{"id":329073,"date":"2025-04-20T12:23:30","date_gmt":"2025-04-20T05:23:30","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=329073"},"modified":"2025-04-20T12:23:49","modified_gmt":"2025-04-20T05:23:49","slug":"pengepungan-di-bukit-duri-melawan-trauma-menyembuhkan-luka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengepungan-di-bukit-duri-melawan-trauma-menyembuhkan-luka\/","title":{"rendered":"Pengepungan di Bukit Duri: Distopia Diskriminasi Rasial terhadap Etnis Tionghoa"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d menunjukkan bahwa untuk belajar dari sejarah dan untuk menyembuhkan luka, kita perlu menghadapinya terlebih dahulu.<\/span><\/em><\/p>\n<p>Spoiler Alert!<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Kerusuhan_Mei_1998\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kerusuhan Mei 1998<\/a> adalah salah satu bab tergelap dalam sejarah Indonesia. Tragedi itu tidak hanya merenggut ribuan nyawa dan merusak tatanan sosial, tetapi juga meninggalkan trauma kolektif yang hingga kini tak benar-benar pulih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu kelompok yang paling terdampak adalah etnis Tionghoa. Mereka menjadi sasaran kekerasan sistemik maupun kultural selama puluhan tahun. Kekerasan tersebut adalah simbol dari kebencian sistemik, yang telah lama dibangun melalui narasi yang menyudutkan, pengucilan ekonomi dan budaya, serta representasi negatif dalam ruang-ruang sosial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film \u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d berhasil menggambarkan tragedi tersebut. Film garapan Joko Anwar sebagai sutradara ini merupakan kolaborasi antara rumah produksi lokal Come and See Pictures dengan studio besar Hollywood, Amazon MGM Studios.<\/span><\/p>\n<h2><b>\u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d adalah distopia yang terlalu dekat dengan masa kini<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d bukan hanya sebuah karya fiksi spekulatif, tetapi juga sebuah pengingat yang kuat. Terutama bagaimana luka lama dapat terbuka kembali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini menggambarkan dengan tajam jika sejarah kelam yang seharusnya dilupakan justru kembali menghantui kenyataan. Ini adalah refleksi tentang potensi kengerian yang bisa muncul jika sejarah yang tak tertangani itu terus dilupakan dan tidak dipelajari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini berlatar tahun 2027, masa depan fiktif namun sangat mungkin menjadi kenyataan. Di dunia ini, kekerasan rasial kembali merebak, dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-suku-tionghoa-terbesar-di-indonesia-sekilas-sejarah-dan-budaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">etnis Tionghoa<\/a> sekali lagi menjadi sasaran.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita film \u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d mengikuti Edwin (Morgan Oey), seorang guru pengganti keturunan Tionghoa yang datang ke SMA Duri untuk mencari keponakannya. Namun, diaia terperangkap dalam pengepungan brutal dari geng murid-murid nakal yang dipimpin oleh Jefri (Omara Esteghlal). Dengan bantuan seorang guru bernama Diana (Hana Pitrashata Malasan), Edwin berusaha bertahan hidup di tengah kekacauan yang melanda sekolah dan kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menarik, meskipun \u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d ini mengambil referensi kuat dari tragedi 1998, ia menyusun kronologi fiksionalnya sendiri. Kerusuhan dalam dunia film dimulai 2009, sebuah peristiwa baru yang melahirkan generasi baru dengan luka yang diwariskan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun 2027 dipilih sebagai latar untuk menunjukkan bahwa trauma sejarah yang tidak ditangani dengan baik dapat melahirkan dunia baru yang rusak. Indonesia di masa depan dalam film ini telah berubah menjadi distopia yang penuh pengucilan, kebencian, dan kekerasan sistemik terhadap kelompok tertentu. Ini adalah masa depan yang sangat mungkin terjadi, jika bangsa ini terus mengabaikan luka-luka masa lalunya.<\/span><\/p>\n<h2><b>Kekerasan sosial yang melekat pada generasi muda<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekolah, dalam \u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d ini, bukan lagi ruang yang aman untuk belajar atau berkembang. SMA Duri justru menjadi mikrokosmos dari kekerasan sosial yang lebih luas. Di sekolah ini, para siswa adalah anak-anak bermasalah atau yang biasa disebut sebagai \u201canak buangan,\u201d dan ketegangan yang ada segera berubah menjadi kekerasan yang eksplosif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Edwin, yang datang dengan harapan mulia menjadi seorang guru, justru terperangkap dalam prasangka yang melekat pada dirinya karena asal-usul etnis Tionghoa. Kekerasan dalam film ini tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam cara siswa menatap Edwin, dalam ketidaksopanan seperti\u00a0 penggunaan kata-kata kesar, gurauan beraroma rasis, dan komentar-komentar yang terus mengingatkan bahwa dia berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu hal yang menonjol dari \u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d adalah bagaimana ia menunjukkan bahwa trauma sejarah tidak berakhir begitu saja dengan berjalannya waktu. Trauma ini hidup dan bergerak, bahkan berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, terpendam dalam narasi keluarga, budaya populer, dan bahkan dalam candaan sehari-hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah yang dikenal sebagai transgenerational trauma atau trauma yang diwariskan tanpa disadari dari satu generasi ke generasi lainnya. Para siswa SMA Duri, meski tidak mengalami langsung kerusuhan 2009, tetap menjadi pewaris kebencian yang sama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siswa-siswa di SMA Duri membenci etnis Tionghoa bukan karena pengalaman pribadi, melainkan karena narasi kebencian yang mereka warisi tanpa pertanyaan. Rasisme tidak selalu tumbuh dari kebencian sadar, melainkan seringkali dari ketidaktahuan yang dibiarkan berkembang.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Kekerasan sebagai ekspresi dari trauma di film \u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi yang belum menyaksikan film \u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d, sebaiknya Anda melewatkan bagian ini agar pengalaman emosional yang dibangun oleh film tidak kehilangan dampaknya. Mohon maaf, bagian ini terdapat spoiler yang sangat penting. Mungkin akan lebih berkesan untuk kembali membaca bagian ini setelah menonton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di bagian ini, Jefri, pemimpin pengepungan dan seorang remaja dengan latar belakang traumatis, menjadi simbol tragis dari kekerasan yang ditujukannya. Jefri adalah anak dari perempuan Tionghoa yang menjadi korban pemerkosaan massal pada kerusuhan 2009.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya, dibesarkan dalam kekerasan domestik oleh orang tua angkat, dan dicap sebagai &#8220;produk gagal&#8221; oleh lingkungannya, Jefri menghidupi luka yang tidak pernah bisa diungkapkan. Dalam ketidakmampuan untuk menyuarakan penderitaannya, dia memilih kekerasan sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan perhatian dan eksistensi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut istilah psikoanalitik, ini adalah acting out atau perilaku destruktif yang dilakukan tanpa kesadaran penuh. Ini adalah manifestasi dari trauma yang tak terungkap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam \u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d ini, Jefri yang juga keturunan Tionghoa, justru menjadi sosok yang paling agresif terhadap orang-orang Tionghoa lainnya. Ini adalah bentuk <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Internalized_racism\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">internalized racism<\/a>. Sebuah keadaan di mana seseorang membenci identitasnya sendiri karena merasa terasing atau merasa identitas itu sebagai sumber penderitaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jefri memandang etnis Tionghoa sebagai simbol kelemahan dan perbedaan. Sebuah kondisi yang ingin Jefri hancurkan Ini menjadi bentuk penolakan terhadap kenyataan yang tidak bisa dia terima.<\/span><\/p>\n<h2><b>Representasi diskriminasi horizontal<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d juga membuka ruang bagi pembahasan tentang diskriminasi horizontal. Misalnya, kekerasan antarkelompok marginal yang terjadi karena internalisasi struktur dominasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diskriminasi horizontal ini bisa juga disebut sebagai penindasan yang direproduksi oleh yang tertindas, sebagai efek dari kolonisasi jiwa. Maksudnya, ketika individu yang tertindas meniru perilaku penindas terhadap sesama yang lemah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film \u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d menunjukkan bagaimana kebencian bisa berjalan 2 arah. Hal ini digambarkan dalam adegan ketika Kristo (Endy Arfian), murid Edwin, dipersekusi oleh orang-orang Tionghoa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, terdapat karakter Tionghoa lain yang melakukan hal serupa meskipun tidak secara fisik. Misalnya dalam adegan ketika Diana diperlakukan buruk oleh bartender di bar pecinaan. Kekerasan tidak lagi memiliki wajah tunggal. Ia menjadi virus yang menginfeksi siapa saja, termasuk mereka yang dulu menjadi korban.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pembelajaran dari luka sejarah lewat \u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d adalah cermin yang memantulkan kenyataan pahit dari masyarakat yang enggan berdamai dengan masa lalunya. Diskriminasi terhadap etnis Tionghoa, yang masih terus berlangsung hingga hari ini, tidak hanya didorong oleh alasan rasional, tetapi oleh sikap masyarakat yang terus menerus menolak untuk belajar dari sejarah. Kita memilih untuk lupa, padahal luka tidak akan pernah hilang hanya dengan diam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam dunia yang penuh kebencian ini, pengetahuan adalah bentuk perlawanan. Edukasi bukan hanya soal hafalan, tetapi tentang mengenali luka bersama dan mencari cara untuk menyembuhkannya. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, namun kita bisa memilih apakah luka tersebut akan diwariskan atau berhenti di generasi kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Anda yang tertarik untuk menyaksikan kisah yang menggugah ini, \u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d sudah tayang sejak 17 April 2025. Mungkin ada yang tidak berani menonton karena terdapat materi kekerasan, bullying, dan konflik rasial yang mungkin terlalu intens bagi sebagian penonton.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, saran saya, jangan lewatkan kesempatan untuk menyelami kisah ini lebih dalam. Karena untuk belajar dari sejarah dan untuk menyembuhkan luka, kita perlu menghadapinya terlebih dahulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Iman Septiaji<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Yamadipati Seno<\/span><\/p>\n<p class=\"p1\"><span class=\"s1\"><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/10-pelanggaran-ham-yang-diabaikan-pemerintah-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Menolak Lupa 10 Pelanggaran HAM yang Diabaikan Pemerintah Indonesia<\/a><\/b><b><br \/>\n<\/b><\/span><\/p>\n<p class=\"p2\"><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><span class=\"s2\"><i>cara ini<\/i><\/span><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cPengepungan di Bukit Duri\u201d menunjukkan bahwa untuk belajar dari sejarah dan untuk menyembuhkan luka, kita perlu menghadapinya terlebih dahulu.<\/p>\n","protected":false},"author":2911,"featured_media":329136,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[5101,20,28197,28193,1951,28196,28194,28195,28192,6681],"class_list":["post-329073","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-cina","tag-film-indonesia","tag-film-joko-anwar","tag-film-pengepungan-di-bukit-duri","tag-joko-anwar","tag-kekerasan-rasial","tag-kerusuhan-mei-1998","tag-mei-1998","tag-pengepungan-di-bukit-duri","tag-tionghoa"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/329073","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2911"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=329073"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/329073\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/329136"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=329073"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=329073"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=329073"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}