{"id":329034,"date":"2025-04-19T13:12:00","date_gmt":"2025-04-19T06:12:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=329034"},"modified":"2025-04-19T13:12:00","modified_gmt":"2025-04-19T06:12:00","slug":"5-alasan-buka-usaha-kos-putri-lebih-tekor-daripada-kos-putra","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-alasan-buka-usaha-kos-putri-lebih-tekor-daripada-kos-putra\/","title":{"rendered":"5 Alasan Buka Usaha Kos Putri Lebih Tekor daripada Kos Putra"},"content":{"rendered":"<p><em>Percayalah, mending buka usaha kos putra daripada kos putri.<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Resign dari kerja kantoran lalu buka usaha kos-kosan rasanya jadi pilihan hidup yang menyenangkan. Bayangkan saja, kalian nggak perlu lagi banting tulang, duit sudah mengalir tiap bulan. Apalagi, bisnis kos-kosan ini kelihatannya gampang. Tinggal beli atau bangun rumah, sekat jadi kamar-kamar, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-yang-bikin-saya-enggan-pasang-wifi-di-rumah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pasang WiFi<\/a>, terima duit. Selesai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya juga kalau ada duitnya mau banget buka kos-kosan. Tapi, penginnya sih buka kos putra aja. Berdasarkan cerita orang-orang sekitar, buka usaha kos-kosan putri itu rawan rugi dibanding kos putra. Memang, tidak ada bisnis atau usaha yang benar-benar bisa terhindar dari risiko, tapi kalau ada dua pilihan bisnis serupa, bukankah lebih baik memilih yang minim risiko. Berikut adalah 4 alasan kenapa buka kosan putri itu lebih rawan merugi dibanding\u00a0 kos putra.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Kos putri lebih boros listrik<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan pertama kenapa kos putri kurang menguntungkan karena penghuni kos putri itu ajaib. Ketika pertama kali datang ke kos, mereka mungkin cuma bawa 2 koper. Namun, ketika masuk kamar, semua \u201cperalatan tempur\u201d keluar. Ada standing mirror, jemuran lipat, rak buku, bean bag, hingga boneka Teddy Bear pemberian ayang. Yang bikin pemilik kos jadi merugi adalah, di antara barang-barang yang dibawa, banyak yang membutuhkan tenaga listrik. Misalnya saja catokan, hair dryer, dan lampu tumblr. Auto melonjaklah tagihan listrik tiap bulannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bandingkan dengan kosan cowok. Mereka jarang yang membutuhkan catokan, hair dryer, atau lampu ala-ala.\u00a0 Asal ada kipas angin dan WiFi kenceng aja, mereka udah bahagia banget.<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Lebih boros air\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain lebih mahal untuk urusan tagihan listrik, usaha kos putri juga cukup menguras kantong untuk tagihan air. Kebanyakan perempuan lebih perhatian soal kebersihan, termasuk kebersihan badan. Itu mengapa, mereka tidak bisa sebentar dan butuh banyak air untuk mandi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan, untuk urusan badan, cewek-cewek nggak cukup pakai sabun mandi saja. Mereka punya body scrub dan lulur sebagai pelengkap. Begitu pula perkara bersihin rambut. Jika kebanyakan laki-laki merasa cukup dengan sampo saja, perempuan tidak. Sebelum keramas mereka akan pakai minyak, lalu dibilas, baru sampoan, lalu bilas lagi, lanjut pakai conditioner, dan bilas untuk yang terakhir kalinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini bukan tidak mungkin memerlukan banyak air. Coba sekarang hitung berapa kali mereka bilas dan berapa banyak air yang dibutuhkan? Belum lagi rambut perempuan umumnya lebih panjang dari rambut laki-laki, sehingga butuh air yang lebih banyak untuk bisa membersihkan rambut dari sisa-sisa busa sampo. Intinya: Boros air, Lur. Boros.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Risiko kerusakan tinggi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal lain yang membuat saya jadi mikir dua kali untuk buka usaha kos putri adalah karena risiko fasilitas rusak cukup tinggi. Yang paling mungkin dan sering terjadi adalah kloset mampet.Meski sudah ada larangan membuang pembalut ke dalam kloset, masih ada saja penghuni kos yang bandel. Akhirnya, kloset jadi macet. Yang bikin greget, ketika hal ini terjadi, bisa dipastikan tidak ada satu penghuni pun yang akan mengaku melakukannya. Yah, berpikir positif saja. Mungkin pembalutnya inisiatif jalan sendiri, trus dengan suka rela masuk ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/etika-pakai-wc-duduk-di-toilet-umum\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kloset<\/a> ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau di kosan cowok, drama kloset macet tidak akan ditemui. Laki-laki tidak membuang pembalut di kloset. Laki-laki buang hajat, sambil sebat.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Biaya perawatan kos putri lebih tinggi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fasilitas dan perawatan kos putra itu jauh lebih simpel daripada kos putri. Kos putra biasanya sudah cukup dengan keberadaan kasur, colokan, dan wifi. Namun, tidak dengan kos putri. Fasilitas kamar sudah lengkap dan dipasang serapi mungkin tetap saja ada kurang-kurangnya di mata penghuni. Tak jarang penghuni menambahkan pritilan, seperti stiker bintang yang bisa nyala kalau gelap,<a href=\"https:\/\/senayan.raywhite.co.id\/news\/152538-manfaat-dan-keunggulan-dari-wallpaper-foam-3d-yang-harus-anda-ketahui\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> wallpaper 3D foam<\/a>, hingga poster idol kesayangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dampak dari make over kamar oleh penghuni kamar akan terasa ketika penghuni kamar sudah tidak ngekos di situ lagi. Tembok yang semula halus tiba-tiba jadi penuh bekas isolasi dan lubang bekas paku. Ujung-ujungnya, pemilik kos harus keluar duit lagi buat nutupi dosa-dosa tersebut. Bisa aja sih pura-pura nggak lihat. Tapi, siap-siap aja bakal dikomen oleh calon penghuni yang baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamar kos cowok mah boro-boro ngurusin hal begituan. Tembok kotor? Ya udah. Langit-langit retak? Biarin, selama nggak jatuh ke kepala. Yang penting bisa buat tidur.<\/span><\/p>\n<h2><b>#5 Mengelola kos putri rugi secara mental\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya rugi secara finansial, mengelola kos putri juga rugi secara mental. Hidup kalian tidak akan tenang karena sedikit-sedikit akan menerima laporan dari penghuni. Ada sedikit kerusakan lalu lapor. Kehidupannya terusik sedikit lalu lapor. Seketika, kamu jadi bertanya-tanya. Kamu ini sebenarnya juragan kosan atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-logis-kenapa-kebanyakan-customer-service-adalah-perempuan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">customer service<\/a> 24 jam? Kok terima komplain melulu. Belum kalau ada gesekan antar masing-masing penghuninya. Huhuhu\u2026<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kosan cowok, rata-rata penghuninya tidak terlalu peduli dengan hal-hal kecil yang terjadi di sekitar mereka. Kalau toh ada masalah, mereka akan berusaha mengatasinya sendiri. Bukan dikit-dikit lapor, dikit-dikit lapor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Klir, ya? Sudah jelas dong alasannya kenapa buka kos putri lebih merugikan daripada kos putra. Tapi ya, balik lagi ke preferensi masing-masing, sih. Misal ada yang tetep pengen buka kosan cewek juga nggak masalah. Itung-itung sebagai ladang amal, pelatihan sabar, dan ujian batin tahunan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dyan Arfiana Ayu Puspita<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-karakter-upin-ipin-yang-terlihat-red-flag-tapi-aslinya-green-flag\/\"><b>4 Karakter &#8220;Upin Ipin&#8221; yang Terlihat Red Flag, padahal Aslinya Green Forest<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lebih baik pikir ulang kalau mau buka usaha kos putri karena lebih banyak buntung daripada untung. Mending buka usaha kos putra. <\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":329038,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13085],"tags":[5591,28130,15932,21684],"class_list":["post-329034","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi","tag-kos","tag-kos-putra","tag-kos-putri","tag-kos-kosan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/329034","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=329034"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/329034\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/329038"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=329034"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=329034"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=329034"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}