{"id":333263,"date":"2025-05-07T15:08:59","date_gmt":"2025-05-07T08:08:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=333263"},"modified":"2025-05-07T15:08:59","modified_gmt":"2025-05-07T08:08:59","slug":"gagal-seleksi-masuk-ugm-nggak-bikin-dunia-kalian-berakhir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gagal-seleksi-masuk-ugm-nggak-bikin-dunia-kalian-berakhir\/","title":{"rendered":"Gagal Seleksi Masuk UGM Nggak Bikin Dunia Kalian Berakhir dan Hidup Kalian Akan Tetap Baik-baik Saja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang sudah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-gagal-kuliah-di-ugm-dan-saya-menyesal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pernah saya ceritakan<\/a>, saya gagal lolos seleksi masuk UGM, meski pada akhirnya saya tetap kuliah di Jogja. Sampai kini, sekalipun sudah tidak menyakitkan, tapi itu jadi salah satu hal yang saya sesali. Meski begitu, ini bukan akhir dunia. Sama sekali bukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya gagal seleksi masuk UGM pada 2011. Kekecewaan saya tak bisa dibilang remeh, karena UGM lah yang bikin saya memutuskan untuk kuliah di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekalipun gagal, saya tetap keukeuh kuliah di Jogja, dan berakhir masuk Seleksi Mandiri UNY. Memang bukan UGM, tapi setidaknya melihat saya sekarang, nggak masalah juga gagal masuk UGM. So yeah, ini jelas bukan coping.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi yang bisa saya dapat dari perjalanan kuliah dan kerja di Jogja, saya berani bilang, gagal masuk seleksi UGM itu bukan akhir dunia. Beneran.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>UGM memang terbaik, tapi nggak berarti kampus lain jelek<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benar, UGM jelas di atas kampus-kampus lain. Mahasiswa UMY dan UII mungkin akan protes, dan mahasiswa UNY sebaiknya diam saja nggak usah ikut-ikut debat. Tapi yang jelas, UGM lebih terkenal dan jadi top of mind orang-orang jika kamu bilang kuliah di Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, bukan berarti kamu tidak akan dapat hal-hal baik kalau kuliah di kampus lain. Misalnya saya, di FBS UNY, saya dapat banyak hal tentang seni dan budaya. Saya agak yakin nggak akan dapet sebanyak ini jika kuliahnya di UGM. FBS UNY kan kampus seni, dan saya merasa UGM nggak punya kultur seni sekuat FBS.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, UGM ini kuat di bidang lain. Tapi saya rasa sih, kalau memang tekun dan fokus, keknya kalian bisa dapat apa yang anak UGM dapat meski kuliah di kampus lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu diingat bahwa sekalipun tak sementereng UGM, kampus lain tidak serta merta jelek. Nggak gitu cara mainnya. Saya rasa tiap universitas di Jogja punya kekuatannya sendiri-sendiri yang mungkin UGM nggak punya. Kayak UNY dengan pendidikannya, UII\/UIN\/UMY dengan kultur Islam yang lebih kuat, ISI dengan keseniannya, dan UPN dengan\u2026 apa ges aku beneran nggak tahu. Tambang kali ya? Tambang deh.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Berjejaringlah, maka kamu akan merasakannya<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa yang jadi pikiran kenapa gagal seleksi masuk UGM itu seakan neraka karena mikir prestise. Bener, UGM ini kampus yang amat prestise. Ikatan alumninya kuat. Pejabat penting negara muncul dari kampus ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi coba pikir lagi, kamu kuliah ini untuk prestise, atau untuk belajar? Kalau memang prestise, ya silakan bersedih-sedih ria. Tapi untuk belajar, sekalipun memang lagi-lagi UGM lebih andal, tapi nggak berarti kualitas pengajaran kampus lain juga ikutan buruk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kalau misal kalian pengin banget dapet ilmunya, kalian bisa kok berjejaring dengan mahasiswa UGM dan \u201cnyolong\u201d ilmunya. Berjejaring itu penting banget lho. Menurutku dengan nyolong ilmu anak UGM, kalian bisa merasakan gimana rasanya kuliah di UGM sekalipun bukan mahasiswa UGM.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak kok kawan saya yang berjejaring dengan anak UGM, dan dapet karier dari mereka-mereka ini. Saya pun juga melakukan hal yang sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang sih, saya nggak bisa mungkiri kalau gagal seleksi masuk UGM itu rasanya sakit. Sakit banget, malah. Apalagi saya menulis ini tepat di hari pertama saya ke Jogja 14 tahun lalu (diingetin Facebook). Rasa sakit itu terasa lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kok, nyatanya hidup saya baik-baik saja. Malah mendapat banyak hal yang saya yakin tidak akan dapat di UGM. Mungkin kehidupan saya di UGM akan seru, tapi mengulang waktu? Ah, nggak ah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau jika kalian memang masih pengin masuk UGM, selesaikan S1 kalian, lalu <a href=\"https:\/\/um.ugm.ac.id\/ragam-seleksi-pascasarjana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">daftar S2 UGM<\/a>. Kelar. Jelas win-win solution itu. Atau cabut dari kampus kalian, dan coba peruntungan lagi di tahun depan. Tapi, apakah itu bijak? Ya itu urusan kalian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saya sih, gagal seleksi masuk UGM memang, tapi hidup saya baik-baik saja.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kuliah-di-ugm-mimpi-banyak-calon-mahasiswa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Cerita Alumni UGM Kenapa Mereka Memilih Kuliah di UGM: Fasilitas Lengkap, Dosennya Hebat!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau saya sih, gagal seleksi masuk UGM memang, tapi hidup saya baik-baik saja. Saya tetap kuliah di Jogja dan hidup saya tetap bahagia.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":263838,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[9780,28418,195],"class_list":["post-333263","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-kuliah-di-jogja","tag-seleksi-masuk-ugm","tag-ugm"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333263","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=333263"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333263\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/263838"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=333263"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=333263"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=333263"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}