{"id":326492,"date":"2025-04-12T08:00:03","date_gmt":"2025-04-12T01:00:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=326492"},"modified":"2025-04-11T14:38:28","modified_gmt":"2025-04-11T07:38:28","slug":"puncak-sosok-sebaik-baiknya-tempat-healing-di-jogja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/puncak-sosok-sebaik-baiknya-tempat-healing-di-jogja\/","title":{"rendered":"Puncak Sosok, Sebaik-baiknya Tempat Healing di Jogja"},"content":{"rendered":"<p><em>Kala<span style=\"font-weight: 400;\">u merasa capek dengan hiruk pikuk Jogja, sempatkan melipir sejenak ke Puncak Sosok. Di sana kita bisa jeda sejenak.<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja memang kota yang menyenangkan, tapi kadang juga menyebalkan. Macet di mana-mana, tempat-tempat populer makin ramai, dan suasana tenang yang dulu mudah ditemukan sekarang harus dicari dengan usaha lebih. Kadang, untuk sekadar menarik napas panjang tanpa klakson dan kerumunan di Jogja, kita harus pergi agak jauh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, masih ada tempat seperti Puncak Sosok di Dusun Jambon, Kalurahan Bawuran, Kapanewon Pleret, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/klaten-diam-diam-lebih-urban-daripada-bantul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bantul<\/a>. Lokasinya sekitar 15\u201320 kilometer dari pusat Kota Jogja, atau sekitar 45 menit perjalanan kalau tidak terlalu banyak berhenti foto-foto sepanjang jalan. Di sana, di atas bukit dengan ketinggian 210 mdpl, Jogja terlihat seperti kecil, tenang, dan jauh dari keribetan yang biasa kita hadapi tiap hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Puncak Sosok bukan tempat yang dibangun untuk ramai-ramai. Ia tumbuh dari lahan tandus yang disulap oleh warga jadi tempat untuk berhenti sejenak, menikmati alam, dan kalau sedang beruntung, ditemani alunan live music udara terbuka. Tempat ini cocok buat siapa saja yang ingin meredakan kepala penuh atau sekadar ingin menyaksikan matahari turun tanpa disela notifikasi grup kerja.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Puncak Sosok: dari lahan gersang jadi tempat healing favorit<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Puncak Sosok bukan tempat yang tiba-tiba ada lalu viral di TikTok. Ia lahir dari inisiatif warga yang melihat potensi, bukan sekadar lahan kosong. Dulu, tempat ini hanyalah tanah kering kerontang, nyaris tak berguna. Air sulit, tanah berbatu, bahkan untuk ditanami pun warga menyerah. Tapi justru dari situ sebuah ide muncul. Kalau nggak bisa jadi lahan tani, kenapa nggak jadi tempat menenangkan diri?<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/radarjogja.jawapos.com\/wisata\/654882407\/mengunjungi-puncak-sosok-di-pleret-bantul-ubah-lahan-tandus-dan-gersang-jadi-destinasi-wisata-menikmati-sunset-dan-sunrise-di-ketinggian-210-mdpl\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengutip Radar Jogja, sejak 2017<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, warga Dusun Jambon beramai-ramai membuka akses jalan, membangun fasilitas sederhana seperti parkiran, musala, gazebo, dan warung. Setahun kemudian, panggung hiburan mulai dibangun. Bukan buat joget TikTok, tapi buat live music, pertunjukan seni, dan kadang juga ajang warga unjuk bakat. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan, dari tempat nongkrong biasa di malam hari, Puncak Sosok sekarang bisa menyerap lebih dari 200 warga sekitar buat kerja\u2014dari penjaga parkir sampai pemilik warung. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin salut, pengelolaan tempat ini nggak dikuasai investor gede yang tiba-tiba datang bawa nama &#8220;eco-tourism&#8221; padahal ujung-ujungnya ngebor lahan. Puncak Sosok tetap milik warga. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lahan yang digunakan pun sebagian besar adalah tanah kas desa, sebagian lagi tanah Sultan Ground dan milik pribadi warga. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Pendapatan warga yang dulunya buruh tani sekarang bisa sampai UMR. Healing dapat, dampak sosial pun nyata.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Senja, musik, dan jagung bakar: trio ampuh penyelamat hari<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu terbaik mengunjungi Puncak Sosok adalah sore hingga malam hari. Bukan karena siangnya panas atau banyak nyamuk, tapi karena dari sini senja bisa terlihat begitu syahdu. Matahari turun pelan-pelan di antara siluet kota dan perbukitan, sambil sesekali diiringi suara gitar dari panggung kecil yang ada di tengah area. Kalau beruntung, pengunjung bisa ikut nyanyi bareng atau malah maju sendiri\u2014asal nggak malu-maluin, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suasana makin lengkap dengan aroma jagung bakar yang mulai mengepul. Di warung-warung kecil yang dikelola warga, pengunjung bisa pesan makanan sederhana: <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dosa-penjual-pisang-goreng\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pisang goreng<\/a>, kopi panas, mie rebus, atau sate angkringan. Harganya? Masih manusiawi. Bahkan, tusuk bakso seribuan pun masih eksis di sini, seolah ingin menegaskan bahwa healing nggak harus mahal. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanannya mungkin sederhana, tapi suasananya? Mewah! Bukan karena fasilitasnya, tapi karena rasa damai yang susah dicari di tempat lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di malam hari, gemerlap lampu Kota Jogja jadi bonus tambahan. Dari ketinggian Puncak Sosok, semuanya terlihat seperti kumpulan kunang-kunang digital. Kadang ada pentas tari, kadang juga sendratari, semua dibalut udara segar khas pegunungan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tempat ini, waktu seolah berjalan lambat. Cukup lambat untuk membuat kita sadar bahwa mungkin yang kita butuhkan bukan liburan jauh-jauh, melainkan tempat seperti Puncak Sosok.<\/span><\/p>\n<h2><strong>Jogja yang ramai dan Sosok yang sunyi<\/strong><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan rahasia lagi kalau Jogja berubah. Dalam satu dekade terakhir, kota ini tumbuh cepat, kadang terlalu cepat. Bangunan menjulang, kendaraan mengular, dan tempat-tempat yang dulu lengang kini penuh antrean dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/silinder-kuning-di-pinggir-jalan-itu-bernama-roller-barrier-plis-jangan-selfie-di-situ\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">spot selfie<\/a>. Di tengah riuhnya pertumbuhan itu, Puncak Sosok hadir sebagai pengingat bahwa yang kita cari kadang bukan tempat yang baru, tapi suasana yang lama\u2014yang pelan, yang teduh, yang tidak terburu-buru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di atas bukit itu, kita tidak sekadar melihat pemandangan, tapi juga merenungi jarak. Jarak antara kita dan kota. Jarak antara kita dan diri sendiri yang mulai lelah berpura-pura kuat. Suara musik mengalun pelan, makanan hangat tersedia, tapi yang paling penting: tidak ada tuntutan untuk jadi siapa-siapa. Kamu boleh datang sendiri, berdua, atau ramai-ramai, dan tetap merasa utuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Puncak Sosok mungkin bukan tempat wisata paling heboh di Jogja. Tapi justru karena itu ia menjadi ruang alternatif untuk kita yang kadang ingin menyepi tanpa perlu menjauh terlalu jauh. Untuk kita yang butuh sedikit sunyi agar bisa mendengar lagi suara-suara penting dari dalam diri. Dan Jogja, diam-diam, tetap menyediakan tempat seperti itu. Tinggal kita yang perlu sadar dan mau mampir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jogja tak pernah benar-benar kehilangan daya tariknya, hanya saja kadang kita butuh sudut yang lebih tenang untuk kembali jatuh cinta padanya. Di tengah gegap gempita pembangunan dan euforia pariwisata yang makin riuh, Puncak Sosok hadir seperti jeda yang lembut\u2014bukan untuk melawan perubahan, tapi untuk menjaga kewarasan. Karena Jogja yang kita rindukan mungkin bukan soal tempatnya, tapi tentang cara ia membuat kita merasa pulang, meski sekadar duduk diam memandangi senja dari atas bukit. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Ayo wisata ke Puncak Sosok!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Raihan Muhammad<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-tempat-wisata-gratis-yang-sebaiknya-dikunjungi-di-jogja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">10 Tempat Wisata Gratis yang Sebaiknya Dikunjungi di Jogja<\/a>.<br \/>\n<\/b><\/p>\n<p><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja makin padat dan semrawut. Sulit mencari tempat tenang untuk healing sejenak. Tapi tenang, masih ada Puncak Sosok yang bisa didatangi.<\/p>\n","protected":false},"author":2215,"featured_media":326676,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5766,115,10802,28114,13942,23538,10038],"class_list":["post-326492","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bantul","tag-jogja","tag-kabupaten-bantul","tag-puncak-sosok","tag-tempat-wisata-jogja","tag-wisata-bantul","tag-wisata-jogja"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/326492","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2215"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=326492"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/326492\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/326676"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=326492"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=326492"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=326492"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}