{"id":3302,"date":"2019-06-09T10:00:03","date_gmt":"2019-06-09T03:00:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=3302"},"modified":"2022-01-17T14:50:57","modified_gmt":"2022-01-17T07:50:57","slug":"kebersamaan-keluarga-pak-sby-dan-ibu-mega-dan-pentingnya-perdamaian-dalam-politik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kebersamaan-keluarga-pak-sby-dan-ibu-mega-dan-pentingnya-perdamaian-dalam-politik\/","title":{"rendered":"Kebersamaan Keluarga Pak SBY dan Ibu Mega dan Pentingnya Perdamaian Dalam Politik"},"content":{"rendered":"<p>Salah satu cita-cita UUD 1945 adalah menciptakan perdamaian abadi. Jadi, apa ada yang salah dengan perdamaian lawan politik?<\/p>\n<p>Seperti yang kita ketahui bahwa sejak berdirinya Partai Demokrat\u2014dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden\u2014tidak pernah sekalipun berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia. Tapi, bukan berarti mereka mesti Pemimpin mereka berseteru secara pribadi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Ragam Tanggapan Netizen<\/strong><\/p>\n<p>Pada tanggal 5 Juni kemarin, beredar foto yang menunjukkan hangatnya kebersamaan anak-anak dan mantu Bapak SBY dengan Ibu Mega, Mbak Puan dan beberapa keluarga Ibu Mega\u2014yang entah siapa. Dari sumber aslinya, akun Instagram Mbak Puan Maharani, saya melihat peristiwa yang diabadikan ini sontak mendapatkan pujian dari netizen.<\/p>\n<p>@citraasetiawan : \u201cAlhamdulillah ya Allah adem banget lihatnya\u201d<\/p>\n<p>@novanitalim : \u201cAdem teduh aku lihatnya, bener aku sampai terharu. Damailah Indonesia ku.\u201d<\/p>\n<p>@rinasaribas : \u201cAlhamdulillah, turut berbahagia melihat pemimpin negara ini rukun, karena pemimpin adalah panutan rakyatnya\u201d<\/p>\n<p>Apakah semua masyarakat menanggapi baik peristiwa ini? Ya namanya juga negara yang dengan penduduk yang banyak, perbedaan pandangan itu hal yang biasa. Dari seberang, kubu kampret justru sementara berseteru dengan kubu Demokrat.<\/p>\n<p>Perseteruan termanis bisa dicek di akun Twitter Andi Arief yang kaitannya dengan foto kebersamaan keluarga Bapak SBY dan keluarga Ibu Mega. Hal ini jelas terlihat di dalamnya karena ada yang meng-copas dan mempermasalahkan di Twitter.<\/p>\n<p>\u201cBuzzer 02 dan Buzzer Sukamiskin mohon pengertiannya, ini bulan dan hari baik, lakukan yg baik-baik apalagi ada yang sedang berduka. Hanya itu alasannya, bukan berarti kami takut meladeni perang ini. Meminjam bahasa GN, tidak terlalu sulit membalas sampai sakit dan merintih,\u201d ucapan Andi Arief di Twitter.<\/p>\n<p>Yang kemudian mendapatkan tanggapan dari netizen pendukung 02.<\/p>\n<p>@yosrizal8486 yang menuduh keluarga SBY dengan mengatakan \u201cBuzzer <a href=\"https:\/\/tirto.id\/prabowo-melayat-ke-rumah-sby-di-cikeas-pada-senin-sore-d9sZ\">dinasti cikeas<\/a> sibuk jilat dan nyari jabatan buat pangerannya&#8230;\u201d<\/p>\n<p>@RantingDesa yang mempertanyakan photo AHY, Puan, dan Mega yang terlihat bahagia dengan mengatakan : \u201cTapi @AgusYudhoyono, puan &amp; Mega gada nampak raut sedih.. ? Itu acting atau beberapa..!?\u201d<\/p>\n<p>Sudahlah. Rasanya tanggapan ini hanyalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/wra\/esai\/skincare-bagi-laki-laki-gengsi-menyelimuti\/\">respon dari orang gengsi<\/a> yang kalah dalam kompetisi politik.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Pentingnya Perdamaian Dalam Politik<\/strong><\/p>\n<p>Menurut Aristoteles politik merupakan sebuah alat untuk mencapai tujuan yang mulia, yaitu untuk kebaikan bersama. Kata kuncinya adalah kebaikan bersama. Kebaikan TKN, BPN, dan terkhusus seluruh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu pentingnya perdamaian setelah adanya perseteruan dalam politik.<\/p>\n<p>Kalau kita lihat hari ini di kubu TKN dan BPN, begitu banyak orang yang dahulunya berseteru saat Reformasi 1998\u2014baik dari kalangan militer dan kalangan aktivis\u2014yang pada akhirnya bersatu dalam koalisi.<\/p>\n<p>Secara objektif, saya memandang perdamaian ini terjadi karena baik yang di kubuh TKN dan BPN memiliki kepentingan bersama atau tujuan bersama. Kalau ditanya\u2014apa tujuannya? Entahlah, tapi yang pasti hanya ada dua kemungkinan\u2014untuk oligarki politik atau murni untuk kebaikan rakyat\u2014atau bisa saja untuk kedua-duanya.<\/p>\n<p>Sedikit bergeser ke kiri\u2014kita pernah mendengar istilah politik yang mengatakan <em>dalam politik tidak ada teman abadi dan tidak ada musuh yang abadi<\/em>\u2014begitulah dinamika politik. Sekarang kita lihat bagaimana perjalanan politik Ibu Mega, Pak SBY, Pak Amien dan Pak Prabowo\u2014mereka pernah berteman secara politik, namun mereka juga pernah berseteru secara politik. Tidak jarang juga kita melihat seorang politisi yang pindah-pindah partai. Bahkan perseteruan dalam satu partaipun ada\u2014iya, ada.<\/p>\n<p>Sebagai masyarakat harusnya kita berharap perseteruan politik ini tidak berlarut-larut. Setelah Pemilu selesai, semua politisi kiranya bisa bersikap altruis\u2014mengutamakan pengabdian dan mempedulikan sesama manusia\u2014agar cita \u2013 cita bangsa Indonesia yang tertera di Undang-Undang Dasar q945 dapat diwujudkan.<\/p>\n<p>Sangatlah tidak elok rasanya, jika kita sebagai rakyat yang budiman kemudian kita masuk terlalu dalam di sebuah perseteruan politik, dan menolak citra perdamaian yang di bentuk elite politik. Demi kesejahteraan rakyat, demi kedamaian bangsa Indonesia ini sudah seharusnya kita mendukung hal-hal positif yang dilakukan oleh elite politik.<\/p>\n<p>Akhirnya hanyalah sebuah doa yang senantiasa terpanjat bahwasannya semoga bangsa Indonesia diberkahi dengan berkah perdamaian dan kesejahteraan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Amiin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu cita-cita UUD 1945 adalah menciptakan perdamaian abadi. Jadi, apa ada yang salah dengan perdamaian lawan politik?<\/p>\n","protected":false},"author":121,"featured_media":3333,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12905],"tags":[852,44,18,561,755],"class_list":["post-3302","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik","tag-megawati","tag-perdamaian","tag-pilpres-2019","tag-politik-indonesia","tag-sby"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3302","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/121"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3302"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3302\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3333"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3302"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3302"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3302"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}