{"id":333085,"date":"2025-05-07T12:05:30","date_gmt":"2025-05-07T05:05:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=333085"},"modified":"2025-05-07T12:05:30","modified_gmt":"2025-05-07T05:05:30","slug":"siswa-bermasalah-itu-dibawa-ke-psikolog-bukan-ke-barak-militer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/siswa-bermasalah-itu-dibawa-ke-psikolog-bukan-ke-barak-militer\/","title":{"rendered":"Siswa Bermasalah Itu Dibawa ke Psikolog, Bukan ke Barak Militer, Keberhasilannya Jelas Dipertanyakan!"},"content":{"rendered":"<p><em>Anak-anak bermasalah bukan semestinya dikirim ke barak militer, Kang Dedi Mulyadi, tapi psikolog. Mereka jelas punya ilmunya<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekitar 3-4 hari yang lalu saya menulis tentang pesantren yang bukan tempat \u201cbuang\u201d anak bermasalah. Kurang lebih tulisan tersebut merupakan keresahan saya sebagai alumni pesantren yang pernah merasakan \u201ccipratan\u201d masalah dari anak-anak yang bermasalah, dan terinspirasi dari obrolan bersama dengan teman yang sekarang menjadi pengajar di pesantren.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, setelah menulis tentang hal ini, muncul kebijakan dari Gubernur Jawa Barat, KDM (Kang Dedi Mulyadi) yang <a href=\"https:\/\/www.bbc.com\/indonesia\/articles\/c7932qp4n2ro\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mengirim siswa bermasalah<\/a> ke barak militer. Sebuah kebijakan yang sangat mengundang pro dan kontra, dan saya termasuk yang agak kontra dengan hal ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang saya tulis di tulisan saya sebelumnya, anak bisa menjadi bermasalah karena orang tuanya. Sebagai orang yang sering melihat anak-anak bermasalah di pesantren, kebanyakan saya temui orang tuanya nggak kalah bermasalah. Mulai dari masalah ekonomi, rumah tangga, sampai sifat orang tuanya yang toksik. Belum lagi ditambah lingkungannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sudah dikirim ke barak militer, tapi orang tuanya dan lingkungan masih nggak baik untuk tumbuh kembang si anak, apa gunanya mengirimkan ke barak militer? Daripada dikirim ke barak militer, saya pikir lebih baik mengirim siswa bermasalah ke psikolog sekalian. Jelas lebih baik daripada anak-anak itu dikirim ke barak militer.<\/span><\/p>\n<h2><b>Psikolog adalah orang yang tepat untuk menangani \u201canak-anak bermasalah\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak-anak bermasalah yang dimasukkan ke barak militer oleh KDM banyak kategorinya. Mulai dari yang sering tawuran, bolos sekolah, kecanduan game sampai porno. Daripada ujug-ujug masuk ke barak militer, lebih baik ke psikolog. Masalah dan kenakalan remaja masih bisa dikonsultasikan kepada psikolog untuk dicari penyebab dan pengobatannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barak militer tidak bisa mendiagnosis akar masalah dari si anak. Anak-anak bermasalah tidak mungkin langsung nakal, pasti ada penyebabnya. Mulai dari orang tua, lingkungan, sampai tontonan. Psikolog punya ilmunya. Tentara tidak. Tentara memang dididik untuk disiplin, tapi kita juga sama-sama tahu, kalau yang masuk barak militer dengan sukarela adalah calon tentara, bukan? Mereka sudah siap dengan metodenya. Kalau anak bermasalah? Memang mereka sukarela?<\/span><\/p>\n<h2><b>Psikolog bisa diajak dialog<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Psikolog jelas punya ilmunya dan mereka mengutamakan dialog untuk mengetahui masalah dari anak-anak yang bermasalah. Kalau tentara? tentara tidak bisa diajak dialog, karena mereka dididik untuk menjadi \u201cyes man\u201d untuk selalu taat atas perintah. Jadi hanya ada hitam dan putih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak-anak melakukan kenakalan itu banyak alasannya. Nggak mungkin mereka nakal karena hanya ingin, atau lahir murni jahat. Nggak ada. Manusia itu kompleks, apalagi anak-anak yang masih rapuh. Mereka mungkin akan nurut-nurut saja jika dimasukkan ke barak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau melawan? Gimana caranya, wong mereka lebih lemah dibandingkan dengan tentara yang dididik untuk bertempur. Di depannya nurut, tapi pasti hatinya menggerutu dan akan \u201cbalas dendam\u201d saat sudah tidak di dalam barak. Kalau ke psikolog, jelas lebih aman karena mengedepankan dialog.<\/span><\/p>\n<h2><b>Keberhasilan militer dipertanyakan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saya khawatir anak bermasalah masuk barak militer karena track record militer di Indonesia yang belakangan bikin dada sesak. Kekerasan yang dilakukan oleh oknum militer banyak terjadi kepada sipil belakangan ini. Sila googling saja beritanya, saya berbicara fakta saja di sini, semata-mata karena kasihan terhadap anak-anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, hukuman kepada para oknum TNI yang melakukan kekerasan kepada sipil juga tidak dilakukan secara tegas. Bayangkan, anak-anak yang masih rapuh, labil, butuh bimbingan, dan perlu pertolongan itu malah dididik oleh institusi yang bahkan belum beres dengan masalah yang dilakukan oleh oknum anggotanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keberhasilan psikolog untuk menangani anak-anak bermasalah jadi jauh terlihat lebih baik. Karena metodenya, karena keahliannya, dan tentu saja karena keamanan dan kenyamanan untuk anak-anak yang bermasalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak mau lebih jauh lagi, tapi cukup sampai sini saja saya sampaikan. Kepada Kang Dedi Mulyadi, tolong pikirkan kembali kebijakannya. Semoga tulisan ini sampai dan terbaca oleh Anda. Nuhun.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Nasrulloh Alif Suherman<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dedi-mulyadi-bisa-bikin-trauma-anak-nakal-di-jawa-barat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bahaya Trauma \u201cAnak Nakal\u201d Jawa Barat yang Dikirim Gubernur Dedi Mulyadi ke Barak Militer<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anak-anak bermasalah bukan semestinya dikirim ke barak militer, Kang Dedi Mulyadi, tapi psikolog. Mereka jelas punya ilmunya.<\/p>\n","protected":false},"author":321,"featured_media":333205,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[28413,3884,28414],"class_list":["post-333085","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-barak-militer","tag-psikolog","tag-siswa-bermasalah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333085","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/321"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=333085"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333085\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/333205"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=333085"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=333085"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=333085"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}