{"id":333177,"date":"2025-05-07T12:34:07","date_gmt":"2025-05-07T05:34:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=333177"},"modified":"2025-05-07T12:34:07","modified_gmt":"2025-05-07T05:34:07","slug":"wartawan-banting-setir-jadi-buruh-pabrik-berujung-dieksploitasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wartawan-banting-setir-jadi-buruh-pabrik-berujung-dieksploitasi\/","title":{"rendered":"Saya Banting Setir dari Wartawan Jadi Buruh Pabrik, Berujung Dieksploitasi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak pernah terpikirkan sebelumnya saya akan bekerja di cabang salah satu pabrik FMCG multinasional terbesar di Indonesia. Sebagai seorang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wartawan-adalah-profesi-yang-sering-disalahpahami-orang-desa-saya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wartawan<\/a> yang berkecimpung di dunia jurnalistik sejak 2019, menjadi buruh pabrik tidak pernah ada dalam daftar cita-cita saya sebelumnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Krisis keuangan yang menimpa perusahaan media tempat saya bekerja berimbas pada keuangan pribadi. Ditambah cita-cita saya menikahi pacar saya, semakin membuat diri ini terpuruk dan hilang arah. Alhasil, saya pun melamar pekerjaan ke berbagai tempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hingga akhirnya, saya diterima di perusahaan yang produk minumannya sering dibilang ada manis-manisnya. Posisi yang saya tempati adalah admin gudang. Status saya masih outsourcing sehingga tidak mendapatkan banyak jaminan seperti karyawan tetap. Di hari buruh kemarin, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/prabowo-gibran-kebelet-mencetak-ahli-coding-dan-ai-padahal-calistung-di-indonesia-dipertanyakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Presiden Prabowo Subianto<\/a> berjanji menghapus outsourcing, semoga saja itu tidak omon-omon belaka. Sebab, pada dasarnya, apa yang saya rasakan sebagai pegawai outsourcing semacam eksploitasi terselubung.<\/span><\/p>\n<h2><b>Jobdesc yang melenceng\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya bekerja sebagai admin gudang, tapi jobdesc yang saya kerjakan lebih mirip helper. Selama ini saya bekerja di shift 1 yang bertanggung jawab membersihkan gudang. Tidak hanya satu gudang, tapi ada 7 gudang yang harus saya bersihkan. Untungnya, ada 2 orang yang bekerja di shift 1, sehingga pekerjaan jadi tidak begitu berat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Admin gudang membersihkan gudang bertugas membersihkan itu sudah aneh. Tapi, ada yang lebih aneh lagi, saya pernah diminta membersihkan tangki solar. Saya harus naik ke atas tangki tersebut dan membersihkannya dengan lap basah. Rasanya, posisi saya sebagai admin ini memang benar-benar merangkap sebagai helper dan operator gudang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanggung jawab lain, saya lebih banyak menata barang, membantu mengangkut paket yang masuk, hingga melayani departemen lain yang butuh barang. Saya sangat jarang bekerja menggunakan komputer, padahal hal itu yang terlintas dalam bayangan ketika menerima pekerjaan sebagai admin gudang. Pekerjaan yang berkaitan dengan komputer sebenarnya jadi tanggung jawab admin gudang shift 2. Namun, setelah saya cermati, kawan-kawan yang bekerja di shift 2 juga tidak banyak memegang komputer, paling sekitar 30 persen saja dari total jam kerja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah tanggung jawab yang agak melenceng dari titel pekerjaan, saya juga merasa janggal dengan penerapan<a href=\"https:\/\/www.djkn.kemenkeu.go.id\/artikel\/baca\/13078\/Kesehatan-dan-Keselamatan-Kerja-itu-Penting.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3)<\/a> di tempat ini. Bagaimana tidak merasa demikian kalau APD yang ada di gudang kimia hanya disimpan sebagai pajangan. Karyawan yang membersihkan gudang kimia, hanya berbekal sapu, pengepel, lap majun, dan badan mereka sendiri. Benar-benar buruh pabrik sangat tidak terjamin keselamatan kerjanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Tanggal merah buruh pabrik bisa tetap masuk<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang membuat saya terkejut adalah para buruh pabrik yang senang sekali kerja lembur. <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-pabrik-terkenal-yang-menjadi-daya-tarik-kota-tangerang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Perusahaan FMCG<\/a> memang terkenal dengan produksi nonstop 24 jam karena produknya harus selalu tersedia di pasaran. Tapi, dengan manajemen dan jumlah karyawan terbatas, hak buruh pabrik untuk mendapatkan libur kerap kali dikesampingkan. Itu pula yang terjadi di pabrik tempat saya bekerja. Saya sempat menyarankan menambah 2-3 pegawai baru supaya hak libur ketika tanggal merah dan hari minggu terjamin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, budaya di sana membuat saya bingung dan mengernyitkan dahi. Katanya, tanggal merah selain hari keagamaan Islam tetap dianggap masuk, bukan libur. Alasannya tidak masuk akal, kebanyakan pekerja di sana beragama Islam sehingga tanggal merah yang berkaitan dengan hari keagamaan agama lain tidak dianggap. Jelas hal itu mengesampingkan hak buruh yang beragama selain Islam.<\/span><\/p>\n<h2><b>Budaya kerja yang aneh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal aneh lain, mereka menganggap usul saya untuk mencari tambahan pekerja supaya buruh pabrik mendapat satu hari libur itu berlebihan. Mereka tidak setuju karena mengaku suka lembur di pabrik. \u201cKalau gitu kasian kita yang ingin mendapatkan lemburan,\u201d kata salah seorang senior saya. Komentar lain, Salah seorang rekan kerja saya yang lain memberikan jawaban yang tidak kalah menohok. \u201cSaya suka lembur karena saya suka uang,\u201d ucap dia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buruh pabrik yang suka lembur bisa jadi pertanda soal masalah yang lebih besar. Pertama, apa memang gaji mereka begitu kecil dan tidak terjamin sehingga perlu uang tambahan dari lembur? Kedua, bagaimanapun kerja pabrik itu kerja fisik, apa tidak berbahaya kalau kebanyakan lembur? Bagaimana kalau terjadi kecelakaan kerja karena kelelahan? Apa memang tidak ada pengawasan terkait itu? Ketiga, bukankah kalau banyak lembur perusahaan juga rugi karena cost untuk pekerja membengkak? Apa hal itu tidak terlintas di benak pihak perusahaan? Pertanyan-pertanyaan itulah yang terlintas di kepala.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain soal<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lika-liku-lembur-pns-kerjanya-luar-biasa-dapetnya-nggak-seberapa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> lembur pekerjaan<\/a>, perusahaan ini melarang buruh pabrik untuk berserikat. Kalau ketahuan ada buruh yang berserikat, otomatis akan dipecat. Para buruh mengikuti begitu saja aturan itu, sebab siapa yang mau dipecat di tengah lapangan kerja yang serba sulit seperti sekarang ini.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas pengalaman saya bekerja banting setir dari wartawan jadi buruh pabrik. Banyak culture shock-nya memang. Saya tidak menyangka nasib buruh outsourcing sebegini terjepit, mulai dari tanggung jawab tidak sesuai dengan posisi kerja, kemungkinan masuk di tanggal merah, budaya lembur yang aneh, hingga tidak boleh berserikat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhammad Afsal Fauzan S.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/banting-setir-di-dunia-kerja-nggak-selamanya-indah-pahami-risikonya\/\"><b>Banting Setir di Dunia Kerja Nggak Selamanya Indah, Pahami Risikonya sebelum Menyesal<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kondisi media yang sulit mendorong wartawan banting setir jadi buruh pabrik. Ternyata kondisinya tidak lebih baik, berujung dieksploitasi.<\/p>\n","protected":false},"author":1184,"featured_media":333215,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[16864],"tags":[218,9229,2417,9122,1838],"class_list":["post-333177","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-profesi","tag-buruh","tag-buruh-pabrik","tag-media","tag-pabrik","tag-wartawan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333177","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1184"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=333177"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333177\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/333215"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=333177"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=333177"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=333177"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}