{"id":333510,"date":"2025-05-12T16:45:07","date_gmt":"2025-05-12T09:45:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=333510"},"modified":"2025-05-12T19:29:28","modified_gmt":"2025-05-12T12:29:28","slug":"dosen-muhammadiyah-layak-jadi-menantu-idaman-darpada-pns","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosen-muhammadiyah-layak-jadi-menantu-idaman-darpada-pns\/","title":{"rendered":"Dosen Muhammadiyah Lebih Layak Jadi Menantu Idaman Dibanding PNS karena Sudah Terjamin Tahan Banting dan Serba Bisa"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa bilang menantu idaman itu harus yang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jangan-keburu-jatuh-cinta-sama-pns\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PNS<\/a>, kerja di bank, atau minimal kerja di startup unicorn? Nggak, saudara-saudara. Di era sekarang, menantu idaman itu kerja sebagai dosen Muhammadiyah. Iya, yang kerja di kampus-kampus bercorak hijau, logonya matahari 12 sinar, dan tiap awal rapat selalu ada pembukaan ayat suci. Serius ini, nggak main-main. Dosen Muhammadiyah itu bukan cuma pinter, tapi juga tahan banting dan kuat iman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan rahasia umum lagi kalau kerjaan dosen itu berat. Tapi, kalau kamu dosen di kampus Muhammadiyah, beratnya bisa naik dua level. Di kampus negeri, dosen biasanya cukup puas dengan tiga tugas mulia yang dikenal dengan Tridharma: mengajar, meneliti, dan mengabdi. Tapi, di Muhammadiyah? Tridharma itu kayak menu pembuka. Hidangan utamanya adalah Catur Dharma. Satu tambahan yang tidak main-main: Al Islam dan Kemuhammadiyahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat membayangkan, kalau dosen negeri itu seperti Naruto yang menguasai jurus Rasengan, maka dosen Muhammadiyah itu kayak Aang, sang Avatar. Dia harus menguasai empat elemen sekaligus: air, tanah, api, dan udara. Nah, dosen Muhammadiyah juga harus menguasai empat elemen dunia pendidikan tinggi. Nggak cuma mengajar dan menulis jurnal, tapi juga harus bisa khutbah Jumat dan memimpin tahlilan\u2014eh, maksud saya, diskusi keislaman.<\/span><\/p>\n<h2><b>Lihai menyelipkan nilai-nilai Muhammadiyah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengajar di kelas itu satu hal. Tapi harus bisa menyisipkan nilai-nilai ke-Muhammadiyah-an dalam materi ajar? Itu keahlian tersendiri. Misalnya, saat ngajar Matematika, dosen harus bisa nyambungin integral dengan ketauhidan. Atau pas ngajar Manajemen Pemasaran, harus bisa selipkan nilai-nilai kejujuran seperti yang diajarkan Nabi. Ini bukan cuma tentang logika akademik, tapi juga logika iman. Sakti!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi soal meneliti. Kalau dosen kampus lain bisa memilih topik sesuka hati, dosen Muhammadiyah kadang harus mikir dua kali. Penelitian tentang pengaruh hijab terhadap perilaku konsumen bisa jadi topik menarik, tapi juga harus dipastikan nggak bertentangan dengan nilai dakwah. Harus hati-hati. Salah-salah bisa dianggap &#8220;kurang Muhammadiyah&#8221;, dan itu bisa panjang urusannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Urusan pengabdian masyarakat juga nggak kalah seru. Dosen Muhammadiyah harus turun ke masyarakat, ngajarin<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/6-jenis-ibu-ibu-yang-selalu-ada-di-grup-whatsapp-pkk-desa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> ibu-ibu PKK<\/a> cara membuat sabun cuci ramah lingkungan, sambil nyelipin dakwah. Dosen itu harus bisa jadi guru, jadi ustaz, kadang jadi motivator, kadang juga jadi tukang antar galon kalau lagi kegiatan pengabmas. Serius, ini multi peran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, bagian paling unik, dan mungkin paling bikin banyak orang geleng-geleng kepala, adalah elemen keempat: Al Islam dan Kemuhammadiyahan. Ini yang bikin dosen Muhammadiyah itu beda dari dosen-dosen lain. Mereka bukan cuma akademisi, tapi juga kader dakwah. Makanya, mereka bukan sekadar ngurusin silabus, tapi juga ngurusin ngaji rutin dan pengajian bulanan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Dosen Muhammadiyah itu tahan banting<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dipikir-pikir, kayaknya dosen Muhammadiyah itu manusia super yang kurang diapresiasi. Mereka bisa ngajar mahasiswa sambil momong anak, bisa bikin jurnal sambil ikut rapat PCM, dan masih sempat jadi juri lomba ceramah antar mahasiswa. Belum lagi kadang disuruh jadi MC pas ada acara wisuda. Serbaguna banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada satu teman saya, dosen di salah satu kampus Muhammadiyah di satu provinsi besar. Dia pernah bilang, &#8220;Kadang saya ngajar pagi, siang rapat jurusan, sore ikut pengajian fakultas, malam nulis proposal penelitian. Tapi tetap semangat, karena ini jalan dakwah.&#8221; Saya cuma bisa manggut-manggut sambil nelan ludah. Duh, kuat banget imanmu, Mas!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang belum tahu, banyak kampus Muhammadiyah itu lokasinya bukan di tengah kota. Kadang harus naik motor jauh-jauh, menembus kabut dan aspal yang setengah hidup, tapi, dosennya tetap rajin masuk kelas. Bahkan, dosen kontrak sekalipun. Karena niatnya bukan cuma cari nafkah, tapi juga menebar manfaat. Kalau ini bukan dedikasi, saya nggak tahu lagi apa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling saya salut, banyak dosen Muhammadiyah yang hidupnya sederhana. Nggak neko-neko. Mereka tahu gajinya nggak segede dosen negeri, tapi tetap bertahan, bahkan bangga. Karena di kampus Muhammadiyah, keberkahan itu lebih dicari ketimbang sekadar angka di slip gaji. Ini bukan sinisme, ini fakta.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosen-muhammadiyah-layak-jadi-menantu-idaman-darpada-pns\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Membayangkan jadi &#8230;<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Membayangkan jadi mahasiswa yang diajar dosen Muhammadiyah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang saya mikir, gimana ya rasanya jadi mahasiswa? Pasti dapet ilmu, dapet nasihat, kadang dapet teh hangat juga kalau ikut bimbingan skripsi di rumah. Apalagi kalau dosennya baik hati dan tidak sombong, bisa jadi panutan. Dosen Muhammadiyah itu seperti ayah sekaligus guru spiritual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, karena nilai-nilai Islam begitu kental, mahasiswa pun ikut kebawa. Banyak yang jadi lebih rajin ngaji, lebih peduli lingkungan, dan lebih tahu sejarah Muhammadiyah. Ini pengaruh diam-diam yang luar biasa. Dakwah kultural tanpa harus teriak-teriak. Lembut tapi ngena. Kayak soto ayam kampung, nggak pedas tapi hangat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya percaya, kalau ada kontes &#8220;Dosen Paling Serba Bisa&#8221;, dosen Muhammadiyah pasti masuk final. Karena mereka sudah terlatih dari segala sisi. Akademik oke, spiritual jalan, sosial lancar, dan birokrasi? Ah, itu sih lauk tambahan. Mereka udah biasa ngisi borang akreditasi sambil ngasuh anak. Strong!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi kalau ada muktamar atau tanwir. Waduh, itu bisa jadi ajang reuni sekaligus rapat marathon. Tapi semangatnya tetap terjaga. Karena mereka merasa jadi bagian dari gerakan besar. Muhammadiyah bukan cuma organisasi, tapi cara hidup. Dan jadi dosen Muhammadiyah artinya ikut serta dalam gerakan itu. Berkelas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jadi menantu idaman ibu-ibu<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah iseng tanya ke ibu-ibu pengajian, &#8220;Bu, kalau nyari mantu, penginnya yang gimana?&#8221; Jawabannya macam-macam. Ada yang pengin tentara, ada yang pengin pengusaha. Tapi satu ibu jawab dengan mantap, &#8220;Pokoknya dosen Muhammadiyah. Sudah pasti pinter, sabar, religius, dan nggak neko-neko.&#8221; Saya tersenyum. Valid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata teman saya yang lulusan jurusan Psikologi, kriteria pasangan ideal itu harus punya tiga hal: kemampuan intelektual, stabilitas emosional, dan nilai spiritual. Nah, dosen Muhammadiyah punya ketiganya. Bonusnya: bisa <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/khotbah\/khotbah-jumat-terlalu-lama-dan-stigma-yang-menyertainya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">khotbah<\/a> Jumat kalau diminta. Kurang apa coba?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang saya mikir, kok bisa ya mereka tetap senyum meski beban kerja sebanyak itu? Mungkin karena mereka tahu, setiap peluh itu akan berbuah pahala. Setiap makalah yang dibaca, setiap nilai yang dimasukkan, bahkan setiap doa pembuka kelas\u2014semuanya bernilai ibadah. Ini bukan sekadar kerja, tapi pengabdian yang hakiki.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan kalau ditanya soal cita-cita, banyak dari mereka nggak muluk-muluk. Nggak pengin jadi rektor atau profesor. Cukup bisa bikin mahasiswa paham, ikut ngaji, dan lulus dengan nilai baik. Sederhana tapi dalam. Seperti lagu <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Iwan_Fals\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Iwan Fals<\/a> yang dinyanyikan di teras rumah, dengan gitar kopong dan teh panas.<\/span><\/p>\n<h2><b>Yang masih single silakan merapat ke Universitas Muhammadiyah terdekat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, buat kamu yang masih single dan sedang nyari pasangan hidup, cobalah tengok<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kampus\/universitas-muhammadiyah-lebih-unggul-dari-kampus-lain\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> kampus Muhammadiyah<\/a> terdekat. Siapa tahu jodohmu sedang mengoreksi tugas mahasiswa sambil menyeruput kopi pahit. Mungkin dia tampak biasa saja, tapi di balik jas almamater birunya, tersimpan hati yang lapang dan semangat pengabdian yang tak tergoyahkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menantu idaman itu bukan soal gaji atau jabatan, tapi soal tanggung jawab, integritas, dan kesungguhan. Dan dari apa yang saya lihat, dosen Muhammadiyah punya semuanya. Plus satu lagi: ketulusan. Dan ketulusan, saudara-saudara, adalah mata uang yang paling mahal di dunia ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dosen Muhammadiyah itu seperti pahlawan tanpa jubah. Mereka datang ke kampus dengan motor butut, membawa nilai-nilai besar dalam tas kecil mereka. Mereka bukan tokoh utama di layar televisi, tapi mereka adalah pemeran penting dalam layar kehidupan. Dan percaya deh, punya mereka sebagai menantu adalah keberuntungan besar.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Andi Azhar<br \/>\nEditor: Kenia Intan<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wartawan-banting-setir-jadi-buruh-pabrik-berujung-dieksploitasi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Saya Banting Setir dari Wartawan Jadi Buruh Pabrik, Berujung Dieksploitasi<\/a><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dosen Muhammadiyah lebih layak menyandang titel mantu idaman daripada PNS. Mereka dijamin tanggung jawab, serba bisa, dan tahan banting. <\/p>\n","protected":false},"author":2934,"featured_media":333947,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[469,28478,18233,7075,525],"class_list":["post-333510","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-dosen","tag-dosen-muhammadiyah","tag-mantu","tag-menantu-idaman","tag-muhammadiyah"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333510","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2934"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=333510"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333510\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/333947"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=333510"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=333510"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=333510"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}