{"id":324990,"date":"2025-03-30T16:29:11","date_gmt":"2025-03-30T09:29:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=324990"},"modified":"2025-05-19T14:53:24","modified_gmt":"2025-05-19T07:53:24","slug":"linkedin-bukan-tempat-untuk-pamer-3-hal-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/linkedin-bukan-tempat-untuk-pamer-3-hal-ini\/","title":{"rendered":"3 Hal yang Sebaiknya Jangan Diunggah di LinkedIn kalau Tidak Ingin Menyesal"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">LinkedIn itu media sosial yang unik, berbeda dengan yang lain.. Kalau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/twitter-tempat-orang-berlomba-menjadi-jahat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Twitter (X)<\/a> tempatnya sarkasme dan abang-abangan filsuf, Instagram buat pamer liburan, dan Facebook jadi arena debat bapak-bapak, maka LinkedIn ibarat ruang seminar profesional. Itu mengapa karakteristik kontennya cenderung kaku, penuh basa-basi, dan sesekali diselingi motivasi yang kelewat serius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di LinkedIn, orang-orang sibuk membangun personal branding. Foto profilnya necis, deskriposi bio penuh kata-kata keren kayak <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Passionate about digital transformation&#8221;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Committed to lifelong learning&#8221;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Setiap orang seolah berlomba-lomba terlihat paling sukses, paling sibuk, dan paling visioner. Padahal, ya belum tentu juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, di tengah kesan serius itu, selalu ada yang nyeleneh. Ada yang curhat masalah pribadi, pamer <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">p<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/25-istilah-gim-yang-sering-ditemui-saat-kalian-push-rank\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ush rank<\/a><\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><em>,<\/em> atau lebih parah lagi\u2014posting hal-hal yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan dunia kerja. Kalau merasa LinkedIn kalian isinya makin absurd, mungkin ini yang tepat untuk membahas hal-hal yang sebaiknya nggak usah diposting di LinkedIn.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Membagikan hasil main game, push rank<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah lautan profesional yang sibuk membangun personal branding, tiba-tiba muncul satu unggahan yang nyeleneh: hasil mabar. Lagi scroll LinkedIn, lihat orang-orang membagikan pencapaian karier, strategi bisnis, atau tren industri terbaru, eh, ada yang bangga pamer Mythical Glory di Mobile Legends atau Radiant di Valorant. Lengkap dengan caption ala motivasi, &#8220;Dari Epic ke Legend butuh perjuangan, sama seperti naik jabatan di kantor.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai hiburan, ini memang lucu. Tapi kalau bicara relevansi? Rasanya kecil kemungkinan ada HRD yang tiba-tiba bilang, &#8220;Kami mencari manajer proyek yang bisa clutch 1v5 di CS:GO.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin maksudnya ingin menunjukkan bahwa kerja keras dan ketekunan dalam grinding bisa diterapkan dalam dunia profesional. Tapi, kalau caption-nya berbunyi, &#8220;Dari Epic ke Legend butuh perjuangan, sama seperti naik jabatan di kantor,&#8221; jujur saja, reaksi yang muncul kemungkinan besar antara ngakak atau cringe maksimal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berarti gaming itu nggak ada nilainya. Banyak keterampilan dalam dunia gim yang bisa diasah untuk kehidupan profesional\u2014mulai dari teamwork, strategi, problem solving, sampai manajemen emosi. Tapi, kalau pencapaiannya sekadar naik rank atau win streak, rasanya lebih cocok dibagikan di grup komunitas atau <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Discord\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Discord<\/a> ya, bukan di LinkedIn.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pamer hasil mancing ikan di LinkedIn<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di antara unggahan soal pencapaian karier, tips membangun networking, dan analisis tren industri, tiba-tiba muncul satu postingan dengan foto seseorang memegang ikan hasil tangkapannya. Caption-nya? \u201cKesabaran dalam mancing sama seperti kesabaran dalam mencapai kesuksesan di dunia kerja.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, memang, kesabaran adalah keterampilan yang penting dalam dunia profesional. Tapi, apakah ini relevan dengan audiens LinkedIn? Kecuali kalau seseorang adalah nelayan profesional, pengusaha di industri perikanan, atau ahli marine conservation, unggahan seperti ini lebih cocok masuk ke grup hobi atau forum pecinta mancing, bukan di platform yang isinya para profesional sedang berbagi wawasan soal karier dan bisnis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin maksudnya ingin membangun analogi antara kesabaran saat menunggu ikan dengan kesabaran dalam mengejar karier. Tapi kalau ujung-ujungnya cuma pamer hasil mancing tanpa konteks yang jelas, rasanya lebih pas di Instagram dengan filter estetik, bukan di LinkedIn yang (seharusnya) profesional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi kalau unggahannya dilengkapi dengan kalimat dramatis seperti, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup itu seperti memancing. Kadang dapat ikan besar, kadang cuma angin doang.<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Inspiratif? Bisa jadi. Tapi audiens LinkedIn yang sehari-hari sibuk membaca laporan industri atau update kebijakan ekonomi mungkin akan lebih memilih scroll ke bawah daripada merenungi filosofi mancing di sela pekerjaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama seperti postingan hasil push rank, unggahan semacam ini bisa bikin orang bertanya-tanya: Ini serius atau cuma sekadar iseng? Bukannya menambah kredibilitas, malah berpotensi bikin audiens LinkedIn kehilangan minat buat lanjut membaca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecuali kalau bisa mengaitkannya dengan wawasan industri, keterampilan yang bermanfaat di dunia kerja, atau bahkan peluang bisnis di bidang perikanan. Unggahan seperti ini justru bisa jadi lebih menarik dan relevan. Misalnya, cerita tentang bagaimana komunitas <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/orang-kaya-bikin-sengsara-nelayan-kenjeran-surabaya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nelayan<\/a> lokal beradaptasi dengan teknologi, atau bagaimana manajemen rantai pasok di industri perikanan bisa meningkatkan kesejahteraan pekerja.<\/span><\/p>\n<h2><b>Curhat masalah pribadi\u00a0<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">LinkedIn memang tempatnya membangun personal branding, tapi bukan berarti harus benar-benar personal sampai-sampai isinya jadi ajang curhat masalah hidup. Entah itu tentang pasangan yang selingkuh, konflik keluarga, atau drama pertemanan, unggahan seperti ini sering bikin orang bertanya-tanya: ini LinkedIn atau thread Twitter (X)?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau curhatannya seputar pengalaman di dunia kerja\u2014misalnya dilema resign, atasan toxic, atau cerita perjuangan mendapatkan pekerjaan\u2014masih masuk akal. Tapi, kalau isinya galau karena ditinggal nikah atau merasa hidup penuh penderitaan tanpa konteks yang relevan dengan dunia profesional, mungkin sebaiknya dipikir ulang sebelum diposting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan berarti LinkedIn harus selalu serius. Tapi, kalau mau berbagi cerita pribadi, setidaknya pastikan ada insight baru yang bisa diambil audiens. Kalau cuma sekadar meluapkan emosi, lebih baik simpan untuk notes di ponsel atau cerita ke sahabat dekat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, bukannya saya menggurui atau mendoseni, sebelum posting di LinkedIn, alangkah baiknya, coba tanya diri sendiri: Apakah ini relevan? Apakah ini bikin orang mikir atau malah bikin mereka mikir, &#8220;Ini orang ngapain sih?&#8221; Kalau lebih ke opsi kedua, mungkin lebih baik disimpan di draf atau dikirim ke <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-siasat-bertahan-di-grup-whatsapp-keluarga-besar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">grup WA keluarga saja<\/a>. Ingat, LinkedIn itu tempatnya profesional membangun karier, bukan tempat buat pamer ikan, curhat galau, atau nyari tim mabar. Kalau tetap nekat? Ya &#8230; siap-siap aja jadi contoh di tulisan ini edisi berikutnya, hehehe.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Raihan Muhammad<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Editor: Kenia Intan<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pns-pekerjaan-paling-overrated-aslinya-tidak-seistimewa-itu\/\"><b>PNS Pekerjaan Paling Overrated, Sebuah Peringatan Sebelum Kalian Kecewa<\/b><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>LinkedIn, media sosial yang jauh berbeda dari Twitter atau X dan Instagram. Itu mengapa perlu lebih hati-hati ketika mengunggah sesuatu. <\/p>\n","protected":false},"author":2215,"featured_media":325138,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12911],"tags":[1478,102,72],"class_list":["post-324990","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-loker","tag-linkedin","tag-media-sosial","tag-pekerjaan"],"modified_by":"Kenia Intan","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/324990","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2215"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=324990"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/324990\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/325138"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=324990"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=324990"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=324990"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}