{"id":330934,"date":"2025-04-23T16:53:11","date_gmt":"2025-04-23T09:53:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=330934"},"modified":"2025-04-23T16:53:11","modified_gmt":"2025-04-23T09:53:11","slug":"terminal-bungurasih-surabaya-labirin-calo-yang-menakutkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/terminal-bungurasih-surabaya-labirin-calo-yang-menakutkan\/","title":{"rendered":"Terminal Bungurasih Surabaya: Labirin Calo yang Menakutkan dan Membuat Saya Trauma"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menempuh pendidikan dari SD sampai SMA di pesantren. Setelah lulus dari SMA, orang tua meminta saya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/anggapan-sesat-seputar-kampung-inggris-pare-yang-beredar-di-masyarakat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">belajar di Pare<\/a>. Saya yang nggak pernah pergi jauh sejak kecil, memberanikan diri untuk pergi sendiri. Via Terminal Bungurasih Surabaya, saya berangkat ke Pare dan hanya trauma yang saya dapat.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, saya memang agak khawatir karena ini kali pertama saya naik bus dari terminal besar. Orang tua sudah berpesan, saya harus hati-hati ketika akan berangkat. Dan benar saja, kekhawatiran saya terbukti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu masuk Terminal Bungurasih Surabaya, beberapa orang langsung mengerumuni saya. Mereka berebut bertanya saya mau ke mana. Lantaran pengetahuan yang terbatas, dulu saya tidak tahu ada yang namanya calo dan bagaimana cara mengenali mereka.<\/span><\/p>\n<h2><b>Perempuan polos di Terminal Bungurasih Surabaya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantaran agak panik, saya menyebut \u201cPare\u201d begitu saja. Salah satu <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-pengetahuan-dasar-tentang-terminal-bungurasih-yang-wajib-diketahui\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">calo<\/a> mendekat lagi dan meminta saya mengikuti dia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesalahan saya adalah tidak bertanya dulu harga tiket ke Pare. Saya, dengan polosnya, mengikuti si calo dan tiba-tiba sudah duduk di dalam bus. Kernet datang dan meminta saya membayar tiket seharga Rp250 ribu. Sudah pasti, harga tiket ke Pare seharga Rp250 ribu bikin saya kaget.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, sebelum berangkat ke Terminal Bungurasih Surabaya, saya sempat cek harga tiket secara online. Dan jelas, tidak semahal itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kesadaran penuh, saya memilih langsung keluar bus karena budget saya pas-pasan. Melihat saya tiba-tiba \u201clari\u201d, si kernet meneriaki saya. Sontak, para penumpang yang sudah duduk langsung memandangi saya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa orang di Terminal Bungurasih Surabaya juga mengarahkan pandangan ke saya. Situasi itu membuat saya sangat tidak nyaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah situasi itu, ada seorang perempuan mendekati saya. Setelah menenangkan saya, dia bertanya saya hendak ke mana. Saya menjawab mau ke Pare.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata, pertolongan Tuhan itu ada. Kebetulan, perempuan itu juga akan menuju Pare. Dia meminta saya mengikutinya menuju sebuah bus yang memang menuju Pare. Dia sudah sering berangkat dari Terminal Bungurasih Surabaya naik bus itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Memanfaatkan gelagat bingung<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya rasa, setiap calo memang sudah hafal wajah-wajah orang yang kurang paham kondisi Terminal Bungurasih Surabaya. Orang-orang seperti ini yang menjadi sasaran empuk untuk aksi mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kejadian yang saya alami dialami juga oleh teman saya sepulang dari Pare. Dia turun di Terminal Bungurasih Surabaya dan akan melanjutkan perjalanan ke Situbondo. Ini juga menjadi pengalaman pertama turun di terminal tersebut. Biasanya, orang tua yang mengantar dan menjemput dia di Pare.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa calo mendekati Firda, teman saya, dan bertanya akan ke mana. Firda menjawab, \u201cMau pulang ke Situbondo, Pak.\u201d Firda akan kaget ketika salah satu dari calo menjawab kalau bus ke Situbondo sudah kosong. Dia menyuruh Firda untuk naik bus Surabaya-Bali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, karena Firda belum paham, dia ikut saja masuk ke bus jurusan Surabaya-Bali. Saat itu tahun 2019 dan Firda harus membayar Rp500 ribu dengan kondisi bus ekonomi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Firda sama seperti saya. Dia kaget dan cepat-cepat turun. Sambil turun, Firda bilang, \u201cBapak kalau mau cepat haji jangan cari uang dengan cara begini.\u201d Firda lalu pergi dan mencoba mencari bus lain yang ada di Terminal Bungurasih Surabaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, salah satu kondektur pernah memberi saya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-menghindari-calo-di-terminal-bungurasih-bagi-newbie\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tips<\/a>. Kalau di Terminal Bungurasih Surabaya, pasang wajah \u201csi paling tahu\u201d dan harus percaya diri. Kalau ada orang aneh mendekat dan tanya-tanya, bilang saja sedang menunggu teman orang Surabaya. Sampai saat ini, tips dari kondektur masih manjur.<\/span><\/p>\n<h2><b>Gerbang pintu keluar Terminal Bungurasih Surabaya yang jauh dari jalan raya<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai perantau, menurut saya, gerbang keluar Terminal Bungurasih Surabaya terlalu jauh dari jalan raya. Hal ini membuat banyak penumpang yang \u201cterpaksa\u201d memakai ojek terminal atau taksi. Dan sudah pasti, harganya mahal. Kalau mau naik ojek online, harus jalan agak jauh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sialnya, saya gampang gentar kalau melihat wajah tukang ojek terminal atau sopir taksi yang sangar. Ya maafkan saya kalau punya sifat begini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya ingat betul ketika keluar dari terminal, mereka mengikuti saya dari belakang. Mereka begitu sambil menawarkan jasanya dengan nada agak memaksa. Saya harus jalan kaki cukup jauh karena ojek online takut berhenti di pintu keluar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak saat itu, setiap turun di Terminal Bungurasih Surabaya, saya meminta teman asli Surabaya untuk menjemput. <a href=\"https:\/\/surabaya.kompas.com\/read\/2024\/12\/23\/160832878\/calo-masih-merajalela-di-terminal-purabaya-sidoarjo-meski-ada-e-ticket?page=all\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Demi menghindari trauma terjadi lagi<\/a>, saya memilih main aman saja. Sekian pengalaman saya menderita trauma karena ulah calo. Semoga segera diberantas, deh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Nurul Khofifatul Molika<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-saya-dipalak-dan-ditipu-calo-di-terminal-bungurasih-surabaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengalaman Saya Dipalak dan Ditipu Calo di Terminal Bungurasih Surabaya, Bikin Kapok untuk ke Sana Lagi<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya menempuh pendidikan dari SD sampai SMA di pesantren. Setelah lulus dari SMA, orang tua meminta saya belajar di Pare. Saya yang nggak pernah pergi jauh sejak kecil, memberanikan diri untuk pergi sendiri. Via Terminal Bungurasih Surabaya, saya berangkat ke Pare dan hanya trauma yang saya dapat.\u00a0\u00a0 Jujur saja, saya memang agak khawatir karena ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2895,"featured_media":331090,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[28247,28246,5790,944,10709,9077,23391,27260],"class_list":["post-330934","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-calo-terminal-bungurasih","tag-calo-terminal-bungurasih-surabaya","tag-pare","tag-sidoarjo","tag-situbondo","tag-terminal-bungurasih","tag-terminal-bungurasih-sidoarjo","tag-terminal-bungurasih-surabaya"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/330934","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2895"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=330934"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/330934\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/331090"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=330934"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=330934"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=330934"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}