{"id":32977,"date":"2020-04-01T10:08:59","date_gmt":"2020-04-01T03:08:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=32977"},"modified":"2020-04-01T10:10:27","modified_gmt":"2020-04-01T03:10:27","slug":"pengalaman-tidak-menyenangkan-selama-lockdown-di-wall-maria","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-tidak-menyenangkan-selama-lockdown-di-wall-maria\/","title":{"rendered":"Pengalaman Tidak Menyenangkan Selama \u2018Lockdown\u2019 di Wall Maria"},"content":{"rendered":"<p>Saya begitu getir ketika membaca tulisan salah satu siswa akademi ninja yang berjudul \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-menyenangkan-selama-lockdown-di-desa-konoha\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pengalaman Menyenangkan Selama Lockdown di Desa Konoha<\/a>\u201d di Terminal Mojok. Sekaligus, saya <em>ngampet<\/em> <em>ngguyu<\/em>. Heh kembang tebu yang terbang kanginan, Anda itu baru <em>lockdown<\/em> selama beberapa hari saja, belum merasakan banyak dampak perubahan sosial yang akan dirasa. Malah <em>ndakik<\/em>&#8211;<em>ndakik<\/em> bilang bahwa <em>lockdown<\/em> itu menyenangkan.<\/p>\n<p>Saya nggak memprotes kebijakan Pakdhe Naruto. Apa lagi <em>ngece<\/em> bahwa Konoha melakukan <em>lockdown<\/em> dalam menghadapi pandemi corona, nggak sama sekali. Saya justru turut berbela sungkawa dengan apa yang terjadi kepada Bumi kita belakangan ini. Tapi, posisi saya di sini, adalah mengungkapkan protes terhadap pola pemikiran yang melompat dari sang penulis tentang dampak-dampak dari <em>lockdown<\/em> padahal baru dialami selama beberapa hari. Dan dalam tulisan saya yang sederhana ini, saya hendak memberikan antitesis bahwa <em>lockdown<\/em> itu nggak menyenangkan, sungguh!<\/p>\n<p>Saya adalah warga sipil Dinding Maria, atau nama resminya adalah Wall Maria. Jika Anda belum mengetahui kondisi saya dan warga desa di dalam Dinding Maria, saya akan menjelaskannya secara cepat. Begini;<\/p>\n<p>Saya dan seluruh warga desa, yang membentuk sebuah koloni berupa lingkaran raksasa dengan tembok yang tinggi menjulang. Dalam lingkaran tersebut, terdapat beberapa lapisan dinding lagi. Ada 3 lapisan, dan Dinding Maria adalah lapisan paling luar. Dinding ini adalah tameng. Tameng untuk apa? Untuk me-<em>lockdown<\/em> seluruh warga desa.<\/p>\n<p>Jika Konoha dan Bumi sedang melawan pandemi corona, kami sedang melawan Titan yang hendak masuk ke dalam dinding kami. Apa itu Titan? Titan adalah makluk besar hasil rekayasa genetika manusia. Masih diteliti oleh para ahli kenapa orang-orang ini bisa menjadi raksasa dan terus-terusan menyerang dinding kami sebagai <em>lockdown<\/em> aktivitas kami dengan dunia luar (anime belum sampai, manganya sudah <em>jaooh<\/em>, jangan <em>spoiler<\/em> plis!).<\/p>\n<p>Sekali lagi, konteks di sini bukan mengenai <em>vis a vis<\/em> antara pandemi corona dan Titan. Tapi efek yang ditimbulkan dari pembangunan dinding ini sebagai sarana <em>lockdown<\/em> sangat berpengaruh terhadap kelanjutan hidup kami.<\/p>\n<h4><strong>Satu: Terciptanya Kelas-Kelas Sosial<\/strong><\/h4>\n<p>Sebagaimana prinsip dari <em>lockdown<\/em> itu sendiri, kami menggunakan satu jalan utama untuk akses keluar masuk tiap dinding. Semua alur keluar-masuk, tiap dinding diawasi dengan ketat. Penjaga dinding adalah <em>Stationaris<\/em> yang memiliki logo bunga mawar\u2014jika di tempat kalian, namanya adalah polisi\u2014hanya satu alur pintu masuk maupun keluar, dan itu pun dilakukan dengan penjagaan yang ketat.<\/p>\n<p>Terdapat 3 dinding utama; Maria, Rose dan Sina. <strong><em>Pertama<\/em><\/strong>, Dinding Maria adalah dinding yang memiliki diameter paling luas. Terdapat berbagai distrik dan kebetulan saya tinggal di dalam distrik Shiganshina. Saking luasnya, saya sampai nggak hapal distrik yang lain. Tapi, bukankah Dinding Maria ini adalah ujung dunia, ya? entahlah, kami tidak pernah keluar dari dinding besar ini. Entah ada apa di luar sana, yang jelas para titan siap memangsa kami ketika teledor bepergian ke luar dinding paling luar ini.<\/p>\n<p>Di sini diisikan oleh rakyat-rakyat biasa. Dalam arti lain, saya dan penduduk yang lain adalah warga sipil yang bekerja sebagai pekerja biasa, petani dan peternak. Atau bahasa umumnya, daerah yang meliputi Dinding Maria ini adalah pedesaan. Pengelolaan sumber daya, di sinilah pusatnya.<\/p>\n<p><strong><em>Kedua<\/em><\/strong>, Dinding Rose, lapis kedua atau yang biasa disebut perkotaan. Di sini tempat industri dan yang paling santer bekerja adalah inovasi senjata pembunuh titan. Mereka yang tinggal di sini adalah kelas pekerja. <strong><em>Ketiga<\/em><\/strong>, Dinding Sina, yang terdalam dan merupakan tempat tinggal raja. Bayangkan saja jika titan berhasil menembus dinding. Maka yang menjadi santapan utama adalah saya yang berada di dinding terluar, dan terakhir adalah raja yang terdapat di bagian paling dalam.<\/p>\n<h4><strong>Dua: Ketahanan Pangan<\/strong><\/h4>\n<p>Tujuan <em>lockdown<\/em> jelas, menangkal semua titan-titan yang hendak masuk dan memangsa kami. Selain <em>lockdown<\/em>, nggak ada konsep strategi lain yang bisa dicanangkan raja kami. Ia beranggapan bahwa strategi dinding ini adalah jalan terbaik guna menyelamatkan kami dan seisi negeri. Eh, <em>ndilalah<\/em>, tanpa dinyana sama sekali, beberapa tahun silam muncul titan yang berukuran sangat besar, ia berjuluk Colosal Titan. Tingginya\u2026<em>Masyaallah<\/em>, melebihi Dinding Maria yang tingginya saja menyentuh 50 meter.<\/p>\n<p>Colosal Titan ini menendang Dinding Maria, menyebabkan celah yang menganga. Dan sesuai konsep dari raja, maka warga yang tinggal di Distrik Shiganshina, Wall Maria, berbondong-bondong masuk ke dalam dinding yang lebih dalam lagi, yakni Wall Rose. Populasi dalam dinding harus diatur, sedangkan ledakan pengungsi dari Distrik Shiganshina mengakibatkan pertahanan mereka goyah. Salah satunya adalah pertahanan pangan yang selama ini bergantung dari Dinding Maria yang notabene adalah pemasok pangan dari kelas petani dan peternak.<\/p>\n<p>Skopnya pertanian menjadi kecil, ladang banyak yang hilang selama lubang akibat Colosal Titan belum ditambal. Wilayah <em>lockdown<\/em> dipersempit. Dan ledakan populasi di dalam Dinding Rose merupakan mimpi buruk kami.<\/p>\n<h4><strong>Tiga: Cita-Cita Jadi PNS? HAHAHA! <\/strong><\/h4>\n<p>PNS alias <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-anak-desa-konoha-dan-beginilah-enaknya-masuk-sekolah-ninja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pegawai Ninja Sipil?<\/a> HAHAHA! Saya yang datang dari kelas proletar bisa apa ketika mengungsi di kelas borjuis? Bisa makan aja sudah syukur. Tidak ditinggal di dalam dinding juga sudah bersyukur. Status saya setelah migrasi secara paksa dari Dinding Maria adalah <em>pengungsi<\/em>. Berusaha menjadi tenaga negara yang mengurusi tata kelola sipil? Mimpi bagi kami.<\/p>\n<p><em>Lockdown<\/em> di Konoha enak, pemerintah kasih tontonan, sembako dibagikan, internet digratiskan, lha di negara saya, haduh. Tinggal di dalam Dinding Rose tidaklah gratis. Kami diperbolehkan memilih pekerjaan. Lha mau jadi apa lagi? Buruh pabrik senjata? Ah, emoh. Kita cuma jadi sapi peras si pemilik alat. Dalam artian jika menjadi tenaga pabrik, saya seakan berperan menjadi sebuah alat yang tidak ada nilainya lagi. Karena di sini, kaum tingkat kedua, melihat kami kaum tingkat ketiga bak sebuah sampah. Dan menjadi anggota militer adalah pilihan yang setidaknya rasional bagi kaum buangan.<\/p>\n<p>Kebanyakan akan memilih menjadi penjaga dinding. Ya, <em>Stationaris. <\/em>Tugasnya dianggap mudah; buka-tutup dinding, memeriksa siapapun yang memasuki wilayan dinding. Pilihan berikutnya adalah Military Police yang punya logo kuda. Tugasnya adalah mengatur warga, ya jika di tempatmu itu namanya Polisi dan di Konoha itu setara Anbu, lah (kalau ndak salah).<\/p>\n<p>Pilihan saya adalah yang terakhir, yakni <em>Legiun<\/em>. Tugasnya maha berat, mengorbankan diri untuk pergi ke luar dinding dan memecahkan misteri sebenarnya datang dari mana titan-titan ini. Kami seperti tenaga medis yang berada di garda terdepan. <em>Lockdown<\/em> di tempatmu enak, keluar dikasih genjutsu digigit anjingnya Kakashi. <em>Lha<\/em> ditempatku, <em>ngeyel<\/em> <em>sitik<\/em> <em>dicokot<\/em> titan <em>ndasmu tugel<\/em>, Mas!<\/p>\n<h4><strong>Empat: Melihat Pantai<\/strong><\/h4>\n<p>Pantai itu seperti apa, sih? Apakah airnya sama seperti danau? Alirannya sama seperti sungai? Atau bagaimana? Selama ini\u2014seumur hidup\u2014berangkat dari bekal <em>lockdown<\/em> ini, kepala saya rasanya kelu memikirkan pantai. Mungkin anda anggap saya ini lebay, tapi jujur saja saya ini penasaran ombak itu bentuknya bagaimana. Kebanyakan lockdown menjadikan saya begitu rasional. Langit adalah dinding, bintang adalah dinding dan malam adalah dinding. Tapi, masalah pantai, apakah dinding bisa berdebur dan menggulung seperti apa yang buku ceritakan tentang ombak?<\/p>\n<p>Dan untuk Mas Calon Ninja yang sekarang bersekolah di Akademi Ninja Konoha, atas dasar dari kata-katanya yang bilang begini, <em>lockdown itu enak jika yang \u201cnggak enaknya\u201d itu nggak dipikirkan<\/em>. Dan saya ingin bertanya satu hal. Lantas, bagaimana jika hal tersebut tidak lagi melibatkan pikiran, namun sudah masuk dalam teritori perasaan?<\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<\/b><strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-anak-desa-konoha-dan-beginilah-enaknya-masuk-sekolah-ninja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Saya Anak Desa Konoha dan Beginilah Enaknya Masuk Sekolah Ninja<\/a><\/strong>\u00a0<b><\/b><strong>atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau pengalaman lockdown di desa Konoha katanya menyenangkan, kami yang seumur hidup lockdown di Wall Maria merasakan kesengsaraan. Lockdown itu nggak enak!<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":33184,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[5917,5819,5820],"class_list":["post-32977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-attack-on-titan","tag-lockdown","tag-pengalaman-lockdown"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32977"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32977\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33184"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}