{"id":330890,"date":"2025-04-22T15:23:10","date_gmt":"2025-04-22T08:23:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=330890"},"modified":"2025-04-23T14:49:08","modified_gmt":"2025-04-23T07:49:08","slug":"bali-zoo-bali-kebun-binatang-untuk-yang-mampu-mampu-aja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bali-zoo-bali-kebun-binatang-untuk-yang-mampu-mampu-aja\/","title":{"rendered":"Bali Zoo, Kebun Binatang untuk yang Mampu-mampu Aja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa yang tidak mengenal Bali, sebuah pulau yang terkenal hingga di kancah internasional? Namun, dari sekian banyak lokasi wisata pantai dan beragam pertunjukan budaya, ada satu destinasi wisata yang justru mengubah konsep kebun binatang menjadi ajang pamer status sosial. Salah satu yang pernah saya kunjungi adalah Bali Zoo yang berlokasi di Kabupaten Gianyar, Bali<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai seseorang yang terbiasa piknik di seputar Jawa Tengah dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-wisata-jogja-yang-nggak-semua-wisatawan-bakal-cocok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Yogyakarta<\/a>, harga dan fasilitas yang ditawarkan Bali Zoo tentu membuat saya tercengang. Jelas, Bali Zoo tak dapat dibandingkan dengan Gembira Loka. Sebab, besar kemungkinan target pasarnya pun berbeda. Lalu, apa sebenarnya yang membuat orang rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk berfoto bersama satwa?<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Harga tiket yang menyaring kelas sosial, lihat nominalnya saja bikin kena mental<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari harga tiket saja, orang bisa tahu kalau Bali Zoo menyasar kelas tertentu. Melansir dari situs resminya, bali-zoo.com, harga tiket satuan untuk orang dewasa adalah Rp355.500. Sementara, anak di bawah usia 12 tahun dikenakan harga tiket sebesar Rp252.000 per orang. Nominal yang cukup membuat sebagian keluarga berpikir dua kali sebelum berkunjung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu, saya sendiri justru tak terlalu memerhatikan detail harga tiket karena memilih paket menginap di Sanctoo Suite and Villas yang sudah termasuk akses ke kebun binatang. Memang tak bisa dipungkiri, Bali Zoo jelas bukan destinasi hemat. Namun, harga tersebut sepadan dengan pelayanan prima yang diberikan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang mengejutkan, stereotip perbedaan perlakuan antara turis lokal dan asing sama sekali tak saya temui di sini. Entah karena saya tipe pelancong cuek atau memang standar pelayanan destinasi wisata elit ini punya konsistensi dan komitmen tinggi terhadap para tamu. Jujur saja, status sebagai tamu penginapan Sanctoo Suite and Villas yang dikemas dengan harga bundle paket wisata Bali Zoo mungkin turut memengaruhi perhatian staf.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bali-zoo-bali-kebun-binatang-untuk-yang-mampu-mampu-aja\/2\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em><strong>Baca halaman selanjutnya: #2 Lokasi Bali Zoo &#8230;<\/strong><\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>#2 Lokasi Bali Zoo berada di kawasan wisata prestisius premium<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam ilmu bisnis, lokasi turut memengaruhi citra suatu merek, termasuk tempat rekreasi. Bali Zoo yang berada di <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kabupaten_Gianyar\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gianyar<\/a> jelas bukan kebetulan atau pemikiran sembarangan. Berdiri di tengah pusat pariwisata kelas atas Bali, kebun binatang ini secara otomatis mengadopsi aura eksklusivitas lingkungan sekitarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asal tahu saja, Gianyar diketahui sebagai wilayah dengan deretan resort mewah, vila eksklusif, serta berbagai akomodasi high-end lainnya. Oleh karenanya, Bali Zoo seolah menjadi bagian dari ekosistem wisata yang memang dirancang untuk kalangan berduit. Strategi penentuan lokasi semacam ini menciptakan semacam filter sosial alami.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Bukan sekadar kebun binatang, Bali Zoo mengedepankan pengalaman tak terlupakan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu dari sekian banyak faktor yang membuat Bali Zoo menjadi wisata mahal adalah konsep yang berbeda dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/kebun-binatang-surabaya-tempat-liburan-orang-pinggiran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kebun binatang<\/a> konvensional. Di sini, interaksi dengan satwa bukan sekadar melihat mereka dari balik pagar. Sebaliknya, Bali Zoo menyodorkan pengalaman unik yang dirancang untuk meninggalkan kesan mendalam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari gerbang masuk saja, pengunjung sudah disambut dengan gerombolan menjangan yang dilepas tanpa pembatas. Para pelancong dibebaskan memberi makanan sayuran yang dijual oleh petugas di sekitar titik tersebut. Sepaket pangan hewan dalam keranjang dijual seharga Rp50.000.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya itu, pengunjung Bali Zoo juga diperbolehkan merasakan fasilitas Elephant Mud Fun dan Breakfast with Orangutan yang harganya mencapai Rp1,64 juta rupiah per orang. Namun, karena saya merasa harganya tidak sesuai dengan kantong maka paket tersebut sudah tentu tidak diambil. Sebagai gantinya, ada paket hiburan lain yang lebih ramah di kantong seperti memberi makan gajah atau menyusuri sungai dengan menaiki gajah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Harga mengendarai gajah bagi turis lokal saat itu adalah Rp750.000 untuk satu anak dengan satu pendamping dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/rame\/nafkah\/menghitung-penghasilan-pawang-hujan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">seorang pawang<\/a>. Sementara, harga bagi wisatawan mancanegara mencapai dua kali lipatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bali Zoo memang telah berhasil menciptakan paradigma baru dalam konsep rekreasi di kebun binatang. Bukan sekadar tempat konservasi satwa, Bali Zoo menjelma menjadi arena eksklusif yang menawarkan pengalaman premium. Di balik glamor dan fasilitas mewahnya, tempat ini merupakan refleksi menarik tentang bagaimana pariwisata Indonesia mulai terstratifikasi berdasarkan daya beli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Paula Gianita Primasari<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/daftar-mall-di-jakarta-yang-bikin-pengunjungnya-bingung\/\"><b>Daftar Mall di Jakarta yang Bikin Pengunjungnya Bingung, Nggak Hilang Aja Udah Syukur<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bali Zoo kebun binatang di Gianyar Bali yang lumayan menguras kantong karena pasarnya memang untuk kelas menengah ke atas.<\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":330892,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9507,28229,494,28230,13098],"class_list":["post-330890","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bali","tag-bali-zoo","tag-kebun-binatang","tag-kebun-binatang-bali","tag-pilihan-redaksi"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/330890","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=330890"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/330890\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/330892"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=330890"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=330890"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=330890"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}