{"id":331681,"date":"2025-04-28T11:19:45","date_gmt":"2025-04-28T04:19:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=331681"},"modified":"2025-04-28T11:19:45","modified_gmt":"2025-04-28T04:19:45","slug":"benarkah-jakarta-bukan-lagi-kota-favorit-untuk-merantau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/benarkah-jakarta-bukan-lagi-kota-favorit-untuk-merantau\/","title":{"rendered":"Benarkah Jakarta Bukan Lagi Kota Favorit untuk Merantau? Jawabannya Jelas Tidak, Kota Ini Masih Begitu Mengilap untuk Perantau"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, saya sering dengar bagaimana Jakarta adalah kota bagi mereka yang ingin mengubah nasib, meniti karier, dan mengejar mimpi. Meski disebut lebih kejam daripada ibu tiri, tapi menawarkan lingkungan yang kompetitif, keras (kadang toxic), dan serba cepat. Mereka yang berhasil beradaptasi, akan jadi \u201cseseorang\u201d. Jakarta adalah arena bertarung bagi perantau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, belakangan, anggapan itu kian bergetar. Biaya hidup yang tinggi dan lingkungan yang padat. Kemudian polusi dan kemacetan, ditambah banjir dan panas ekstrem, membuat Jakarta dipandang sebagai Kotanya orang stress dan depresi. Oleh karena itu, kota ini mulai ditinggalkan dan dianggap bukan lagi tujuan bagi perantau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itu pun didukung dengan sebuah liputan dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kumparan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan judul<\/span><a href=\"https:\/\/kumparan.com\/kumparannews\/yang-merantau-ke-jakarta-makin-sedikit-yang-meninggalkannya-makin-banyak-24vz1JHrV7p\/full\"> <span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYang Merantau ke Jakarta Makin Sedikit, yang Meninggalkannya Makin Banyak\u201d<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Liputan tersebut mendasari argumennya pada sebuah publikasi laporan dari BPS berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Statistik Migrasi Indonesia Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Laporan tersebut menyajikan tren penurunan migrasi penduduk yang masuk ke Jakarta. Tertinggi pada rentang tahun 2020 yang mencapai sekitar 585.000 orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi apa benar Jakarta sudah ditinggalkan perantau dan tidak lagi jadi favorit tempat untuk merantau? Sebelum menyimpulkan bahwa Jakarta bukan lagi pilihan para perantau, kita coba samakan dulu definisi dari makna merantau itu sendiri.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Nggak ngitung kalau sempat ada covid?<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut KBBI, merantau memiliki arti berlayar ataupun mencari penghidupan di tanah rantau atau pergi ke negeri lain untuk mencari penghidupan, ilmu, dan sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau katanya Koentjaraningrat (antropologis dari UI), merantau itu bagian dari mobilitas sosial dan geografis, yang dilakukan oleh individu atau kelompok masyarakat sebagai bentuk adaptasi sosial terhadap kondisi ekonomi dan kesempatan di luar daerah asal. Pendapat lain yang nggak kalah terkenal dari Bustanuddin Amran yang bilang merantau itu perpindahan secara sukarela dari kampung halaman menuju daerah lain dengan motivasi ekonomi, pendidikan, sosial, maupun budaya, yang dilakukan untuk sementara waktu ataupun menetap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah kalau kita tarik benang merah dari tiga definisi di atas, maka ada tiga poin utama dari merantau, yaitu perpindahan secara permanen atau sementara, meninggalkan kampung halaman, dan motivasinya perihal ekonomi, pendidikan, pengalaman, atau sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bila mengacu dengan tiga poin di atas, terutama poin tentang motivasi dari merantau, maka nggak bisa langsung disimpulkan dengan gamblang bahwa Jakarta ditinggalkan para perantau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, laporan dari BPS memang menyebutkan adanya tren dari penurunan migrasi masuk, terutama pada 2020. Tapi apa penyebabnya? Apakah perantau itu hanya berpindah tempat tinggal saja tapi tetap bekerja di Jakarta atau bagaimana?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula, rentang waktu dari data 2015-2020 yang dijadikan patokan angka penurunan ekstrem juga jadi bias untuk digunakan dalam menyimpulkan bahwa Jakarta sudah tidak diminati. Pasalnya di tahun tersebut kan beririsan dengan pandemi Covid-19, sehingga ada pembatasan mobilitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu banyak pekerja informal, perantau musiman, bahkan karyawan kontrak, dipecat atau memilih pulang karena ketidakpastian kerja, lockdown, dan PSBB. Di sisi lain, mereka yang dari luar dilarang masuk oleh pemerintah. Tentu akibatnya ya terjadi penurunan migrasi ke Jakarta itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, menggunakan data tersebut untuk menyimpulkan bahwa Jakarta mulai ditinggalkan berpotensi misleading apabila tidak dilakukan pembanding dengan tren pasca-pandemi (2022\u20132024) saat mobilitas kembali normal.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Dari dulu memang sudah begitu<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua adalah perkara penentuan tempat tinggal. Katanya banyak yang mulai memilih tempat tinggal di area Bodetabek. Jakarta dianggap sumpek, padat, dan berpolusi. Lah ya dari dulu juga sudah seperti itu. Jakarta juga bukan tempat untuk menua atau pensiun. Tapi apakah itu bisa dijadikan justifikasi satu-satunya bahwa Jakarta sudah nggak diminati?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang ada tren suburbanisasi karena orang mencari tempat tinggal yang lebih tenang dan living cost yang lebih terjangkau, tapi tetap saja, motivasi merantau itu kan salah satunya perkara ekonomi. Pada faktanya, Jakarta tetap jadi pilihan bekerja bagi banyak perantau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kasih data dalam liputan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kumparan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang justru malah mendukung argumen kedua saya ini. Disebutkan bahwa data menurut BPS dalam laporannya berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Statistik Komuter Jabodetabek 2023<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, terdapat 1,5 juta orang warga Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) yang sehari-hari melaju ke Jakarta. Entah untuk bekerja, bersekolah, maupun kuliah. Itu artinya, Jakarta tetap jadi destinasi merantau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu,data BPS menyebut kalau sampai 2024, Jakarta masih jadi kota dengan total pekerja, baik formal maupun informal yang sangat tinggi, yaitu lebih dari 5 juta pekerja. Bandingkan dengan Bogor cuma 400 ribuan, Bekasi 1,4 jutaan, dan Bandung 1,5 jutaan. Nggak nyampe setengahnya Jakarta.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Sekalipun ruwet, Jakarta masih menarik<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, Jakarta dengan keruwetannya tetap terlihat menarik bagi mereka yang ingin meniti karier. Meski secara UMR, Jakarta hanya berada di peringkat 4, kemudian masih ditemukan banyak pekerja yang digaji di bawah UMR, tapi Jakarta bisa dibilang jadi episentrum bagi terbukanya berbagai sektor industri. Sebut saja di bidang jasa, perdagangan, pemerintahan, korporasi, startup, entertainment, dan masih banyak lagi. Orang yang merantau jadi punya banyak pilihan dalam berkarier.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, terlalu dini menyebut Jakarta tidak diminati oleh perantau, pasalnya data pergerakan migrasi yang terjadi lebih kepada pergeseran preferensi hunian, bukan tentang ekonomi dan daya tarik karier. Kenyataannya, Jakarta masih menawarkan kesempatan bagi siapapun yang berani dengan risiko.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin Jakarta bukan tempat tinggal yang ideal, tapi ia tetap menjadi tujuan bagi mereka yang ingin mengadu nasib, mengejar karier, dan membuktikan diri. Sebab pada akhirnya, Jakarta mengajarkan apa yang bisa dicapai, bukan tentang kenyamanan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-stigma-yang-salah-tekait-jakarta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Stigma yang Salah tentang Jakarta bagi Anak Perantau, Sekarang Nggak Perlu Takut!<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mungkin Jakarta bukan tempat tinggal yang ideal, tapi ia tetap menjadi tujuan bagi mereka yang ingin mengadu nasib dan membuktikan diri.<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":322158,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[529,28291,535],"class_list":["post-331681","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jakarta","tag-kota-merantau","tag-tempat-tinggal"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/331681","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=331681"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/331681\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/322158"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=331681"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=331681"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=331681"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}