{"id":331585,"date":"2025-04-27T13:41:38","date_gmt":"2025-04-27T06:41:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=331585"},"modified":"2025-04-27T13:41:38","modified_gmt":"2025-04-27T06:41:38","slug":"mereka-yang-menemukan-cinta-dan-keindahan-dalam-gelegar-sound-horeg","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mereka-yang-menemukan-cinta-dan-keindahan-dalam-gelegar-sound-horeg\/","title":{"rendered":"Mereka yang Menemukan Cinta dan Keindahan dalam Gelegar Sound Horeg"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah lebih dari 4 tahun sound horeg ini eksis di tengah masyarakat. Sudah lebih dari 4 tahun pula opini saya terhadap sound horeg ini bulat, solid, juga keras. Saya nggak sepakat, nggak suka, dan saya sangat terganggu sebab gelegar sound ini selain bikin nggak nyaman di badan, juga kerap merusak. Saya juga sampai menuliskan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-nonton-langsung-sound-horeg-bikin-pusing-mual\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> uneg-uneg<\/a> saya di <em>Terminal Mojok<\/em> terhadap sound horeg, dan bilang bahwa sound ini banyak mudharat-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sikap saya terhadap sound horeg ini perlahan melunak. Saya masih menolak, nggak suka, dan nggak sepakat dengan sound horeg, hanya saja tidak sekeras sebelumnya. Ini karena saya ngobrol panjang dengan beberapa kawan yang memang mencintai, bisa menikmati, dan bisa menemukan keindahan dalam gelegar sound horeg.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari obrolan yang cukup panjang dan dalam itu, saya jadi paham tentang alasan-alasan mereka mencintai sound horeg. Dari obrolan itu pula saya jadi tahu hal-hal apa saja di dalam sound horeg yang menarik bagi mereka, dan apa yang mereka cari serta dapatkan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menemukan keindahan di tengah gelegar<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adalah Median Abbie (26), seorang kawan yang saya kenal paling suka dan paling mengikuti \u201cskena\u201d sound horeg. Ketika saya tanya mengapa dia suka dengan sound horeg, dan apa yang menurutnya menarik darinya, Abbie menjawabnya dengan sederhana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSeneng aja aku. Kalau buatku secara pribadi, kok bisa sound yang kelihatannya sesimpel itu bisa menghasilkan suara semenggelegar itu. Sound (horeg) ini suaranya banter, tapi nggak sakit di kupingku, malah enak didengar, apalagi kalau didengar dari jarak yang agak jauh. Itu uniknya.\u201d ujar Abbie yang pernah menempuh jarak 56 kilometer dari Batu ke Pagak, dekat Kepanjen untuk nonton sound horeg.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Abbie juga memaparkan hal yang lebih menarik, bahwa baginya, nggak semua sound horeg itu bikin telinga sakit. Menurut Abbie, sound horeg yang bikin telinga sakit adalah sound yang nggak enak, entah tatanannya kurang bagus, atau hardware sound-nya jelek. Sound yang bagus, nggak akan bikin telinga sakit, setidaknya bagi pencinta horeg sepertinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBuatku, sound horeg yang nggak enak itu pasti sakit di telinga, bikin badan nggak nyaman, kayak merinding, gelisah gitu. Tapi kalau sound horeg yang enak, ke badan itu gelegar dan hentakannya terasa. Di dada itu kayak jleg, mengentak gitu. Di telinga juga nggak sakit. Nah, itu sound yang enak menurutku.\u201d lanjut Abbie yang ternyata tidak pernah merasakan efek negatif di badannya ketika mendengar dan menonton acara tersebut.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Detail suara masih bisa tertangkap<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu saya menanyakan tentang bagaimana mereka bisa mendengar dan menikmati musik dari sound horeg itu, padahal suaranya terlalu kencang, terlalu menggelegar, dan kadang suara bass-nya terlalu dominan. Abbie mengatakan bahwa dia masih bisa menangkap detail suaranya. \u201cKalau aku iso ae, Mas. Masih bisa nangkap, kok, detail-detail suaranya.\u201d ujar Abbie.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendapat ini dikuatkan oleh kawan saya yang lain, Alfareza Fahmi (24), yang menjelaskan mengapa sound horeg sekarang ini clarity-nya lebih bisa ditangkap oleh telinga para pencintanya. \u201cSekarang trennya gak menonjolkan bass. Sound horeg sekarang itu malah pengin menonjolkan sound mid-high. Makanya ada tren sound nrotok itu.\u201d ujar Fahmi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tren sound nrotok (suara \u201ctok tok tok tok\u201d yang rapat dan konstan mirip cosmic music) itu memang sedang hype saat ini. Sound nrotok yang menonjolkan mid-high dan menurunkan sedikit sound low (bass) menjadikan keseluruhan sound horeg ini terdengar lebih jelas, bahkan sampai ke detail-detailnya. Menurut Fahmi, trennya sedang bergeser ke sana.<\/span><\/p>\n<h2><b>Daya tarik crafting sound horeg, dan permainan jumlah subwoofer<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain faktor suara, salah satu hal yang bikin orang-orang seperti Abbie itu mencintai sound adalah soal gimana para pelaku itu memodifikasi sound, serta gimana mereka menyusun subwoofer yang mereka pakai. Itu menurutnya yang membuat dirinya tertarik dengan sound horeg.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku itu takjub dengan mereka. Sound mereka itu hampir semuanya rakitan, custom, dan bisa menghasilkan suara yang menggelegar. Di situ seninya menurutku. Selain itu, mereka kadang cuma pakai misalnya 12 buah subwoofer, tapi suaranya bisa menggelegar. Itu yang unik, gimana rakitannya, gimana spek-nya, gimana penataannya, macam-macam, lah. Embuh gimana itu caranya.\u201d ujar Abbie. Dia juga mengatakan bahwa jumlah subwoofer yang lebih banyak belum tentu lebih baik dan lebih bagus dari mereka yang jumlah subwoofer-nya lebih sedikit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkait perkara subwoofer, Fahmi juga menambahkan bahwa sekarang, orang sound itu sudah mainnya memang di subwoofer, bukan lagi kebutuhan watt listrik. \u201cSekarang hitungan sound itu kan berubah. Kalau dulu kan hitungannya misalnya di area dengan luas sekian, butuhnya sekian watt. Tapi sekarang mereka mainnya jumlah <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Subwoofer\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">subwoofer<\/a>. Kalau di Banyuwangi bahkan bisa sampai puluhan, bahkan ratusan subwoofer untuk satu sound system.\u201d ujar Fahmi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurutnya pula, banyaknya subwoofer ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Orang yang datang ke acara ini nggak hanya mendengarkan sound-nya saja atau menonton para dancer, tapi mereka juga melihat betapa banyak dan megahnya subwoofer yang dipakai.<\/span><\/p>\n<h2><b>Adu sound, dan adanya unsur mistis yang bermain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Acara ini bukan sekadar tontonan gitu aja. Acara ini juga menjadi tempat \u201cpertarungan\u201d berbagai macam vendor sound. Misalnya di sebuah acara sound, ada lima vendor sedang cek sound, mereka akan dijejerkan di venue, lalu diadu (secara tidak langsung), mana sound yang lebih unggul, lebih bagus, dan lebih menggelegar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baik Abbie maupun Fahmi mengatakan bahwa adu sound ini juga jadi daya tarik tersendiri. Di sana kita bisa lihat gimana caranya satu sound bisa lebih unggul dari sound lainnya, gimana suara yang dihasilkan satu sound bisa menutupi sound yang lainnya. Para pencinta sound horeg senang banget kalau sudah ada \u201cpertarungan\u201d semacam ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan selayaknya \u201cpertarungan\u201d pada umumnya, ada aspek non-teknis yang bermain. Ya, aspek mistis. Acara sound horeg (baik di cek sound maupun di karnaval) itu erat banget kaitannya dengan urusan mistis. Hal paling sederhana adalah adanya sesajen, atau janur yang dipasang di sebelah sound systemnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBahkan ada yang sampai kirim-kiriman mistis. Misalnya ada sound yang gagal nyala sepanjang acara, padahal sebelumnya normal-normal aja. Ada yang tiba-tiba jebol, bahkan kebakar. Lalu ditemukan beberapa benda seperti pisang atau kue apem di dalam sound, itu pasti kiriman dari vendor lain. Itu kelihatan banget, kok. Sing seneng horeg pasti ngerti.\u201d ujar Abbie yang juga diiyakan oleh Fahmi. Menurut mereka adu sound dan campur tangan hal mistis ini juga bikin masyarakat suka banget dengan sound horeg.<\/span><\/p>\n<h2><b>Hiburan murah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari obrolan bersama Abbie dan juga Fahmi, saya jadi paham tentang mengapa mereka mencintai sound horeg. Bagi mereka, ini bukan soal gelegar suaranya saja. Ada hal-hal lain yang bisa diulik, yang bisa diamati. Mau itu hal teknis, estetikanya, hingga hal-hal yang kadang sulit dinalar akal sehat manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, satu hal yang akhirnya saya sadari adalah bahwa sound horeg ini hiburan murah. Menonton acara ini nggak perlu keluar biaya yang banyak. Bahkan ada banyak acara yang gratis, cuma bayar parkir aja, itupun kalau bawa kendaraan. Kalau nggak, ya benar-benar gratis. Bandingkan misalnya dengan pergi ke konser\/festival musik, atau pergi ke klub\/diskotik. Harus bayar ratusan ribu bahkan sekian juta. Maka nggak heran kalau banyak orang yang memilih ini sebagai hiburan mereka.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Obrolan saya bersama dua kawan saya mungkin nggak akan mengubah sikap saya terhadap hal ini. Saya tetap menolak, tetap tidak suka. Namun, saya jadi lebih mengerti mengapa mereka bisa menemukan hal-hal yang bisa mereka cintai dari sound ini. Dan di luar sana, tentu ada banyak orang-orang seperti Median Abbie atau Alfareza Fahmi yang berhasil menemukan cinta dan keindahan di tengah gelegar sound horeg.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Iqbal AR<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/karnaval-sound-horeg-blitar-tak-bisa-dibenci\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Karnaval Sound Horeg Dicap Mengganggu karena Bising, tapi di Blitar Jadi Sarana Bantu Anak Yatim<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di luar sana, tentu ada banyak orang-orang yang berhasil menemukan cinta dan keindahan di tengah gelegar sound horeg.\u00a0<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":323727,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6216,1722,2501,985,20079],"class_list":["post-331585","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banyuwangi","tag-hiburan-rakyat","tag-jawa-timur","tag-malang","tag-sound-horeg"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/331585","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=331585"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/331585\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/323727"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=331585"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=331585"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=331585"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}