{"id":32924,"date":"2020-03-31T12:40:49","date_gmt":"2020-03-31T05:40:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=32924"},"modified":"2021-11-13T23:41:11","modified_gmt":"2021-11-13T16:41:11","slug":"selain-nggak-punya-warna-hijau-orang-madura-juga-nggak-kenal-huruf-w-dan-y","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/selain-nggak-punya-warna-hijau-orang-madura-juga-nggak-kenal-huruf-w-dan-y\/","title":{"rendered":"Kamus Bahasa Madura: Orang Madura Nggak Kenal Huruf &#8220;W\u201d dan \u201cY\u201d"},"content":{"rendered":"<p>Rasanya, sudah mejadi rahasia umum bahwa orang Madura itu nggak pernah kenal dengan yang namanya warna hijau. Di Madura, warna hijau diasosiasikan dengan warna biru. Kami menyebut biru untuk warna hijau, terkadang juga biru daun. Sedangkan untuk penyebutan warna biru itu sendiri, biasanya digunakan frasa biru langit atau biru laut, terkadang juga ungu (bunguh). Sungguh, kalau dipikir-pikir ulang, saya rasanya mau tertawa saja.<\/p>\n<p>Selain nggak kenal dengan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/mengenal-arti-dan-sifat-psikologi-dari-warna-primer-ernB\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">warna hijau,<\/a> saya berasumsi bahwa orang Madura sebenarnya juga nggak kenal dengan yang namanya huruf\u00a0<em>w<\/em> dan <em>y<\/em>. Sekali lagi, ini cuma asumsi dan hasil pengamatan saya saja, yha.<\/p>\n<p>Ketika orang Madura menyebut kota Surabaya, biasanya pengucapannya berubah menjadi<em> Sorbhajah. <\/em>Huruf <em>y<\/em> dalam kata tersebut diganti menjadi huruf <em>j<\/em>. Selain kata Surabaya, nama kota Arosbaya juga berubah dalam pengucapannya menjadi <em>Rosbhajah. <\/em>Padahal, itu nama kota lho, ya.<\/p>\n<p>Kata lain dengan penggunaan huruf\u00a0<em>y<\/em> yang diganti dengan\u00a0<em>j<\/em> adalah <em>layar<\/em> menjadi <em>lajar<\/em>, <em>bayar<\/em> menjadi <em>bhajar<\/em>, <em>sembahyang<\/em> menjadi <em>bhajang<\/em>, <em>payu<\/em> menjadi <em>paju<\/em>, <em>kayu<\/em> menjadi <em>kajuh<\/em>, dan seterusnya. Makanya, jangan heran kalau kamu pernah mendengar orang Madura agak kesusahan dalam menggunakan huruf <em>y<\/em>, ya. Pasalnya sedari kecil, huruf tersebut memang hampir nggak dikenalkan sama sekali.<\/p>\n<p>Selain nggak kenal huruf <em>y<\/em>, orang Madura kayaknya juga punya masalah dengan penggunaan huruf <em>w<\/em>. Huruf\u00a0<em>w<\/em> di Madura bernasib sama dengan huruf\u00a0<em>y<\/em> yang penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari diganti dengan huruf lain. Jika huruf <em>y<\/em> diganti dengan huruf <em>j<\/em>, maka pengucapan huruf\u00a0<em>w<\/em> diganti dengan huruf <em>b<\/em>.<\/p>\n<p>Sebut saja pengucapan kata <em>bawang<\/em> yang diganti menjadi <em>bhabang<\/em>, <em>kawin<\/em> menjadi <em>kabin<\/em>, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/orang-paling-kaya-di-desa-saya-adalah-yang-paling-tidak-banyak-gaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><em>sawah<\/em><\/a> menjadi <em>sabha<\/em>, <em>bawah<\/em> menjadi <em>baba<\/em>, <em>waktu<\/em> menjadi <em>bakto<\/em>, <em>wakil<\/em> menjadi <em>bekkel<\/em>, dan lain sebagainya.<\/p>\n<p>Bahkan, meskipun nama kota atau desa sekalipun, selama masih ada huruf <em>w<\/em>-nya, maka orang Madura juga tetap akan mengubah pengucapannya sesuai dengan lidah dan logat asli Madura. Seperti nama Pulau Jawa yang berubah menjadi <em>jhabah<\/em>, <em>Bawean <\/em>menjadi <em>babhian,<\/em> dan <em>Kwanyar<\/em> menjadi <em>kbenyar<\/em>.<\/p>\n<p>Perkara orang Madura yang sepertinya bermusuhan dengan huruf\u00a0<em>w<\/em> dan\u00a0<em>y<\/em> ini sedikit banyak berimbas dalam hidup saya. Bagaimana tidak, ketika orang-orang Madura nggak suka dengan huruf <em>w<\/em>, orang tua saya justru dengan pedenya menamai saya <em>Halwah<\/em>. Nama yang memiliki unsur\u00a0<em>w<\/em> di tengahnya. Sekali lagi, H-A-L-W-A-H.<\/p>\n<p>Karena nama inilah, sejak kecil saya selalu merasa was-was setiap kali guru di kelas akan melakukan absensi. Pasalnya, sejak SD hingga SMP, hampir nggak pernah ada guru-guru yang dapat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nama-nama-yang-punah-karena-zaman\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">menyebutkan nama saya<\/a> dengan baik dan benar. Semuanya salah dan lidahnya sering kali kepleset. Alhasil, saya cuma jadi bahan guyonan teman-teman sekelas.<\/p>\n<p>Ketika SD, guru agama saya keliru menyebutkan nama saya menjadi <em>Haluah<\/em>. Huruf <em>w<\/em>-nya dengan sangat tega diganti huruf <em>u<\/em>, terkadang malah diganti dengan huruf\u00a0<em>v<\/em> sehingga menjadi <em>Holvah<\/em>. Hiks, <em>sedih banget akutu.<\/em><\/p>\n<p>Tapi, yang lebih ngeselin dan bikin <em>gondok <\/em>adalah teman-teman sepermainan saya yang dengan seenaknya saja mengubah pengucapan nama saya dari <em>Halwah<\/em> menjadi <em>Halbeg<\/em>, sesuai dengan maklumat mahzab kaidah logat bahasa Madura yang mengubah huruf\u00a0<em>w<\/em> menjadi <em>b<\/em>. Ketika saya protes, mereka dengan entengnya mengatakan bahwa nama saya terlalu sulit untuk diucapkan. Sungguh, menangis hati saya mendengarnya.<\/p>\n<p>Di masa SMP, saya pikir penderitaan saya perkara penyebutan nama saat absen akan berakhir. Namun, justru semakin parah. Guru-guru SMP saya yang sudah sarjana, khatam bangku kuliah dan pastinya sudah membaca banyak buku teori dengan huruf <em>w<\/em>-nya yang bertebaran, ternyata juga masih sering kepleset. Memang ya, lidah nggak akan pernah bisa bohong. Sekali orang Madura, maka sampai kapan pun pengucapannya tetaplah pake logat bahasa Madura!<\/p>\n<p>Sebagian besar <em>blio-blio<\/em> ini keliru menyebut nama saya menjadi <em>Halimah<\/em>\u2014ya ampun, jauh banget dari nama asli saya. Lebih seringnya lagi, <em>blio-blio <\/em>ini keliru dengan menyebutkan nama <em>Hawa<\/em>\u2014meniadakan huruf\u00a0<em>l<\/em> dan <em>h<\/em>, tapi nggak apa-apa. Saya masih baik-baik saja kok, meskipun hati saya menjerit kesakitan.<\/p>\n<p>Saya pernah melayangkan gugatan protes kepada bapak yang memberikan nama ini pada saya. Kenapa sih, harus Halwah? Kenapa nggak Halimah aja yang nggak perlu ada huruf W-nya. Atau sekalian saja pake nama Hawa yang terdengar cukup familiar karena berasal dari nama istri Nabi Adam, Siti Hawa. Kenapa harus Halwah? <em>Why oh why?<\/em><\/p>\n<p>Jawaban bapak sungguh membuat saya <em>speechless. <\/em>Menurut beliau, nggak ada yang punya nama <em>Halwah<\/em> di desa tempat saya tinggal. Hiks, kasihan sekali diri ini. Tapi, sekarang saya sudah berusaha menerima keadaan ini dan ikhlas menjalani hari-hari saya di masa depan.<\/p>\n<p>Dan untuk alasan mengapa sampai sekarang orang-orang Madura masih bermusuhan dengan huruf\u00a0<em>y<\/em> dan <em>w<\/em>, saya juga nggak tahu. Menurut saya, hanya Tuhan dan para leluhur orang Madura saja yang tahu.<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bagi-orang-madura-bahasa-madura-tak-kalah-njelimet-nya-dengan-bahasa-inggris\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bagi Orang Madura, Bahasa Madura Tak Kalah Njelimet-nya dengan Bahasa Inggris<\/a><\/strong> <strong>atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/siti-halwah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Siti Halwah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika orang Madura menyebut kota Surabaya, biasanya pengucapannya berubah menjadi Sorbhajah. Huruf y dalam kata tersebut diganti menjadi huruf j.<\/p>\n","protected":false},"author":200,"featured_media":33002,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[761,1976],"class_list":["post-32924","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa","tag-orang-madura"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32924","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/200"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32924"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32924\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33002"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32924"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32924"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32924"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}