{"id":325264,"date":"2025-04-02T15:45:02","date_gmt":"2025-04-02T08:45:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=325264"},"modified":"2025-04-02T15:37:35","modified_gmt":"2025-04-02T08:37:35","slug":"telaga-sarangan-magetan-sering-dikira-di-karanganyar-karena-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/telaga-sarangan-magetan-sering-dikira-di-karanganyar-karena-ini\/","title":{"rendered":"Telaga Sarangan Magetan Kerap Disalahpahami Berada di Karanganyar karena Beberapa Alasan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Telaga Sarangan salah satu destinasi wisata yang terletak di lereng <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/rumitnya-jalur-gunung-lawu-hampir-memakan-korban-hilang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gunung Lawu<\/a>, Magetan. Telaga alami seluas sekitar 30 hektar itu menyajikan pemandangan yang indah dengan udara sejuk khas pegunungan. Berbagai fasilitas penunjang pariwisata bermunculan di sekitar telaga, mulai dari penginapan hingga tempat makan. Tidak heran tempat ini jadi primadona wisata di Magetan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, masih banyak orang yang salah paham kalau tempat wisata ini berada di Karanganyar. Padahal, Magetan dan Karanganyar adalah dua kabupaten yang berbeda, walau memang bertetangga. Secara geografis, Telaga Sarangan berada di Lereng Gunung Lawu sisi timur, tepatnya di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Telaga tersebut berjarak kurang lebih 16 kilometer dari pusat pemerintahan Magetan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, jarak Telaga Sarangan dengan pusat Karanganyar sekitar 40 km. Memang jauh kalau ditarik dari pusat kota, tapi kalau ditarik dari Tawangmangu, jaraknya hanya sekitar 15 km saja. Asal tahu saja, Tawangmangu adalah salah satu destinasi wisata terkenal yang berada di kawasan Karanganyar. Itu mengapa banyak orang mengira Telaga Sarangan masih bagian dari Tawangmangu, Karanganyar. Apalagi banyak paket wisata yang menawarkan Telaga Sarangan sebagai bagian dari paket wisata Tawangmangu\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Telaga Sarangan membesarkan nama Tawangmangu bukan Magetan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak heran kalau pemerintah Magetan merasa kesal dengan kenyataan ini. Memang, retribusi dan berbagai pendapatan yang dihasilkan di Telaga Sarangan masuk ke pundi-pundi daerah. Namun, secara branding Telaga Sarangan, Magetan kalah telak dari Karanganyar. Padahal, selama ini, pemerintah Magetan yang memelihara dan merawat kawasan wisata ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau tidak percaya, coba saja kalian ketik di mesin pencari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perpustakaan-tidak-akan-sekarat-hanya-karena-google\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Google<\/a> tentang Telaga Sarangan. Kalimat pertama yang muncul adalah \u201cSarangan Tawangmangu\u201d, bukan \u201cTelaga Sarangan Magetan\u201d. Ini mempertegas bahwa dunia maya dan netizen lebih mengenal Telaga Sarangan sebagai bagian dari Tawangmangu, Karanganyar, bukan Magetan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak bisa dimungkiri, Karanganyar memang lebih jago memanfaatkan peluang dengan memasukkan Telaga Sarangan ke dalam paket wisata Tawangmangu. Itu mengapa, banyak orang lebih mengenal daerah ini sebagai bagian dari Karanganyar. Kasus seperti ini mirip seperti Candi Borobudur yang banyak dikira bagian dari Jogja karena sering masuk paket wisata yang ditawarkan agen wisata Jogja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara soal menyusun paket wisata, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rekomendasi-wisata-tersembunyi-di-karanganyar-biar-nggak-itu-itu-terus-tujuannya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Karanganyar<\/a> memang lebih unggul. Kabupaten ini memiliki banyak titik wisata ternama seperti Candi Cetho, Air Terjun Grojokan Sewu, hingga Kebun Teh Kemuning. Kadang kala, paket tersebut sudah termasuk<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan wisata Solo Raya, jelas tawaran tersebut menarik wisatawan. Sementara, Magetan lebih banyak mengandalkan Telaga Sarangan saja sebagai wisatanya. Sekalipun Magetan menggunakan strategi paket wisata seperti yang diterapkan oleh Karanganyar, saya rasa efeknya tidak akan besar.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Lebih baik berkolaborasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya, daripada pusing-pusing memikirkan strategi untuk mem-<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">branding <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Telaga Sarangan sebagai bagian dari Magetan, lebih baik pemerintah daerah fokus pada persoalan-persoalan wisata yang dihadapi. Salah satu yang banyak dikeluhkan adalah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/aktual\/jalan-persatuan-ugm-bikin-resah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pedagang kaki lima (PKL)<\/a> yang memasang tarif tinggi terhadap wisatawan, bahasa lokalnya getok harga.\u00a0 Apabila praktik seperti ini terus berlanjut, bisa jadi Magetan tidak hanya kehilangan branding Telaga Sarangan, tapi juga wisatawannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain membereskan persoalan-persoalan yang ada di depan mata, lebih baik pemerintah Magetan juga fokus pada kolaborasi Karanganyar. Bagaimanapun, promosi yang dilakukan Karanganyar turut membawa berkah bagi pariwisata Magetan. Saya pikir pemerintah bisa mencontoh Banyuwangi dan Bondowoso dalam memanfaatkan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Danau_Kawah_Ijen\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wisata Kawah Ijen<\/a>. Masing-masing daerah memiliki fokus, misal Karanganyar fokus pada promosi dan infrastruktur penunjang, sementara Magetan fokus pada pengelolaan area wisatanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila pemerintah dua daerah tetangga ini bisa berkolaborasi dengan baik, keduanya akan sama-sama diuntungkan. Ujung-ujungnya, warga di dua daerah itu juga yang akan menikmati hasilnya. Semua itu mungkin terwujud apabila dua daerah itu saling menurunkan ego dan mau berkolaborasi dengan baik demi kepentingan bersama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Dodik Suprayogi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/candi-borobudur-di-jogja-sampai-kapan-salah-sebut-begini\/\"><b>Mau Sampai Kapan Salah Menyebutkan Candi Borobudur Terletak di Jogja?<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Telaga Sarangan Magetan kerap disalahpahami bagian dari kabupaten lain karena sering menjadi bagian paket wisata Tawangmangu, Karanganyar. <\/p>\n","protected":false},"author":2731,"featured_media":325320,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[11811,20200,17996,23166,20199,28019],"class_list":["post-325264","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-karanganyar","tag-magetan","tag-tawangmangu","tag-tawangmangu-karanganyar","tag-telaga-sarangan","tag-telaga-sarangan-magetan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/325264","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2731"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=325264"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/325264\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/325320"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=325264"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=325264"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=325264"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}