{"id":332923,"date":"2025-05-05T13:41:15","date_gmt":"2025-05-05T06:41:15","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=332923"},"modified":"2025-05-05T13:41:15","modified_gmt":"2025-05-05T06:41:15","slug":"warung-madura-di-jakarta-dan-surabaya-punya-3-perbedaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/warung-madura-di-jakarta-dan-surabaya-punya-3-perbedaan\/","title":{"rendered":"Perbedaan Warung Madura di Jakarta dan Surabaya yang Nggak Banyak Orang Menyadarinya"},"content":{"rendered":"<p><em>Warung Madura yang berada di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya perlahan tumbuh sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.\u00a0<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung Madura tidak bisa dipisahkan dari kehidupan orang Indonesia. Keberadaannya sama pentingnya seperti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kuliner\/tanda-unik-warteg-asli-tegal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Warteg (Warung Tegal)<\/a> yang menyediakan berbagai masakan rumahan atau rumah makan Padang yang menawarkan berbagai masakan Minang yang kaya akan bumbu rempah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Toko kelontong yang biasanya dimiliki oleh orang Madura ini mampu menjawab kebutuhan masyarakat di sekitarnya dengan harga yang terjangkau. Itu mengapa warung ini bisa tetap eksis di tengah menjamurnya jaringan minimarket. Di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, mereka hadir mengisi ruang-ruang sempit untuk menjangkau konsumen dari berbagai kalangan. Saya yang pernah merantau di Jakarta dan kini di Semarang merasakan betul manfaat adanya warung Madura ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sering bersinggungan dengan toko kelontong ini membuat saya sadar bahwa warung Madura di tiap daerah itu punya karakteristik masing-masing. Saya merasakannya sendiri ketika merantau di Jakarta. Tapi disclaimer dulu, perbedaan ini berdasarkan pengamatan saya dan juga penuturan dari beberapa pemilik warung dan teman saya yang dari Madura. Jadi sedikit subjektif.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pelayanan pemilik atau penjaga warung Madura<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan yang paling kentara antara warung Madura di Jakarta dengan Surabaya adalah karakter dari pemilik atau penjaga warungnya. Dari apa yang saya alami ketika berinteraksi dengan mereka, pemilik atau penjaga warung Madura di Jakarta punya karakteristik yang lebih formal, kaku, dan cuek. Terutama ketika melayani pembeli baru. Aneh memang, biasanya kalau ada pembeli baru, harusnya penjaga lebih santai dan cair dalam meresponnya, biar pembeli dapat kesan yang positif. Namun, saya mengalami hal yang sebaliknya, penjual malah kaku dan cuek. Mungkin mereka menyesuaikan karakter konsumen Jakarta yang memang tidak suka basa-basi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Jakarta yang hidupnya serba tergesa-gesa ingin semuanya bisa dilalui dengan cepat dan efisien. Inilah yang membuat para penjaga atau pemilik warung Madura juga terlihat cuek dan kaku. Terlebih, sikap mereka yang demikian juga bentuk kewaspadaan mereka dari segala motif penipuan dari oknum konsumen. Tapi, meski begitu, mereka tetap tanggap dan komunikatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, karakter pemilik atau penjaga warung Madura di Surabaya saya rasa lebih santai dan ramah. Ramah di sini maksudnya adalah bisa diajak basa-basi atau ngobrol becandaan. Surabaya yang terkenal dengan orang-orangnya yang cukup keras membuat para penjaga atau pemilik warung bersikap lebih terbuka dan fleksibel supaya menarik pelanggan lebih banyak. Terlebih, banyak warung yang dijadikan titik kumpul atau nongkrong bagi beberapa kalangan di Surabaya. Bagi mereka, sikap terbuka ini bisa menghasilkan komunitas secara natural memperluas jangkauannya kepada konsumen dan mengubah mereka menjadi pelanggan setia.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perbedaan bentuk warung Madura dan tata letak barang dagangan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan selanjutnya yang saya rasa kelihatan adalah perkara tampilan dan perangkat pendukung yang ada di dalam warung. Warung Madura di Jakarta, sering kali sangat minimalis, kecil, dan padat. Tidak jarang kebingunan muncul ketika melihat warung ini karena tampak begitu penuh dan ramai barang dagangan.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Hal itu karena warung mereka berbentuk kios yang mayoritas terpisah dengan rumah. Rak yang digunakan juga jarang yang menggunakan kayu, melainkan rak besi susun di beberapa sudut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, warung Madura di Surabaya, umumnya menyatu dengan rumah pemilik dan ukurannya jauh lebih luas. Mereka juga menggunakan rak kayu dan etalase kaca untuk menaruh berbagai barang dagangannya. Selain itu, warung di Surabaya banyak yang jam bukanya tidak sampai <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/siasat-warung-madura-jogja-kalau-dilarang-buka-24-jam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">24 jam<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Metode pembayaran dan strategi bisnis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung Madura di Jakarta banyak yang mulai meniru minimarket dengan menerima metode pembayaran via QRIS. Begitu pula dengan komoditas yang dijual yang mulai merambah ke frozen food. Selain itu, dari penuturan pemilik warung, mereka juga punya sistem distribusi lebih modern seperti menerima pesan antar melalui WA atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/catatan\/perjalanan-di-solo-menyenangkan-berkat-ojol\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Ojek Online (Ojol<\/a>). Supplier untuk komoditas yang mereka jual juga diambil dari agen besar, beberapa malah punya suplai sendiri di Jakarta. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak dari pemilik warung Madura di Jakarta juga melakukan ekspansi dengan punya lebih dari satu gerai. Biasanya berbentuk waralaba keluarga yang dikelola oleh anak atau saudara mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, warung Madura di Surabaya lebih banyak menggunakan metode pembayaran yang masih konvensional. Saya sering ditolak ketika ingin membayar dengan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kode_Respons_Cepat_Standar_Indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">QRIS<\/a>. Selain itu, dari segi supplier, warung di Surabaya lebih tergantung pasar lokal atau koperasi kecil antar pemilik warung Madura. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dari segi pengembangan bisnis, pemilik warung di Surabaya mayoritas berfokus pada satu lokasi dengan loyalitas pelanggan, jarang melakukan ekspansi besar-besaran di beberapa titik di Surabaya.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Perbedaan yang menyesuaikan daerah sekitar\u00a0<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa perbedaan karakter yang saya rasakan dan lihat antara warung Madura di Jakarta dengan Surabaya. Apabila ditinjau dari perspektif sosial-ekonomi, warung di Jakarta punya kecenderungan ke arah perkembangan unit bisnis yang lebih modern, efisien, dan pragmatis. Sementara di Surabaya, warung cukup kental dengan nilai sosial dan kekeluargaan khas orang Madura. Mungkin karena memang secara geografis, mereka juga dekat dengan daerah asal mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi poin pentingnya, warung Madura memang bukan sekadar tentang menawarkan kebutuhan harian. Ia menjadi gambaran sederhana perihal sebuah entitas bisnis yang kecil bisa beradaptasi dengan budaya kota yang berbeda, tanpa kehilangan identitas pakemnya. Entah di Jakarta yang serba cepat, atau Surabaya yang penuh kepanasan, warung Madura tetap jadi harapan bagi orang yang mencari kebutuhan harian dengan harga yang ramah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-minuman-kemasan-yang-cuma-ada-di-warung-madura\/\"><b>5 Minuman Kemasan yang Cuma Dijual di Warung Madura, Nggak Ada di Indomaret dan Alfamart\u00a0<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Warung Madura di Jakarta dan Surabaya punya tiga perbedaan: karakter penjaga atau pemilik, bentuk warung, dan orientasi bisnisnya. <\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":332932,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[529,5020,405,5823,4566,16221],"class_list":["post-332923","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jakarta","tag-madura","tag-surabaya","tag-toko-kelontong","tag-warung","tag-warung-madura"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/332923","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=332923"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/332923\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/332932"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=332923"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=332923"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=332923"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}