuk merasa nyaman dan dilibatkan dalam wacana kemajuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, sudah saatnya kita ubah cara pandang terhadap kritik. Bukan soal siapa yang menyuarakan, tapi soal apa yang disuarakan. Mari kita buka ruang dialog antara warga lokal dan perantau, saling mendengar, bukan menghakimi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jogja milik semua orang<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja yang kita cintai bukan hanya milik satu golongan, satu marga, atau satu KTP. Ia adalah ruang hidup bersama, tempat bertemunya berbagai latar belakang dengan satu tujuan: kehidupan yang lebih baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari jadikan kritik sebagai jembatan, bukan jurang pemisah. Sebab Jogja hanya akan benar-benar maju jika semua orang yang tinggal di dalamnya diberi ruang untuk peduli, bersuara, dan bersama-sama membangun kota.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ogidzatul Azis Sueb<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/hal-tak-terduga-saat-tinggal-di-bantaran-kali-code-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengalaman Tak Terduga saat Tinggal Setahun di Bantaran Kali Code Jogja, Motor Parkir Sembarang Tak Hilang<\/a><br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja yang kita cintai bukan hanya milik satu golongan, satu marga, atau satu KTP. Ia adalah ruang hidup bersama, tempat bertemunya berbagai latar belakang dengan satu tujuan: kehidupan yang lebih baik.<\/p>\n","protected":false},"author":2935,"featured_media":332750,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,5807,28517],"class_list":["post-334437","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-perantau","tag-warga-lokal-jogja"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/334437","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2935"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=334437"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/334437\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/332750"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=334437"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=334437"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=334437"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}