{"id":333853,"date":"2025-05-13T09:00:13","date_gmt":"2025-05-13T02:00:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=333853"},"modified":"2025-05-13T00:43:36","modified_gmt":"2025-05-12T17:43:36","slug":"alasan-pantun-jarjit-upin-ipin-sering-diawali-kata-kata-dua-tiga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-pantun-jarjit-upin-ipin-sering-diawali-kata-kata-dua-tiga\/","title":{"rendered":"Alasan Pantun Jarjit dalam Serial Upin Ipin Sering Diawali dengan Kata-kata \u201cDua Tiga\u201d"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDua tiga kambing berlari, Cikgu marah, saya coba lari\u201d adalah salah satu dari banyak pantun yang diucapkan Jarjit dalam serial <em>Upin Ipin<\/em>. Karakter dengan nama lengkap Jarjit Singh itu memang digambarkan sebagai sosok anak TK gemar berpantun. Dia menyelipkannya hampir di tiap percakapan. Walau banyak yang gagal, Jarjit tidak pernah kapok melemparkan pantunnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkat keunikannya ini, Jarjit menjadi salah satu karakter sampingan yang menyita perhatian penonton. Rasanya ada yang kurang kalau dia tidak muncul dalam suatu episode. Berkat besarnya perhatian yang diberikan pada karakter yang satu ini, penonton jadi menyadari, pantun yang dibuat bocah berusia 5 tahun ini terlalu sering diawali dengan kata-kata \u201cdua tiga\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking seringnya kata-kata \u201cdua tiga\u201d muncul, penonton (setidaknya saya) jadi bertanya-tanya, kenapa selalu diawali dengan kata-kata itu sih? Kenapa tidak dengan angka lain seperti \u201csatu dua\u201d atau \u201cempat lima\u201d? Jangan-jangan salah satu tulisan Terminal Mojok tentang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jarjit-upin-ipin-nggak-jago-pantun-banyak-pantunnya-yang-gagal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jarjit aslinya nggak jago pantun<\/a> itu benar adanya. Pertanyaan-pertanyaan dan kecurigaan itu membuat saya mencoba menyelami karakter Jarjit lebih jauh.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Mari memahami pantun terlebih dahulu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum membahas pantun-pantun dalam <em>Upin Ipin<\/em> lebih jauh, kita perlu memahami bahwa pantun adalah salah satu jenis dari puisi lama. <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Puisi_lama\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Puisi lama<\/a> terikat pada aturan-aturan yang lebih saklek, seperti jumlah baris, rima, dan suku kata. Nah, pantun, sebagai bagian dari jenis puisi lama biasanya terdiri dari 4 larik (baris) dengan 8-12 suku kata tiap lariknya. Rima di akhir baris pun tidak boleh sembarangan, ada polanya, bisa a-b-a-b atau a-a-a-a.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang tidak boleh dilupakan dari pantun adalah strukturnya. Jadi, pantun itu terdiri dari dua bagian, sampiran dan isi. Melansir dari berbagai sumber, sampiran berfungsi menyiapkan rima dan irama sehingga membantu pendengar memahami isi pantun. Sementara isi adalah pesan yang sebenar-benarnya ingin disampaikan pembuat pantun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karya-karya Jarjit memang termasuk pantun, tapi versi pendeknya karena hanya terdiri dari 2 baris. Bentuk seperti ini disebut juga dengan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Karmina\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">karmina<\/a>, pantun kilat atau dua seuntai. Ciri-cirinya, terdiri atas 2 baris, pertama sampiran dan kedua isi. Sementara pola rimanya adalah adalah a-a.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ambil contoh pantun Jarjit di awal tulisan ini. Aslinya pantun tersebut berbunyi seperti ini,\u00a0<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua tiga<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kambing berlari<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cikgu marah<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya coba lari<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu 4 baris pantun itu diucapkan menjadi seolah-oleh dua kalimat,\u00a0<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua Tiga, Kambing Berlari<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cikgu Marah, Saya Coba Lari<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari situ kita bisa tahu kalau baris pertama \u201cDua tiga, kambing berlari\u201d adalah sampiran, dan baris kedua \u201cCikgu marah, saya coba lari\u201d adalah isi. Dan, dua baris itu punya akhiran yang sama yakni huruf vokal &#8220;i&#8221;. Menandakan Jarjit sudah berupaya memenuhi pola rima a-a, walau memang belum sempurna. Sebab, bagian isi \u201cCikgu marah\u201d\u00a0 berahiran &#8220;ah&#8221; seharusnya &#8220;a&#8221; supaya senada dengan bagian sampiran \u201cdua tiga\u201d.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>\u201cDua tiga\u201d pada awalan pantun Jarjit enak diucapkan dan didengar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa, kebanyakan sampiran pantun Jarjit menggunakan kata-kata \u201cdua tiga\u201d karena angka dan berhitung adalah salah satu hal yang paling dekat dengan kehidupan anak-anak. Bocah 5 tahun mulai belajar hitungan sederhana di sekolah maupun di rumah. Itu juga menjelaskan kenapa angka-angka yang dipilih Jarjit bukanlah jumlah angka yang besar seperti belasan, puluhan, atau ratusan. Kemampuan berhitungnya belum sampai sana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan selanjutnya, kenapa memilih \u201cdua tiga\u201d bukan \u201csatu dua\u201d atau \u201cdua empat\u201d? Kalau saya jadi jarjit dengan pola pikir bocahnya itu, saya juga akan memilih \u201cdua tiga\u201d jadi sampiran pantun. Alasannya sederhana saja, kedua angka itu diakhiri huruf \u201ca\u201d dan sama-sama terdiri dari dua suku kata sehingga mudah diucapkan dan enak didengar. Mungkin itu pula sebabnya pantun-pantunnya dalam serial Upin Ipin begitu ngena di telinga penonton.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Kata-kata \u201cdua tiga\u201d mudah dilanjutkan\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata-kata \u201cdua tiga\u201d memang mudah diingat, diucapkan, dan enak didengar sehingga Jarjit tidak perlu pusing-pusing untuk melengkapi sampirannya. Kata apapun jadi terdengar nyambung. \u201cDua tiga\u201d bisa dilanjutkan dengan kambing berlari, kura-kura, lonceng bunyi, ular sawa, semua terasa nyambung-nyambung saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, di bagian sampiran semua terdengar baik dan lazim. Namun, di bagian isi, Jarjit memang kadang ngawur.\u00a0 Seperti yang sudah<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">dijelaskan sebelumnya, pantun kilat juga terikat pada rima a-a. Nah, kata-kata \u201cdua tiga\u201d banyak digunakan Jarjit di serial <em>Upin Ipin<\/em> karena di dunia ini kata berakhiran huruf vokal \u201ca\u201d melimpah. Ini akan memudahkan Jarjit ketika membuat isi supaya satu rima.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan saja kalau Jarjit memilih angka \u201cenam tujuh\u201d, aduh dia bakal pusing itu mencari kata-kata untuk isi pantun supaya berakiran \u201cuh\u201d. Akhiran \u201ca\u201d saja dia masih banyak yang ngawur, apalagi kalau bagian sampirannya berakhiran huruf mati.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas hanyalah analisis kecil-kecilan saya terhadap pantun Jarjit di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Upin Ipin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Walau banyak yang ngawur, karakter Jarjit tetap perlu kita apresiasi karena telah menjadi gerbang awal mengenalkan sastra kepada anak-anak. Selain itu, pantun-pantunnya banyak yang menghibur. Itulah esensi karmina atau pantun singkat, pantun lisan untuk lelucon atau hiburan mengisi waktu luang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Kenia Intan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Intan Ekapratiwi<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-karakter-lebih-melarat-dari-upin-ipin-tapi-penonton-nggak-sadar\/\"><b>4 Karakter yang Lebih Melarat dari Upin Ipin, tapi Jarang Disadari Penonton<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pantun Jarjit Upin Ipin diawali dengan &#8220;dua tiga&#8221; karena gampang diucapkan, enak di dengar, dan mudah melanjutkannya menjadi pantun utuh. <\/p>\n","protected":false},"author":2401,"featured_media":334005,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13083],"tags":[17786,23521,23522,28483,5855],"class_list":["post-333853","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-acara-tv","tag-jarjit","tag-jarjit-upin-ipin","tag-pantun-jarjit","tag-pantun-jarjit-upin-ipin","tag-upin-ipin"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333853","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2401"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=333853"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333853\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/334005"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=333853"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=333853"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=333853"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}