{"id":333600,"date":"2025-05-10T12:19:46","date_gmt":"2025-05-10T05:19:46","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=333600"},"modified":"2025-05-10T12:19:46","modified_gmt":"2025-05-10T05:19:46","slug":"jalan-parangtritis-jogja-jahat-suzuki-shogun-uzur-saya-tersiksa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jalan-parangtritis-jogja-jahat-suzuki-shogun-uzur-saya-tersiksa\/","title":{"rendered":"Derita Tinggal di Dekat Jalan Parangtritis Jogja, Memaksa Saya Harus Menyiksa Suzuki Shogun Setiap Hari"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terhitung sudah 2 bulan sejak saya resmi tinggal di Kelurahan Timbulharjo Bantul. Pokoknya dekat Jalan Parangtritis Jogja (baca: <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/tag\/jalan-parangtritis\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Daerah Istimewa Yogyakarta<\/a>). Dan inilah penderitaan yang saya rasakan bersama Suzuki Shogun uzur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika kuliah, saya tinggal tak jauh dari kampus, yaitu Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Jarak tempuhnya hanya 7 menit berjalan kaki menyusuri Jalan Parangtritis Jogja. Dulu juga tidak ada motor jadi harus memilih indekos yang jaraknya dekat kampus.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehabis lulus, saya menjadi kelas pekerja yang setiap hari bolak-balik ke Kotagede, Kota Jogja. Kantor saya di sana. Saya juga menabung dari gaji bulanan untuk bisa membeli Suzuki Shogun motor bekas. Lebih dari setahun bekerja, keinginan untuk upgrade kehidupan semakin mengemuka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah jengah bertahan di indekos dengan kamar mandi luar dan jemuran yang sering rebutan. Begitu juga tempat parkir yang sering penuh sampai bikin muter otak tiap mau keluarin dan masukin kendaraan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, kehidupan mahasiswa dan suasana sekitar yang sangat sibuk tidak lagi cocok dengan jiwa pekerja yang saya miliki. Seringnya pulang ingin mendapatkan suasana tenang, tapi selalu saja ada peristiwa ajaib seperti tetangga kos yang mabar dan push rank sambil teriak-teriak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski sempat sentimental karena tempat itu menjadi ruang yang mengiringi saya bertumbuh sebagai mahasiswa hingga lulus, saya mencoba rela untuk mengucapkan selamat tinggal. padahal ibu kos di sana sudah saya anggap seperti keluarga sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Pindah ke Kelurahan Timbulharjo Bantul<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awal Maret saya sudah mantap memilih kontrakan di Kelurahan Timbulharjo Bantul dekat Jalan Parangtritis Jogja. Lokasinya di dekat Tembi Rumah Budaya, di area pematang sawah dan pemandangan hijau yang nyaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski tambah jauh dari kampus dan tempat kerja, saya malah senang karena harganya masih masuk di kantong. Bangunan kontrakan di Kelurahan Timbulharjo, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berkendara-di-jalan-bibis-bantul-mirip-ikut-lava-tour-merapi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bantul<\/a>, juga baru dan penghuni di sekitarnya rata-rata sudah berstatus sebagai pekerja, bukan mahasiswa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda jika memilih kontrakan atau indekos di area yang strategis yang lebih dekat kampus dan Jalan Parangtritis Jogja. Sudah tidak tenang, kumuh, penghuninya terlampau banyak, dan belum tentu airnya bersih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Kelurahan Timbulharjo Bantul, tepatnya di tempat yang saya huni tidak ada red flag sama sekali, kecuali satu hal. Jalan Parangtritis, sebelum lampu merah Tembi adalah sebenar-benarnya jalanan yang harus dihindari atau dengan terpaksa harus ditempuh selayaknya menghadapi ujian kesabaran.<\/span><\/p>\n<h2><b>Keresahan ojol<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira diri ini yang lebay sendiri. Tapi, ternyata sopir ojol juga geram dengan kondisi jalan di Jalan Parangtritis Jogja. Jalan berlubang di sana begitu menyiksa. Saya jadi sering bawel dan mereka berhati-hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pokoknya, perasaan was-was dan panca indera harus ditingkatkan setelah melewati <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-bagian-selatan-menyenangkan-sahur-gratis-di-depan-kampus-isi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kampus ISI<\/a> dan Puskesmas Sewon I. Sebuah penderitaan sendiri di Jalan Parangtritis Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu masih belum apa-apa karena pengendara ojol yang saya tumpangi seringnya menggunakan motor matik. Hal paling menyebalkan melewati jalanan rusak itu ketika pengguna jalan lain malah seenaknya ngebut sendiri dan bikin was-was.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di samping pencahayaan yang minim ketika malam hari, menggunakan Suzuki Shigun uzur juga tidak memberikan pengalaman yang menyenangkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menyiksa Suzuki Shogun di Jalan Parangtritis Jogja<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika tidak terpaksa karena sedang ada agenda yang mengharuskan saya pulang melewati Jalan Parangtritis Jogja, saya lebih baik menghindarinya. Saya lebih suka lewat jalan Imogiri Barat yang bebas ranjau setidaknya sampai ke perempatan Jl. Sultan Agung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah, Jalan Parangtritis Jogja itu banyak sekali tambalannya. Sehingga, konturnya tidak rata.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu baru masalah pertama. Masalah berikutnya adalah ada lubang-lubang yang meresahkan dan bikin harus bermanuver tiap melewatinya. Saya yang naik Suzuki Shogun uzur kerap merasa jengkel.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya selalu meniatkan diri untuk jalan pelan saja. Maklum, takut terjungkal kalau ada kendaraan besar mendahului. Spion juga harus menjadi teman terbaik supaya bisa dengan sigap merespons keadaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak mobil yang lewat di Jalan Parangtritis Jogja juga tidak sabaran. Mereka kadang nggak peduli ada banyak lubang. Padahal, pengguna motor sudah sangat waspada supaya terhindar dari kecelakaan. Teman saya saja ada yang pernah jatuh dan dilarikan ke rumah sakit gara-gara melewati Jalan Parangtritis Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang lebih menyebalkan, beberapa pengguna mobil dengan tidak tahu dirinya suka mengklakson. Atau, ada saja motor matik yang ngebut dan menyalip dengan cara membahayakan. Mereka itu malah sok-sokan dan seperti tidak mau tahu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di saat yang sama, saya cuma bisa mengelus dada bersama si Shogun uzur. Maklum, shockbreaker-nya sudah mati, kampas rem depan belum ganti, begitu juga harus sibuk naik turunin gigi ketika bersiap menghadapi ranjau jalan tambalan, jalan rusak, ataupun jalan berlubang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Hikmah yang bisa saya ambil<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah pertanda saya harus upgrade motor. Semoga segera ada rezeki sehingga saya bisa mengantar Suzuki Shogun uzur itu ke gerbang pensiun. Yah, meskipun ia adalah jadi saksi perjalanan saya sambil sambat saat berkendara membelah Jalan Parangtritis Jogja yang menguji adrenalin itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, tidak ada tempat tinggal yang sempurna. Sudah pasti ada yang menjadi kekurangan dan kelebihan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi apa daya, keluhan ini benar-benar sudah bercokol sampai ke ubun-ubun. Lagi-lagi mata kita terbuka bahwa Jogja <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-terbesar-plat-ab-di-jalanan-jogja-tidak-punya-empati\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menyimpan banyak masalah<\/a>. Predikat istimewa? Boleh jadi yang istimewa adalah deritanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Lintang Pramudia Swara<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bantul-bukan-untuk-kaum-mendang-mending-pikir-ulang-kalau-mau-tinggal-di-sini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bantul Bukan untuk Kaum Mendang-Mending, Pikir Ulang kalau Mau Tinggal di Sini!<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jalan Parangtritis Jogja memang &#8220;jahat&#8221;. Jalanan yang penuh lubang ini memaksa saya menyiksa Suzuki Shogun uzur setiap hari.<\/p>\n","protected":false},"author":2932,"featured_media":333659,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5766,28452,23084,28451,115,18856,28453,11145,8896,7646,16874,28454],"class_list":["post-333600","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bantul","tag-institut-seni-indonesia","tag-jalan-parangtritis","tag-jalan-parangtritis-jogja","tag-jogja","tag-kampus-isi","tag-kelurahan-timbulharjo-bantul","tag-motor-suzuki","tag-shogun","tag-suzuki","tag-suzuki-shogun","tag-tembi-rumah-budaya"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333600","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2932"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=333600"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333600\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/333659"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=333600"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=333600"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=333600"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}