{"id":333115,"date":"2025-05-09T15:15:35","date_gmt":"2025-05-09T08:15:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=333115"},"modified":"2025-05-10T15:29:32","modified_gmt":"2025-05-10T08:29:32","slug":"ngawi-kabupaten-aneh-yang-meninggalkan-cerita-pahit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ngawi-kabupaten-aneh-yang-meninggalkan-cerita-pahit\/","title":{"rendered":"Cerita Pahit 25 Tahun Hidup di Kabupaten Ngawi yang Aneh\u00a0"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sudah 25 tahun hidup di Ngawi. Lahir dan besar di Kota Bambu membuat saya benar-benar mengenal seluk-beluknya. Kabupaten yang berada di sisi barat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-daerah-paling-underrated-di-jawa-timur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jawa Timur<\/a> dan berbatasan langsung dengan Jawa Tengah itu memang punya beberapa keunikan. Namun, pesona itu tertutupi oleh keanehan-keanehan yang ada di daerah ini. Keanehan yang membuat saya geleng-geleng kepala.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di bawah ini beberapa keanehan selama yang lahir dan besar di Ngawi. Saya yakin keanehan ini sulit ditemukan di daerah lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Pengalaman nonton bioskop yang aneh\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngawi bukanlah kota besar, tapi di sana sudah ada bioskop. Suatu waktu saya ingin banget menonton film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jumanji: The Next Level. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, sesampainya di loket, film tersebut ternyata belum bisa diputar. Kata penjaganya, minimal harus ada 8 penonton dahulu untuk sebuah film bisa diputar. Saya yang datang sendiri pada waktu itu cuma bisa pasrah dan menunggu penonton lainnya. Saya menunggu cukup lama hingga akhirnya menyerah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya kulik, di <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gunungkidul-akhirnya-punya-bioskop-nggak-perlu-capek-ke-kota\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">bioskop<\/a> ini ternyata hanya memutar film-film yang benar-benar laku seperti film horor. Kalau ingin nonton film yang kurang laku (seperti Jumanji tadi), ajaklah rombongan. Kalau tidak, nasibnya bisa seperti saya tadi, menunggu lama dan bukan tidak mungkin pemutaran film dibatalkan. Ya beginilah sensasi nonton di kota kecil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ngawi-kabupaten-aneh-yang-meninggalkan-cerita-pahit\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: Sedikit-sedikit seremoni &#8230;<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Sedikit-sedikit ada seremoni<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa Ngawi cocok punya julukan baru yakni Kota Seremoni. Entah kenapa seremoni resmi di daerah ini banyak sekali. Itu mengapa jangan heran kalau tenda acara, lengkap dengan snack kardusnya, sering sekali terlihat di Ngawi. Dua hal itu sudah seperti template wajib yang nggak bisa ditinggal. Mau itu acara besar seperti pembukaan gedung baru hingga acara receh macam launching <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kenapa-orang-hobi-menerobos-palang-pintu-kereta-api\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">palang kereta api<\/a>, template-nya sama, ada terop, kursi berjajar, sambutan yang panjang, dan tentu saja, snack kardusan isi air gelas, roti, sama kue bolu mini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasanya hampir semua hal di tempat ini harus dirayakan dengan seremoni. Bahkan, kadang acaranya belum benar-benar siap, tapi seremoni udah jalan duluan. Pokoknya yang penting ada dokumentasi, pita yang bisa digunting, dan sepatah dua patah kata dari pejabat setempat. Setelah itu? Ya, kadang proyeknya jalan, kadang juga mandek, yang penting sudah diresmikan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Warga Ngawi lambat beradaptasi dengan hal baru<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Ngawi tergolong lama dalam hal adaptasi teknologi. Transportasi online seperti <a href=\"https:\/\/tekno.kompas.com\/read\/2025\/02\/05\/06451067\/grab-dan-gojek-dikabarkan-kembali-bahas-merger-target-rampung-2025\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gojek dan Grab<\/a> benar-benar masuk sekitar 2\u20133 tahun yang lalu. Itu pun awalnya masih banyak yang ragu. Bukan karena aplikasinya susah, tapi karena bingung: &#8220;Nanti kalau drivernya orang nggak dikenal gimana?&#8221; atau &#8220;Lha terus kita naik motor sama orang asing, aman po?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi jangan heran kalau di beberapa titik, kamu pesan ojek online, drivernya malah nelpon dulu sambil bisik-bisik, \u201cIni beneran mau diantar sekarang, Mbak?\u201d Seolah masih nggak percaya kalau ada yang memesan pakai aplikasi. Kebanyakan warga masih nyaman dengan cara lama: naik becak, ojek pangkalan yang udah langganan, atau paling banter nebeng saudara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang sama juga berlaku untuk belanja online. Kalau di kota besar, kurir datang itu rutinitas. Di Ngawi? Masih jadi tontonan. Begitu ada suara motor kurir berhenti di depan rumah, tetangga langsung nengok dari balik tirai atau pura-pura nyapu. Bahkan ada yang langsung keluar dengan pertanyaan sakti, \u201cPaket opo to, Mbak?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya begitulah Ngawi, berkembang dengan caranya sendiri hingga membuatnya seperti daerah yang aneh di mata orang lain, terutama di mata orang yang terbiasa tinggal di kota. Hidup di daerah seperti ini kadang memang pahit. Saya tidak bisa merasakan pengalaman-pengalaman \u201cmodern\u201d yang banyak disajikan di televisi atau media sosial. Walau begitu, Ngawi tetap punya pesonanya sendiri yang membuat saya nyaman. Saya jadi belajar hidup secara penuh dan puas pada hal-hal kecil dan sederhana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Nuri Ikhwana<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lahir-di-madura-pikul-citra-buruk-tapi-saya-tetap-cinta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Derita Menjadi Orang yang Lahir di Madura dan Memikul Citra Buruk, tapi Saya Tidak Pernah Menyesal<\/a><\/strong><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ngawi kabupaten di Jawa Timur yang aneh karena punya sistem nonton bioskop beda, banyak seremoni, dan warga yang lambat beradaptasi. <\/p>\n","protected":false},"author":2930,"featured_media":333555,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[28442,10004,2501,13282,13098],"class_list":["post-333115","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-hidup-di-ngawi","tag-jawa-tengah","tag-jawa-timur","tag-ngawi","tag-pilihan-redaksi"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333115","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2930"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=333115"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333115\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/333555"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=333115"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=333115"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=333115"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}