{"id":331566,"date":"2025-04-29T10:42:20","date_gmt":"2025-04-29T03:42:20","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=331566"},"modified":"2025-04-29T10:42:20","modified_gmt":"2025-04-29T03:42:20","slug":"paspor-indonesia-begitu-lemah-bikin-kita-jadi-warga-terhina","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/paspor-indonesia-begitu-lemah-bikin-kita-jadi-warga-terhina\/","title":{"rendered":"Paspor Indonesia Begitu Lemah, Bikin Kita Jadi Seperti Warga Kelas 2 yang Terhina dan Sengsara"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau punya paspor Indonesia dan pernah mencoba mengajukan visa ke Amerika Serikat, Eropa, atau Australia, pasti kamu sudah paham betapa sengsaranya prosesnya. Bayangkan, kamu harus mengumpulkan segudang dokumen, bayar biaya yang nggak murah, dan menunggu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan stempel visa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan yang paling menyebalkan? Kalau visa kamu ditolak, uang yang sudah kamu bayar nggak bakal dikembalikan. Ya, kamu benar-benar harus siap sengsara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Henley Passport Index 2025, paspor Indonesia <a href=\"https:\/\/www.tempo.co\/hiburan\/paspor-terkuat-di-dunia-2025-menurut-indeks-nomad-1229620\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">berada di peringkat ke-66 dunia<\/a>, dengan akses bebas visa atau visa on arrival ke 76 negara. Bandingkan dengan paspor Singapura yang menduduki peringkat pertama dengan akses ke 195 negara, atau paspor Malaysia yang ada di peringkat ke-9 dengan akses ke 170 negara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jelas, perbedaan ini bikin kita iri. Sementara teman-teman kita dari Singapura bisa dengan mudah liburan ke Eropa atau Amerika, kita harus berjuang mati-matian hanya untuk mendapatkan visa.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenapa paspor Indonesia begitu lemah?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peringkat paspor ini nggak cuma soal desain atau warna cover-nya (yang katanya akan berubah jadi merah marun mulai Agustus 2025). Ini lebih tentang hubungan diplomatik, persepsi keamanan, dan kebijakan imigrasi negara lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Negara-negara seperti Singapura dan Malaysia punya hubungan diplomatik yang kuat dengan banyak negara. Makanya, warga mereka bisa menikmati akses bebas visa ke hampir seluruh dunia. Sementara Indonesia, meskipun punya potensi besar, masih ketinggalan dalam hal ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, persepsi internasional tentang stabilitas politik dan keamanan juga memengaruhi peringkat paspor Indonesia. Negara-negara maju seperti AS dan negara-negara Eropa cenderung lebih ketat dalam memberikan visa kepada warga negara yang dianggap berisiko tinggi. Ini kayak nggak adil sih, tapi begitulah kenyataannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proses aplikasi visa itu sendiri adalah tantangan besar. Misalnya, untuk mengajukan visa AS, kamu harus membayar biaya sekitar $200 (sekitar Rp3 juta), mengisi formulir yang panjang, dan menghadiri wawancara di kedutaan besar AS.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun sudah melakukan semua itu, tetap ada risiko visa kamu ditolak. Menurut data, tingkat penolakan visa AS untuk warga Indonesia pada 2023 adalah sekitar 10,95%. Bayangkan, kamu sudah keluar uang dan waktu, tapi akhirnya nggak jadi pergi karena visa ditolak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proses yang sama juga berlaku untuk <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/visa-schengen-saya-lebih-mudah-dikabulkan-berkat-sponsor\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">visa Schengen<\/a> (Eropa) dan Australia. Kamu harus menyiapkan dokumen seperti bukti keuangan, tiket pulang-pergi, dan surat undangan jika kamu punya. Belum lagi waktu tunggu yang bisa mencapai berbulan-bulan. Ini bikin rencana liburan atau perjalanan bisnis jadi sangat rumit.<\/span><\/p>\n<h2><b>Paspor Indonesia dan perbandingannya dengan negara tetangga<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita bandingkan kekuatan paspor Indonesia dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/paspor-malaysia-yang-kuat-bikin-iri-pemegang-paspor-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Malaysia<\/a> dan Singapura. Paspor Malaysia, yang berada di peringkat ke-9, memberikan akses bebas visa ke 170 negara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, paspor Singapura, yang menduduki peringkat pertama, bisa membawa pemegangnya ke 195 negara tanpa visa. Ini berarti warga Malaysia dan Singapura bisa dengan mudah bepergian ke hampir seluruh dunia tanpa harus repot mengurus visa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan, teman kamu dari Singapura bisa tiba-tiba memutuskan untuk liburan ke Paris hanya karena dia lagi bosan. Sementara kamu, yang punya paspor Indonesia, harus merencanakan perjalanan berbulan-bulan sebelumnya, mengumpulkan dokumen, dan berdoa agar visa kamu disetujui. Sungguh, perbedaan ini bikin kita merasa seperti warga negara kelas 2.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perubahan desain<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah memang sudah berusaha untuk meningkatkan kualitas paspor Indonesia. Mulai Agustus 2025, desainnya akan berubah dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/percuma-desain-paspor-indonesia-baru-tapi-lemah-kalah-kuat-dari-timor-leste\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">hijau tosca menjadi merah maroon<\/a>, dengan fitur keamanan yang lebih canggih. Selain itu, mulai Desember 2024, biaya paspor juga akan naik, dengan opsi validitas 5 dan 10 tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, apakah perubahan ini akan meningkatkan peringkat paspor Indonesia? Sayangnya, nggak. Peringkat ini lebih bergantung pada hubungan diplomatik dan persepsi internasional daripada desain atau biaya. Jadi, meskipun sudah lebih cantik, kita tetap harus berjuang untuk mendapatkan visa ke banyak negara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun situasinya terlihat suram, bukan berarti nggak ada harapan. Untuk meningkatkan peringkat paspor, Indonesia perlu memperkuat hubungan diplomatik dengan negara-negara lain dan meningkatkan citra internasional. Negosiasi perjanjian visa-free dengan lebih banyak negara juga bisa menjadi solusi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, kita sebagai warga negara juga bisa berkontribusi. Misalnya, dengan mematuhi hukum dan menjaga keamanan saat bepergian ke luar negeri. Ini bisa membantu meningkatkan persepsi internasional tentang Indonesia.<\/span><\/p>\n<h2><b>Tetap optimis, tapi realistis<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, apa yang bisa kita lakukan sebagai pemegang paspor Indonesia? Pertama, kita harus realistis. Proses aplikasi visa memang rumit dan mahal, tapi itu adalah kenyataan yang harus kita hadapi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, kita harus merencanakan perjalanan dengan baik. Pastikan kamu mengumpulkan semua dokumen yang diperlukan dan mengajukan visa jauh-jauh hari sebelum tanggal keberangkatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi yang paling penting, kita harus tetap optimis. Meskipun nggak sekuat paspor Singapura atau Malaysia, kita tetap punya banyak destinasi menarik yang bisa dikunjungi tanpa visa. Misalnya seperti Thailand, Kamboja, dan Malaysia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan siapa tahu, suatu hari nanti, paspor Indonesia akan menjadi salah satu yang terkuat di dunia. Sampai saat itu tiba, mari kita siap sengsara dulu. Karena, ya, begitulah nasib pemegang paspor Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Fauzan Hidayat<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/visa-schengen-jadi-momok-orang-indonesia-yang-ingin-ke-eropa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mengurus Visa Schengen Jadi Momok bagi Orang Indonesia yang Ingin ke Eropa<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Paspor Indonesia memang sangat lemah. Kenyataan itu bikin orang Indonesia jadi kayak warga kelas 2, terhina, dan sengsara kalau bikin visa.<\/p>\n","protected":false},"author":2360,"featured_media":331815,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[28307,28306,28308,6955,25807,28305,9818,27310],"class_list":["post-331566","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-bebas-visa","tag-indeks-paspor-indonesia","tag-negara-bebas-visa","tag-paspor","tag-paspor-indonesia","tag-paspor-indonesia-lemah","tag-visa","tag-visa-schengen"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/331566","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2360"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=331566"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/331566\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/331815"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=331566"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=331566"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=331566"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}