{"id":331569,"date":"2025-04-27T14:14:36","date_gmt":"2025-04-27T07:14:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=331569"},"modified":"2025-04-27T14:14:36","modified_gmt":"2025-04-27T07:14:36","slug":"wacana-solo-menjadi-daerah-istimewa-sebaiknya-ditolak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wacana-solo-menjadi-daerah-istimewa-sebaiknya-ditolak\/","title":{"rendered":"Wacana Solo menjadi Daerah Istimewa Sebaiknya Ditolak, Nanti Daerah Lain Cemburu"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau urusan status istimewa, Solo ini kayak mantan yang dulu pernah disayang, terus diputusin gara-gara banyak drama, eh sekarang minta balikan. Dulu, di tahun 1945, Surakarta sempat dapat status daerah istimewa barengan sama euforia kemerdekaan. Raja-raja di Keraton dan Mangkunegaran buru-buru kirim surat cinta ke Soekarno-Hatta, tanda setia sama Republik baru. Jadilah Solo, barang sebentar, punya gelar mewah:<\/span><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Daerah_Istimewa_Surakarta\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Daerah Istimewa Surakarta<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi ya gitu, hubungan yang dibangun buru-buru, sering ambyar juga buru-buru. Cuma setahun jalan, Surakarta malah berubah jadi panggung revolusi sosial. Raja dibentak, aparat kabur, rakyat ngamuk, monarki keteteran. Pemerintah pusat, yang lagi sibuk nahan negara muda ini supaya nggak rontok, akhirnya mencabut status istimewa Solo. Udah, selesai, Solo kembali jadi anak biasa di Jawa Tengah, tanpa mahkota, tanpa gelar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang, setelah sekian dekade, wacana Surakarta jadi daerah istimewa diangkat lagi. Alasannya: demi mengembalikan kejayaan budaya, hak sejarah, sampai memperkuat nasionalisme. Masalahnya, sejarah pernah ngajarin satu hal: keistimewaan itu berat, Mas. Kalau dikasih ke satu daerah, daerah lain bisa manyun sambil menuntut hal yang sama. Mau negara ini isinya daerah istimewa semua? Bisa-bisa nanti ada Daerah Istimewa Probolinggo, Daerah Istimewa Purwakarta, sampai Daerah Istimewa Jombang. Ribet, kan?<\/span><\/p>\n<h2><b>Kalau Solo diistimewakan, daerah lain bisa ngambek berjemaah<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba bayangin kalau Solo dikasih status Daerah Istimewa lagi. Besoknya, Bali bisa ngamuk: &#8220;Halo, budaya kami mendunia, masak nggak istimewa?&#8221; Nggak mau kalah, orang Minangkabau bisa nimpalin: &#8220;Kami dari dulu punya adat kuat, jaringan perantauan se-Indonesia, masa kami biasa-biasa aja?&#8221; Riau bisa ikut nyenggol: &#8220;Kekayaan minyak kami apa kabar? Kami juga mau dong spesial.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bekasi? Wah, jangan salah. Bekasi bisa langsung bikin mosi. &#8220;Kami sudah berjuang hidup di antara dua dunia: Jakarta dan planet lain. Sudah waktunya Bekasi diangkat jadi Daerah Istimewa Multiverse.&#8221; Belum lagi daerah-daerah lain yang bakal sadar kalau ternyata punya sejarah keren masing-masing. Negara ini bisa jadi kayak acara reunian alumni: semua merasa berjasa, semua pengin dapat medali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, tujuan bikin daerah istimewa itu bukan buat gaya-gayaan atau nostalgia masa lalu. Harus ada faktor keberlanjutan, kontribusi konkret, dan kebutuhan strategis negara. Kalau semua daerah yang merasa punya sejarah keren dikasih label &#8220;istimewa&#8221;, ya selamat datang di Indonesia Darurat Kecemburuan Nasional. Tiap rapat nasional isinya bukan lagi bahas pembangunan, tapi debat siapa yang lebih pantas disebut daerah spesial. Mau kayak gitu, Mas\/Mbak?<\/span><\/p>\n<h2><b>Jangan sampai negeri ini jadi ajang adu spesial<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau semua daerah merasa berhak diistimewakan hanya karena punya sejarah keren, budaya unik, atau warisan leluhur, lama-lama negeri ini isinya cuma parade gengsi. Tiap daerah sibuk ngangkat nenek moyangnya, tiap kabupaten sibuk pamerin perjuangan lokalnya. Bukannya makin kuat, kita malah bisa pecah jadi negara federasi-gengsi: siapa yang paling istimewa, siapa yang paling pantas diarak keliling nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, kekuatan Indonesia justru lahir dari rasa setara. Dari Aceh sampai Papua, dari Sabang sampai Merauke, semua merasa satu, bukan merasa lebih unggul. Negara ini bisa bertahan puluhan tahun bukan karena masing-masing daerah sibuk minta status khusus, tapi karena mau berjalan berdampingan, saling menguatkan, tanpa perlu rebutan spotlight.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wacana Solo mau jadi daerah istimewa sah-sah saja. Tapi sebelum mikir soal gelar, lebih baik kita tanya dulu ke dalam diri: apa negara ini butuh tambahan status istimewa, atau justru butuh lebih banyak kerja nyata supaya semua rakyatnya, dari kota sampai desa, merasa diistimewakan dengan kesejahteraan yang nyata?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau nanti semua daerah diberi gelar istimewa, bukankah status istimewa itu sendiri sudah tidak istimewa?<\/span><\/p>\n<h2><b>Solo itu sudah keren sekalipun tanpa mahkota<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau jujur, Solo hari ini udah keren kok tanpa perlu embel-embel Daerah Istimewa. Mau cari kota budaya? Ada. Mau cari kota dagang? Ada. Mau cari tempat belajar? Ada. Mau wisata ke rumah<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gagal-paham-dengan-orang-yang-mampir-rumah-jokowi-di-solo\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">mantan presiden<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">? Ada. Dari batik sampai kuliner, dari universitas sampai industri kreatif, Solo udah jalan sendiri dengan gagah, tanpa harus pakai mahkota kehormatan dari negara. Nggak usah ngoyo, Bung. Solo sudah keren tanpa perlu stempel tambahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian, apa iya keistimewaan harus dibuktikan lewat surat keputusan presiden? Bukankah keistimewaan itu mestinya tumbuh dari kualitas, bukan dari pengakuan? Solo bisa kok jadi pusat budaya dan bisnis tanpa perlu ngotot minta titel istimewa kayak anak kos minta pengakuan pacaran ke teman sekosan. Kadang, justru yang diam-diam keren itu yang paling tahan banting. Yang terlalu sering minta diistimewakan malah rawan jatuh gara-gara ekspektasi ketinggian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau hari ini Solo tetap fokus ngurus rakyatnya, ngurus UMKM-nya, ngurus kreativitas anak mudanya, percayalah, Solo bakal jauh lebih dihormati daripada sekadar diberi gelar. Karena di era sekarang, keistimewaan itu bukan soal sejarah masa lalu, tapi soal apa yang kita lakukan hari ini. Dan Solo pun sudah cukup keren untuk melangkah tanpa harus menoleh ke belakang, apalagi cuma buat rebutan status yang sebenarnya sudah lewat masa berlakunya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Keistimewaan sejati itu nggak perlu diributin<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang, yang benar-benar istimewa itu justru yang nggak perlu teriak-teriak minta diakui. Kayak Jogja, yang tetap adem meskipun dapat gelar istimewa, atau kayak daerah-daerah \u201ckecil\u201d yang diam-diam nyumbang banyak buat republik ini tanpa perlu minta titel apa-apa. Keistimewaan itu soal konsistensi, bukan soal nostalgia masa lalu atau klaim budaya yang diangkat tiap musim pemilu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Solo yakin punya budaya kuat, tradisi hebat, dan kreativitas yang melimpah, ya tinggal jalan terus saja. Nggak usah nunggu disematkan mahkota dari pemerintah. Karena di dunia yang makin penuh kompetisi ini, yang bertahan bukan yang paling banyak gelarnya, tapi yang paling adaptif, kreatif, dan mau kerja keras tanpa harus baper.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada sibuk ngurusin status istimewa yang bisa bikin negara ini tambah pusing, mending energi Solo dipakai buat hal-hal lebih nyata: memperbaiki kota, mendongkrak ekonomi rakyat, dan menjaga warisan budaya biar tetap hidup\u2014bukan sekadar jadi alasan buat minta keistimewaan. Karena pada akhirnya, rakyat butuh masa depan yang lebih baik, bukan sekadar plakat bertuliskan \u201cDaerah Istimewa.\u201d<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Raihan Muhammad<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-keunikan-kota-solo-yang-nggak-mungkin-ditiru-kota-lain\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">3 Keunikan Kota Solo yang Nggak Mungkin Ditiru dan Diterapkan Kota Lain karena Bakal Jadi Aneh dan Ambyar<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau Solo yakin punya budaya kuat, tradisi hebat, dan kreativitas melimpah, ya jalan terus saja. Nggak usah minta jadi daerah istimewa.<\/p>\n","protected":false},"author":2215,"featured_media":307596,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[28286,28287,2284],"class_list":["post-331569","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-daerah-istimewa","tag-daerah-istimewa-surakarta","tag-solo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/331569","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2215"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=331569"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/331569\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/307596"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=331569"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=331569"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=331569"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}