{"id":333883,"date":"2025-05-12T12:39:29","date_gmt":"2025-05-12T05:39:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=333883"},"modified":"2025-05-12T12:39:29","modified_gmt":"2025-05-12T05:39:29","slug":"saya-baru-bisa-mensyukuri-purwokerto-setelah-merantau-ke-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-baru-bisa-mensyukuri-purwokerto-setelah-merantau-ke-jogja\/","title":{"rendered":"Saya Baru Bisa Mensyukuri Purwokerto Setelah Merantau ke Jogja, Kota Istimewa yang Malah Bikin Saya Gundah Gulana"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu saya pikir semua kota sama. Semua jalanan juga sama saja, asal lampunya nyala. Tapi setelah saya merantau ke Jogja, saya baru sadar bahwa tidak semua kota diciptakan setenang Purwokerto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya asli Purwokerto. Lahir dan besar di Sidabowa, sebuah desa di Kecamatan Patikraja. Dulu saya pikir, dunia itu ya ukurannya segede GOR Satria. Mau belanja ke Rita, nonton ke Rajawali, dan nongkrong di alun-alun. Hidup terasa damai dan stabil. Tidak ada yang bikin deg-degan kecuali nilai rapor dan waktu Bapak ngomong dengan nada pelan (yang artinya beliau mulai curiga ada yang salah).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kemudian saya bekerja di Jogja. Kota yang katanya istimewa dan jadi tempat terbaik untuk jatuh cinta. Dan saya memang jatuh cinta\u2026sama Susu Sarjana dan ayam goreng Cak Yunus. Yang lain masih saya pikir-pikir dulu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Rasa waswas yang baru saya kenal di Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tinggal di Jogja membuat saya merasakan satu hal yang jarang saya rasakan di Purwokerto: rasa waswas kalau harus keluar malam. Saya mulai mengenal istilah yang asing di telinga saya sebelumnya: <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Klitih\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">klitih.<\/a> Kejahatan jalanan yang kadang seperti mitos, kadang seperti horor nyata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri memang jarang keluar untuk nongki-nongki, apalagi di malam hari. Terlebih setelah beberapa kali dengar cerita orang dijambret, ditodong, atau ditebas pakai pedang, saya makin parno. Walaupun sebenarnya saya pengen juga menikmati malam Jogja dan kulineran di sekitar GSP. Bukan cuma takut dihantui mantan, tapi juga takut diteror klitih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandingkan dengan Purwokerto. Kota kecil yang kalau tengah malam paling banter kamu jumpai warung angkringan berisi bapak-bapak ngudud sambil nonton bola. Polisi tidur lebih banyak dari manusianya. Malam-malam jalanan sepi, tapi bukan sepi yang menyeramkan. Sepi yang bikin tenang. Bahkan saya pernah pulang dari stasiun jam 1 pagi tanpa merasa cemas sama sekali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu dia yang saya maksud: tinggal di kota yang tenang itu bikin kamu tidak merasa sedang \u201csurvive\u201d. Kamu merasa sedang hidup, beneran hidup, tanpa perlu merasa waspada terus menerus.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jogja punya Malioboro, Purwokerto punya mendoan dan rasa aman<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja saya tidak membenci Jogja. Kota ini punya pantai selatan yang megah dan pegunungan di utara yang bikin napas lega. Tapi ya, kenyamanan kadang datang dari hal-hal kecil yang tidak bisa disalin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bisa rindu Jogja karena Sate Ratu atau Jembatan Code saat matahari terbenam. Tapi saya mencintai Purwokerto karena saya tahu di sana, saya bisa keluar malam tanpa perlu menatap kaca spion terus menerus. Saya bisa jalan ke Alfamart jam 11 malam pakai sendal jepit tanpa rasa khawatir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita sering meremehkan rasa aman karena menganggap itu hal biasa. Tapi begitu rasa itu hilang, kamu bakal tahu betapa mahalnya harga tenang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Purwokerto mungkin tidak punya destinasi wisata sepopuler Candi Prambanan, tapi dia punya rasa tenteram yang langka. Tidak banyak orang menyadari ini, apalagi kalau belum pernah keluar dari kota itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Gunung di belakang rumah, letusan di dalam kepala<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski lebih nyaman ketimbang Jogja, tentu saja Purwokerto juga punya rasa waswasnya sendiri. Namanya juga kota di kaki gunung berapi aktif. Gunung Slamet berdiri gagah seperti kepala sekolah yang sedang mengawasi ujian. Setiap kali gunung itu batuk sedikit, pasti sudah langsung jadi trending topic.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi begini: gunung meletus itu kejadian alam yang punya pola. Dia kasih sinyal dulu. Pusat Vulkanologi juga stand by. Kamu masih punya waktu untuk kabur kalau keadaannya memang sudah parah. Bahkan seumur hidup saya yang sudah menyentuh kepala tiga, seingat saya hanya dua kali Gunung Slamet batuk-batuk. Pertama waktu SD dulu dan kedua waktu kuliah semester akhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan kejahatan jalanan seperti klitih? Datangnya tidak pake notifikasi. Tahu-tahu kamu bisa kena giliran. Dan itu justru yang lebih menyeramkan. Sesuatu yang tidak kelihatan dan tidak bisa kamu prediksi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ya, kalau harus memilih antara cemas karena gunung atau karena manusia, saya pilih gunung. Minimal gunung tidak punya dendam pribadi.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mensyukuri kampung halaman justru setelah pergi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu hal lucu tentang orang-orang perantauan: kami baru menyadari betapa berharganya kampung halaman setelah jauh darinya. Saya sendiri baru bisa menghargai alon-alon asal kelakon-nya warga Purwokerto setelah mencicipi hiruk pikuk Jogja. Baru bisa rindu suara kodok malam di pekarangan setelah terganggu suara motor brong di ring road.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sekarang mengerti kenapa banyak orang tua yang tetap memilih tinggal di kota kecil, walau anak-anaknya sudah sukses dan bisa ajak pindah ke kota besar. Mereka bukan tidak mau ikut. Mereka cuma tahu bahwa ketenangan itu bukan soal ukuran rumah atau nominal gaji. Tapi soal bisa tidur tenang di malam hari dan bangun pagi tanpa rasa cemas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Purwokerto, dengan segala keterbatasannya, telah menyediakan itu semua buat saya. Dan saya, untuk pertama kalinya, benar-benar mensyukuri itu setelah merantau ke kota yang lebih besar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau kamu orang Purwokerto yang sedang mikir buat pindah ke kota besar, silakan. Jalan-jalan, merantaulah. Tapi jangan heran kalau nantinya kamu akan rindu\u2026 bukan pada tempat-tempat besar, tapi justru pada rasa aman yang jarang bisa dibeli.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Wahyu Tri Utami<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/purwokerto-sama-buruknya-dengan-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Tahun Tinggal di Purwokerto Bikin Saya Sadar, Kota Ini Sama Problematiknya dengan Jogja<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tinggal di Jogja membuat saya merasakan satu hal yang jarang saya rasakan di Purwokerto: ketenangan dan keamanan.<\/p>\n","protected":false},"author":2727,"featured_media":315625,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[8340,115,5193,8526],"class_list":["post-333883","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gunung-slamet","tag-jogja","tag-klitih","tag-purwokerto"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333883","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2727"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=333883"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333883\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/315625"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=333883"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=333883"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=333883"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}