{"id":326449,"date":"2025-04-10T13:13:49","date_gmt":"2025-04-10T06:13:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=326449"},"modified":"2025-04-10T13:05:01","modified_gmt":"2025-04-10T06:05:01","slug":"4-pertimbangan-penting-sebelum-menjual-jiwa-pada-kuliah-s3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-pertimbangan-penting-sebelum-menjual-jiwa-pada-kuliah-s3\/","title":{"rendered":"4 Pertimbangan Penting\u00a0Sebelum \u201cMenjual Jiwa\u201d pada Kuliah S3"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melanjutkan kuliah S3 ibarat membeli one-way ticket ke dunia yang penuh tantangan terjal. Demi menyandang gelar \u201cDoktor\u201d atau \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dilema-yang-sering-dihadapi-lulusan-luar-negeri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">PhD<\/a>\u201d yang bergengsi itu tidak hanya perlu kedalaman ilmu, tapi juga komitmen jangka. Sebab, memilih lanjut kuliah S3 bisa benar-benar menguras mental dan finansial. Bahkan, hubungan sosial harus siap dipertaruhkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu mengapa sebelum bermimpi menyandang gelar \u201cDoktor\u201d atau \u201cPhD\u201d, lebih baik calon mahasiswa mempertimbangkan realitas pahit yang sering diabaikan itu. Sebab, banyak dari mereka memulai S3 dengan gemuruh di dada, tapi berujung nelangsa. Setidaknya, sejumlah pertimbangan berikut wajib dipikirkan sebelum terjerembab karena ekspektasi yang terlampau tinggi.<\/span><\/p>\n<h2><b>#1 Mahasiswa S3 harus punya alasan yang kuat<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan doktoral atau PhD itu kejam dan terjal. Itu mengapa alasan atau motivasi\u00a0 mutlak diperlukan bagi mahasiswa S3 untuk menyelesaikan studi. Menempuh S3 tanpa alasan kuat bak membangun rumah di atas pasir. Tidak kokoh, sewaktu-waktu bisa disapu ombak.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka yang bertahan menempuh S3 seringkali memang punya alasan dan motivasi yang kuat, ditambah dengan rasa ingin tahu yang tidak pernah padam. Mereka melihat penyusunan disertasi sebagai kesempatan mengurai permasalahan dalam suatu disiplin ilmu pengetahuan yang belum terpecahkan. Gelar dan jenjang karir bukan sekadar sebagai tujuan, tapi juga efek positif dari proses belajar yang berkelanjutan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>#2 Kuliah S3 lebih melelahkan dari lomba marathon, jangan ikutan kalau tak tahan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percayalah kuliah S3 berarti menandatangani kontrak tak tertulis untuk hidup dalam ketidakpastian selama 3-5 tahun ke depan. Waktu bukan lagi sumber daya yang dapat dipertukarkan, tapi musuh sekaligus sahabat. Terjebak dalam siklus &#8220;revisi-sidang-revisi&#8221; berulang kali sungguh bisa menghabiskan energi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak heran, banyak mahasiswa doktoral yang mengeluhkan perubahan pola hidup, jam biologis, maupun kehidupan sosial yang berantakan demi menuntaskan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/saya-menyelesaikan-tesis-pascasarjana-dengan-modal-cuma-rp120-ribu-dapat-nilai-a-pula\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">disertasi<\/a>. Keseimbangan hidup umpama mitos yang mustahil untuk diwujudkan. Belum lagi, dinamika pekerjaan dan masalah keluarga turut menjadi bumbu pelengkap yang membuat kehidupan mahasiswa doktoral semakin perih-perih sedap.<\/span><\/p>\n<h2><b>#3 Bukan cuma tenaga yang terkuras, psikis pun luluh lantak tak berbekas<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memasuki dunia S3 berarti siaga menghadapi badai kesehatan mental yang jarang diungkap di brosur kampus dengan model penuh tawa. Gelombang revisi dengan rentetan sidang hingga isolasi sosial, telak menerpa mental. Yang lebih parah, <a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/mengenal-lebih-jauh-tentang-toxic-positivity\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">toxic positivity<\/a> di lingkungan orang dewasa memaksa mahasiswa doktoral untuk selalu terlihat kuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pengingat, mayoritas mahasiswa S3 memiliki beragam peran lain seperti dosen dan orang tua yang dituntut memberi teladan. Tak ayal, tidak sedikit dari mereka yang enggan mengakui kelelahan fisik dan psikis. Malah, mereka memilih mengubur masalah dalam timbunan literatur dan data mentah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penumpukan hormon kortisol selama proses mencapai gelar doktor tak dapat ditampik. Bermula dari pikiran, kesehatan tubuh turut dipertaruhkan. Oleh sebab itu, mempunyai support system yang sehat merupakan anugerah luar biasa bagi para penyintas neraka studi S3. Jika merasa tidak dikelilingi oleh lingkungan yang mendukung, mungkin impian menjadi \u201cDoktor\u201d lebih baik dikubur.<\/span><\/p>\n<h2><b>#4 Kesiapan finansial, faktor nonakademik yang paling krusial<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biaya pendidikan hanyalah puncak gunung es dari total pengeluaran yang harus ditanggung sewaktu menempuh kuliah S3. Anggaran tersebut bukan cuma untuk uang kuliah, melainkan juga penelitian, publikasi jurnal internasional, hingga konferensi luar negeri. Belum lagi, tagihan biaya hidup harus lekas ditutup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang sering dilalaikan adalah opportunity cost yang jauh lebih besar nominalnya. Misalnya saja, gaji dan jenjang karir yang terlewat selama masa studi. Beruntung bila segala biaya didukung oleh sponsor atau beasiswa. Sialnya, sebagian mahasiswa kudu rela merogoh kocek pribadi guna merampungkan disertasi. Ditambah lagi, sidang terbuka atau promosi doktor tak ubahnya menggelar hajatan besar yang sudah pasti menelan angka fantastis. Tak heran jika mungkin nanti di akhir masa studi, mahasiswa mesti menjual motor demi menyandang gelar doktor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menapaki jenjang S3 jelas tidak sama seperti saat <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/ijazah-s1-dan-gelar-sarjana-tak-bisa-diandalkan-buat-cari-kerja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menimba ilmu di S1<\/a> atau S2. Perjalannya cenderung sunyi dan harus dilalui sendiri tanpa hura-hura bersama teman-teman seangkatan. Yang perlu dicamkan, pilihan untuk tidak melanjutkan sama mulianya dengan memutuskan untuk meneruskan selama dibuat dengan kesadaran penuh bahwa gelar doktor tak pernah menjadi jaminan kebahagiaan. Pada akhirnya, gelar tertinggi bukanlah yang tercetak di ijazah, melainkan kemampuan seseorang menjalani proses belajar seumur hidup dan menjadi berfaedah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Paula Gianita Primasari<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kuliah-s2-jangan-asal-pertimbangkan-5-hal-ini-biar-nggak-nyesel\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">5 Pertimbangan Penting Sebelum Kuliah S2, Jangan Asal supaya Tidak Menyesal\u00a0<\/span><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kuliah S3 jauh berbeda dengan S2, apalagi S1. Itu mengapa perlu banyak pertimbangan sebelum menempuh jenjang pendidikan ini.  <\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":326454,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13089],"tags":[28097,436,28094,34,28095,28096,28098],"class_list":["post-326449","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kampus","tag-doktoral","tag-kuliah","tag-kuliah-s3","tag-mahasiswa","tag-mahasiswa-s3","tag-phd","tag-s3"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/326449","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=326449"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/326449\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/326454"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=326449"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=326449"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=326449"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}