{"id":327119,"date":"2025-04-13T14:23:03","date_gmt":"2025-04-13T07:23:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=327119"},"modified":"2025-04-13T14:23:03","modified_gmt":"2025-04-13T07:23:03","slug":"mi-ayam-wonogiri-sebaiknya-jangan-dibungkus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mi-ayam-wonogiri-sebaiknya-jangan-dibungkus\/","title":{"rendered":"Mi Ayam Wonogiri Memang Tidak Bisa Dibungkus, Sebaiknya Jangan Dibungkus, dan Jangan Pernah Minta Dibungkus"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum mudik lebaran, kawan sekantor banyak yang minta saya bawa mi ayam Wonogiri dari rumah untuk oleh-oleh sekembalinya nanti ke kantor. Saya hanya bisa menjawab, nggak bisa, nggak tahu caranya. Bukan saya malas, tapi saya beneran nggak tahu caranya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang Wonogiri asli, sudah tak terhitung berapa kali saya diminta bawa mi ayam dari Wonogiri ke Jogja. Jawaban saya selalu sama, nggak bisa, nggak tahu caranya. Sebab memang sesederhana itu problematikanya, nggak bisa beneran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lama-lama, orang mengira saya cuman males dan beneran nggak mau. Padahal saya tahu betul kalau nanti dibungkus, rasanya jelas nggak enak dan malah bikin pandangan orang terhadap kuliner satu ini berubah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya jelaskan dulu kenapa mi ayam Wonogiri memang baiknya tidak dibungkus, tidak bisa dibungkus, dan kalau bisa, jangan pernah dibungkus.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Makanan berkuah pada dasarnya nggak enak kalau dibungkus<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mi ayam Wonogiri itu sudah jadi bagian penting dalam diri saya. Ada mi ayam dalam aliran darah saya. Meski saya tak bisa mengaku si paling ahli, saya lumayan paham betul kenapa mi ayam memang susah dijadikan oleh-oleh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini. Mi ayam itu paling enak disajikan saat fresh, dan harus dimakan secepatnya. Berkali-kali saya makan mi ayam, tiap saya agak lama makan, rasa keburu berubah. Tampilan jelas sudah tidak menarik, dan rasanya tak lagi epik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau pakai bahasa orang Wonogiri, mi yang dibiarkan nanti jadi methethek. Saya nggak tau penulisannya yang bener gimana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekalipun kamu makan di tempat, kalau kelewat lama makannya, lama-lama nggak enak juga. Nah, berangkat dari situ saja, sudah keliatan kenapa mi ayam Wonogiri memang baiknya tidak dibungkus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berarti saya nggak pernah bungkus lho ya. Sering dulu sewaktu masih serumah dengan bapak ibu. Cuma ya rasanya beda. Padahal rumah dengan warung mi ayam langganan itu deket. Cuma roll depan saja sampe. Tetep aja nggak enak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus kalian minta aku bawa dari Wonogiri ke Jogja? Yo edan bolo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya, mi ayam mau dari daerah mana pun, dibungkus itu tidak enak. Basically makanan berkuah itu nggak enak kalau dibungkus. Jadi ya, spare waktu, berangkat ke warungnya aja sekalian.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Mi ayam Wonogiri tak bisa jadi oleh-oleh<\/strong><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak kawan menyarankan untuk bawa minya mentah, direbus nanti waktu sampe Jogja, kuahnya dipisah, lalu begini, lalu begitu. Saya malah pusing sendiri, ha kalau kayak gitu mending kita pergi ke warung mi ayam sekalian aja nggak sih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagi pula, di Jogja sudah banyak banget warung mi ayam Wonogiri yang rasanya autentik. Perlu diingat, nggak ada patokan mi ayam Wonogiri begini, begitu. Di Wonogiri saja tiap warung punya cita rasa sendiri, terus kok ada yang bilang \u201cpatokannya gini\u201d. Ajaib kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya pribadi, kalau di kotamu ada <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/kumparanfood\/bakso-titoti-si-legenda-dari-wonogiri-1r0V3OLg2CR\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Titoti,<\/a> sudahlah gas ke sana saja. Mi ayam Titoti itu punya ciri khas Wonogiri juga. Baksonya juga enak, jadi nggak perlu minta bawa dari Wonogiri, gur ngakeh-akehi gawean.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, kalau memang pengin banget nget ngerasain yang autentik, gas aja ke Wonogiri. Sudah banyak transum yang tersedia, juga nggak sulit-sulit amat kota ini diakses. Tinggal pilih yang mana, atau sikat saja semuanya sekalian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, bagi saya, nggak usah minta oleh-oleh mi ayam Wonogiri. Jelas nanti nggak enak, dan ribet. Datengin aja warung mi ayam terdekat, mereka pasti kiblatnya ke Wonogiri kok. Malah jelas lebih fresh. Setuju, Bolo?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/kuliner\/rekomendasi-mie-ayam-di-wonogiri-paling-enak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Rekomendasi Mie Ayam Paling Enak di Wonogiri Versi Warga Lokal Maniak Mie Ayam<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagi saya, nggak usah minta oleh-oleh mi ayam Wonogiri. Jelas nanti nggak enak, dan ribet. Datengin aja warung mi ayam terdekat, beres.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":300532,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[10586,479,20831,783],"class_list":["post-327119","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-mi-ayam-wonogiri","tag-oleh-oleh","tag-titoti","tag-wonogiri"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/327119","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=327119"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/327119\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/300532"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=327119"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=327119"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=327119"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}