{"id":333021,"date":"2025-05-06T09:35:14","date_gmt":"2025-05-06T02:35:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=333021"},"modified":"2025-05-07T11:51:20","modified_gmt":"2025-05-07T04:51:20","slug":"keistimewaan-kediri-di-mata-orang-mojokerto","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/keistimewaan-kediri-di-mata-orang-mojokerto\/","title":{"rendered":"4 Keistimewaan Kediri di Mata Orang Mojokerto yang Membuatnya Sulit Dilupakan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak wisuda enam bulan lalu, saya sudah nggak menyand<span data-sheets-root=\"1\">ung status perantau. Saya resmi cabut dari Kediri dan pulang ke kampung halaman di Mojokerto. Di satu sisi saya sebetulnya senang karena bisa kembali kumpul dengan teman-teman lama dan singgah ke tempat langganan dulu. Tetapi di sisi lain, saya kadang merasa kangen dengan Kediri. Meski cuma 4 tahun tinggal di Kediri, kota itu kadung bikin saya nyaman.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama meranta<span data-sheets-root=\"1\">u ke Kediri, setidaknya saya menemukan beberapa hal istimewa yang nggak bisa saya temukan di Mojokerto. Apa saja itu<\/span><\/span><span style=\"font-weight: 400;\">? <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut saya jelaskan satu per satu.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Simpang Lima Gumul Kediri ramai, tapi nggak meresahkan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, yang pertama saya rind<span data-sheets-root=\"1\">ukan dari Kediri adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/simpang-lima-gumul-kediri-tempat-jahanam-yang-kini-jadi-ikon\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Simpang Lima Gumul<\/a>. Tempat wisata yang biasa disingkat SLG ini boleh dibilang menjadi tempat favorit saya dulu saat weekend tiba.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p>Alasannya sederhana, karena di pagi hari, SLG jadi tempat jogging sekalig<span data-sheets-root=\"1\">us pasar kuliner. Di sana orang-orang datang sekeluarga, bersepeda, atau sekadar lari kecil sambil cari sarapan. Kuliner di sana juga lengkap, mau makanan berat, jajanan ringan, sampai minuman segar, semua ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Habis jogging biasanya saya dan banyak orang pindah ke Taman Hijau SLG. Taman ini nggak terlalu luas, tapi selalu bersih dan adem. Cocok buat rebahan atau selonjoran. Dan ini yang bikin saya kangen sama Kediri. Di Mojokerto nggak ada tempat kayak Taman Hija<span data-sheets-root=\"1\">u SLG ini. Ngenes memang.<\/span><\/span><\/p>\n<p>Lal<span data-sheets-root=\"1\">u di malam hari, suasana SLG berubah lagi. Ada pasar malam dan deretan angkringan khas Klaten yang berjejer rapi. Suasananya ramai, tapi yang bikin istimewa adalah di sana nggak pernah ada yang namanya pengamen. Beda jauh sama Mojokerto yang hampir semua tempat hiburannya selalu didatangi pengamen nakal<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Ada tempat nongkrong seperti di Trawas atau Pacet, tapi&#8230;<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak orang kalau bicara soal wisata alam di Kediri mungkin menyebut Gunung Kelud. Nggak salah sih, tapi buat saya, yang istimewa di Kediri adalah daerah Pegunungan Wilis. Di sana selain ada wisata alam, juga banyak tempat nongkrong yang vibes-nya mirip <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pacet-mojokerto-surga-wisata-yang-sayangnya-tercoreng-pungli\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pacet<\/a> atau Trawas. Adem, ayem, dan menyejukkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi tempat nongkrong di Pegunungan Wilis ini beda. Sebab jalur menuju tempat-tempat tersebut cenderung landai. Nggak ekstrem dan nggak berkelok-kelok tajam kayak di Pacet atau Trawas. Inilah yang bikin saya betah di Kediri. Mau menikmati suasana alam nggak perlu khawatir, nggak perlu tegang saat perjalanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu lagi yang paling bikin saya nyaman adalah di sana nggak ada tempat yang nyetel sound horeg. Serius. Saya tahu Kediri juga terpapar virus itu. Tapi di area Pegunungan Wilis ini, entah kenapa, kedainya ayem tentrem. Nggak kayak di Pacet atau Trawas sekarang yang berisik dan meresahkan.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Sering ada acara diskusi yang bikin pikiran saya lebih hidup, di Mojokerto mana ada<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Zaman kuliah dulu, saya bukan termasuk mahasiswa aktivis. Saya malas ikut organisasi pula. Tetapi saya suka belajar dari pemikiran orang-orang yang aktif di dunia itu. Lantas, apa yang saya lakukan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering diam-diam menyelinap ke acara diskusi mereka. Entah itu yang digelar ormek, UKM, komunitas, maupun warung kopi yang jadi markasnya para aktivis. Jadi, saya berangkat sendirian, duduk kayak orang hilang, ikut diskusi sesekali, lalu pulang. Udah. Simple, nggak terkekang, tapi tetap dapat asupan pemikiran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di Mojokerto, acara-acara diskusi atau sejenisnya nyaris nggak ada. Kalaupun ada, paling cuma setahun sekali atau dua kali. Itu pun biasanya karena peringatan momen tertentu kayak Hari Pancasila atau Hari Santri. Sisanya ya sepi. Dan itu bikin saya merasa punya pikiran yang kering.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah kenapa saya kangen sama Kediri. Di sana, ruang diskusi tumbuh di mana-mana. Ada yang digelar kampus seperti IAIN Kediri, komunitas literasi seperti Taman Baca Mahanani, sampai warung kopi kayak Kios Domisili Sekitar. Kemarin saja, IAIN Kediri sempat <a href=\"https:\/\/iainkediri.ac.id\/bahas-transformasi-pendidikan-kuliah-umum-anies-baswedan-di-iain-kediri-dipadati-ribuan-mahasiswa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">mengundang Anies Baswedan<\/a> saat Hari Pendidikan Nasional.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><strong>Nasi pecel tumpang di Kediri bikin ketagihan<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu waktu masih jadi mahasiswa, urusan cari makan di luar itu bagi saya sebuah tantangan. Ya gimana, cita rasa makanan di Kediri itu cenderung manis. Soto ayam manis, mi ayam manis, nasi goreng manis, bahkan bakso pun ikutan manis. Nggak semuanya sih, tapi hampir merata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tetapi untungnya, ada satu kuliner yang jadi penolong saya, yaitu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nasi-pecel-bukan-milik-madiun-saja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nasi pecel tumpang<\/a> khas Kediri. Kalau kalian belum pernah ngerasain, saya sarankan kalian ke Kediri dan mencobanya. Rasa tumpangnya itu khas; bau fermentasinya, perpaduan rasa gurih-pedas-asamnya, pokoknya unik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Mojokerto ada sih yang jual pecel tumpang. Tapi bagi saya, rasanya beda. Entah karena penjualnya bukan asli Kediri, atau memang lidah saya udah kadung tersihir pecel tumpang di sana, saya nggak tahu. Pokoknya beda saja. Dan itu yang kadang bikin saya kalau weekend pengin ke Kediri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah hal-hal yang bikin saya kangen Kediri. Ini bukan berarti saya menjelekkan Mojokerto, ya. Kita tahu tiap daerah pasti punya kelebihan dan kekurangannya. Hanya saja, dalam hal ini, saya ingin mengingat kalau Kota Tahu itu bukan sekadar tempat saya singgah, tapi juga tempat saya tumbuh dan menuju dewasa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: <span data-sheets-root=\"1\">Achmad Fauzan Syaikhoni<\/span><br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/slow-living-di-kediri-itu-bukan-gaya-tapi-memang-miskin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Slow Living di Kediri Itu Bukan Gaya Hidup, tapi Memang Keadaan yang Memaksa<\/a>.<\/b><\/p>\n<p><b><\/b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selama 4 tahun tinggal di Kediri, ada beberapa hal yang bikin saya susah move on dari tempat ini karena tak bisa dijumpai di Mojokerto.<\/p>\n","protected":false},"author":2221,"featured_media":333046,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[20486,6470,5532],"class_list":["post-333021","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kabupaten-kediri","tag-kediri","tag-mojokerto"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333021","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2221"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=333021"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/333021\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/333046"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=333021"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=333021"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=333021"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}