{"id":323698,"date":"2025-03-17T12:23:39","date_gmt":"2025-03-17T05:23:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=323698"},"modified":"2025-03-17T12:23:39","modified_gmt":"2025-03-17T05:23:39","slug":"di-jakarta-semua-orang-wajib-jadi-pejuang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-jakarta-semua-orang-wajib-jadi-pejuang\/","title":{"rendered":"Di Jakarta, Semua Orang Wajib Jadi Pejuang: Jika Tak Kuat jadi Pejuang Commuter, Mesti Siap Jadi Pejuang Loker"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katanya, pencari nafkah di Jakarta adalah orang-orang yang kuat. Membayangkan perjuangannya aja bikin stres, kalau kata warga daerah lain. Sebagai yang menjalaninya sehari-hari, sebetulnya saya nggak terlalu ambil pusing sama hal tersebut. Yaa, saya hanya jalani aja hari demi hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi setelah membaca<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tidak-kerja-di-jakarta-bikin-saya-bersyukur-sekaligus-menaruh-hormat\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">tulisan Mas Rizky Prasetya<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang bekerja di Jogja mengenai pandangannya terhadap pekerja Ibu Kota, saya jadi agak kontemplatif dikit. Saya merenungkan karier saya yang sejak lulus kuliah memang hanya di Jakarta saja. Tapi daripada itu, saya malah lebih teringat dengan kisah teman SMA saya, Alya. Soalnya, Alya punya kisah kehidupan kerja yang cukup merangkum dua jenis perjuangan angkatan pekerja Ibu Kota saat ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah ini mencuri perhatian saya sejak hari ketika saya bertemu Alya di nikahan kawan kami. Alya berceletuk, &#8220;untung acaranya Minggu, gue jadi bisa dateng!&#8221;\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ucapannya bikin saya heran. Soalnya setahu saya, Alya itu pengangguran yang mestinya nggak ada masalah sama jadwal.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Pejuang loker nyaris 2 tahun<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kawanku Alya adalah sarjana gizi lulusan sebuah universitas negeri di Jawa Timur. Namun sejak lulus, dia belum berkesempatan untuk menerapkan ilmu kuliahannya dengan benar. Pekerjaan terakhir Alya, yang cukup singkat, adalah menjadi sosmed specialist di kantor konsultan CSR. Lepas dari kerjaan itu hingga tak lama sebelum pertemuan kami di kondangan di Jakarta, Alya sudah menganggur nyaris dua tahun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mengikuti keseharian Alya selama menganggur di Instagram story second account-nya. Salah satu yang paling saya ingat, Alya pernah ngeshare perihal NEET dan betapa dia merasa menjadi perwujudan label itu. NEET adalah singkatan Not in Education, Employment, or Training. Intinya, manusia gabut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hampir tiap hari Instagram story Alya aktif. Isinya adalah segala ups and downs (kebanyakan downs) yang dia rasakan sebagai pengangguran. Sesekali saya lihat Alya main keluar, hiking dengan teman, atau menghadiri event di Jakarta. Bagus, saya membatin. Alya mengusahakan agar waktunya tetap terpakai secara positif. Saya senang Alya nggak melulu hanyut dalam pusaran negatif label \u201cpengangguran\u201d.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pejuang commuter minimal 2 jam sekali jalan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah hampir dua tahun menjadi pejuang loker, kini Alya sudah dapat kerja di klinik. Alhamdulillah, ilmu bidang kesehatannya sudah mulai bisa dipakai. Tapi di kondangan ketika teman-teman mengucapkan selamat, raut wajah Alya seperti nggak plong gitu bersyukurnya. Jadi ternyata, perjuangan dia belum selesai. Hanya berubah varian saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kerjaan barunya, Alya mesti masuk 6 hari dalam sepekan, menghabiskan waktu di jalan untuk berangkat selama 2 jam, dan pulang pun minimal 2 jam perjalanan. Alya memulai commuting dari rumahnya di Ragunan Jakarta pukul 6 pagi dan sampai di kliniknya di daerah Serpong hampir pukul 9. Moda yang ia gunakan adalah ojek dan KRL.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jam pulang kantor Alya adalah pukul 5 sore. Normal memang, kalau hari kerjanya hanya Senin sampai Jumat. Tapi mengingat Alya mesti masuk sampai Sabtu, jam kerja mingguannya jadi kebanyakan, bro.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh iya, baru inget. Bahkan menurut<\/span><a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/nasional\/20241101063654-12-1161789\/mk-libur-1-untuk-6-hari-kerja-bertentangan-dengan-uud\"> <span style=\"font-weight: 400;\">putusan MK<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> terbaru mengenai uji materi UU Ciptaker, mewajibkan kerja 6 hari dalam sepekan aja udah salah, bro.<\/span><\/p>\n<h2><b>Mesti kuat di Jakarta, nggak boleh ngeluh<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan pemikiran ingin mendemo tempat kerjanya tapi juga nggak mau kehilangan pekerjaannya, Alya baru sampai rumah menjelang pukul 8 malam. Pantas saja Alya nggak pernah posting Instagram story lagi. Mau nafas aja dia nyaris nggak ada waktu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya, pekerjaan Alya yang telah dinanti-nanti ini malah bikin dia jadi tercerabut dari kehidupan sosialnya. Apa itu work life balance? Mau main di hari Minggu terlanjur capek. Tapi kalau nggak main kok rasanya no life banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Heh, jangan ngeluh! Dari kemaren kan lu doa terus minta kerjaan. Sekarang udah dikasih kerjaan nih, yang bener-bener mesti kerja keras. Harus bersyukur dong!&#8221; tukas seorang kawan yang turut menyimak ceritanya Alya di kondangan waktu itu.<\/span><\/p>\n<h2><b>Semua wajib jadi pejuang di Jakarta<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, begitulah gambaran lika-liku perjuangan pekerja di Jakarta. Mau nggak mau, memang mesti jadi pejuang. Antara jadi pejuang loker atau pejuang commuter. Just choose your fight.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya dan Alya yang memang berasal dari Jakarta, selalu ada safety net jika terjebak dalam opsi pertama. Serta kesempatan untuk banting setir dengan lebih minim resiko jika nggak kuat menjalani opsi kedua. Jadi kalau ngomongin kuat-kuatan nih, sesungguhnya para perantau yang berjuang di Jakarta lah yang lebih kuat. Respect abangku!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Karina Londy<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/ragam\/susahnya-cari-kerja-di-jakarta-250-lamaran-ditolak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Beratnya Cari Kerja di Jakarta: 250 Lamaran Ditolak, Tapi Malu Pulang ke Kampung Karena Adik-Adiknya Sudah Sukses<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di Jakarta, kelemahan tidak dimaafkan. Mau nggak mau, memang mesti jadi pejuang. Antara jadi pejuang loker atau pejuang commuter.<\/p>\n","protected":false},"author":2852,"featured_media":322158,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"format":"standard","override":[{"template":"1","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"float","share_float_style":"share-normal","show_share_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","post_reading_time_wpm":"300","post_calculate_word_method":"str_word_count","show_zoom_button":"1","zoom_button_out_step":"3","zoom_button_in_step":"4","show_post_tag":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"3","show_author_box":"1","show_post_related":"1"}],"image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"no-crop","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post_label":"Sponsored by","disable_ad":"0","subtitle":""},"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":{"view_counter_number":"0","share_counter_number":"0","like_counter_number":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[529,25684],"class_list":["post-323698","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jakarta","tag-kerja-di-jakarta"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/323698","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2852"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=323698"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/323698\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/322158"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=323698"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=323698"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=323698"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}