{"id":325063,"date":"2025-03-29T18:13:48","date_gmt":"2025-03-29T11:13:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=325063"},"modified":"2025-05-19T14:53:28","modified_gmt":"2025-05-19T07:53:28","slug":"hal-hal-yang-lumrah-di-jogja-tapi-tidak-biasa-di-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-hal-yang-lumrah-di-jogja-tapi-tidak-biasa-di-semarang\/","title":{"rendered":"Hal-hal yang Lumrah di Jogja, tapi Tidak Biasa di Semarang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai seseorang yang pernah tinggal belasan tahun di Jogja dan tumbuh besar di Semarang, saya menyaksikan sederet perbedaan antara dua daerah ini. Meski kedua kota tersebut bertetangga dan sama-sama mengusung<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/histori\/mitos-orang-jawa-itu-pemalas\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> budaya Jawa<\/a>, nyatanya ada perbedaan mendasar yang membuat saya terheran-heran. Tentu, tidak ada yang salah dengan perbedaan itu. Hanya saja, saya kudu pandai menyesuaikan diri manakala berinteraksi dengan warga dari masing-masing kota tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sependek yang saya amati selama berdomisili serta bolak-balik di dua kota tadi, setidaknya ada tiga perbedaan yang paling mencolok. Bagi saya pribadi, hal ini cukup menarik. Sebab, kedua kota tempat saya pernah bertumbuh dan belajar tersebut berhasil mengajari saya secara langsung tentang arti peribahasa \u201cdi mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Nongkrong di atas motor atau di tepi jembatan\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat berkeliling Jogja, tidak jarang saya menemui sejumlah muda-mudi yang menghabiskan sore hari di pinggir jalan. Titik kumpul favorit mereka biasanya adalah sepanjang jembatan. Terkadang, motor yang mereka bawa dialihfungsikan seakan menggantikan bangku taman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal semacam itu sulit dijumpai di Semarang. Dulu, bercengkrama di motor memang biasa dilakukan remaja Semarang di seputar <a href=\"https:\/\/www.idntimes.com\/travel\/destination\/fatma-roisatin\/kisah-seram-di-bukit-gombel-semarang\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kawasan Gombel<\/a> yang remang-remang. Agak mengherankan juga pemilihan lokasinya. Di Simpang Lima, lokasi yang lebih terbuka dan nyaman dijadikan kopi darat karena ada banyak baku begitu sepi. Malah lokasi yang remang-remang seperti Gombel begitu ramai muda-mudi. Itu mengapa, aktivitas bercengkrama di atas motor punya label negatif di mata masyarakat Semarang, dianggap kurang pantas hingga detik ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-hal-yang-lumrah-di-jogja-tapi-tidak-biasa-di-semarang\/2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><em>Baca halaman selanjutnya: Toleransi tinggi &#8230;<\/em><\/a><\/p>\n<p><!--nextpage--><\/p>\n<h2><b>Toleransi tinggi orang Jogja terhadap jam karet kadang bikin sewot<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur saja, perbedaan yang satu ini bikin saya gemas. Jogja memang lekat dengan kehidupan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/slow-living-di-jogja-itu-mudah-asalkan-kamu-kaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">slow living<\/a> yang membuat orang-orangnya jadi jauh lebih santai. Namun, tidak saya sangka, mereka juga begitu santai terhadap waktu janjian atau bertemu. Dengan kata lain, waktu yang ngaret atau terlambat adalah hal yang biasa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah menyelami kehidupan di Kota Pelajar, akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa jam karet selayaknya oksigen bagi penduduknya. Guna meluruskan, pernyataan tadi bukan sindiran melainkan pemahaman akan ketidaksamaan nilai yang dijunjung masyarakat. Menurut saya, warga Jogja lebih menghormati kehadiran seseorang ketimbang kepatuhan terhadap waktu. Istilahnya, \u201cngajeni\u201d orang. Bahkan, bisa dikatakan, penerimaan lapang dada atas praktek jam karet ini adalah bentuk keluwesan hidup di sana.<\/span><\/p>\n<h2><b>Menggunakan arah mata angin sebagai penunjuk jalan adalah hal biasa<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Jogja, mendengar orang mengarahkan jalan dengan kalimat \u201cbelok timur, lalu ambil selatan Tugu\u201d merupakan makanan sehari-hari. Mengombinasikan landmark beserta arah mata angin menjadi pedoman umum petunjuk jalan di Jogja. Namun, kalau metode ini diterapkan di Semarang, yang muncul justru kebingungan kolektif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasalnya, tata kota antara Jogja dan Semarang saja sudah jauh berbeda. Jogja dibentuk dengan sistem radial dan dibantu dengan keberadaan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/kilas\/3-wisata-lereng-gunung-merapi-terbaik-di-klaten\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gunung Merapi<\/a> sebagai kompas alami. Sementara, wilayah Semarang yang berbukit menuntut masyarakatnya lebih pragmatis dalam menetapkan orientasi. Dua logika navigasi tersebut sama-sama efektif. Sayangnya, akan menjadi lucu ketika dicoba di bukan kota asalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan bukanlah sesuatu yang ada untuk dipertentangkan. Yang terpenting adalah meningkatkan kemampuan beradaptasi agar tidak mempermalukan diri sendiri. Sebab, apa yang dipandang berbudaya di suatu daerah, mungkin saja menjadi dosa urban di tempat lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Paula Gianita Primasari<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/semarang-lebih-nyaman-ditinggali-daripada-jogja\/\"><b>Sudah 5 Tahun Pindah dari Semarang ke Jogja dan Masih Saja Merana<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini <\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jogja dan Semarang, dua daerah yang tidak begitu jauh dan cukup mirip, namun ada perbedaan-perbedaan yang membuat orang tetap perlu adaptasi. <\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":325079,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,4652],"class_list":["post-325063","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-semarang"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/325063","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=325063"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/325063\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/325079"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=325063"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=325063"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=325063"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}